KETIK, JAKARTA – Perang yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memasuki hari kedelapan, 8 Maret 2026. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerbitkan pesan di platform media sosial Truth Social, yang berisi klaim kondisi Iran saat ini telah melemah. Kantor Berita yang berbasis di Iran, West Asia News Agency (WANA), menyebut pernyataan Trump tersebut hanya klaim sepihak dan dilebih-lebihkan.
Dalam laporan itu, WANA menyoroti ungkapan Trump yang mengklaim bahwa Iran telah "terpukul parah" setelah serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel. Trump juga menyebut Iran telah meminta maaf kepada negara-negara tetangga di Timur Tengah.
Presiden AS ke 45 dan 47 itu juga menuduh bahwa Teheran telah berjanji tidak lagi meluncurkan rudal ke arah negara-negara di kawasan tersebut—janji yang, menurutnya, dibuat semata-mata karena "serangan tanpa henti oleh Amerika Serikat dan Israel."
Namun, apa yang digambarkan Trump sebagai "permintaan maaf" atau "penyerahan diri" Iran sebenarnya merujuk pada pernyataan baru-baru ini oleh Masoud Pezeshkian, Presiden Iran.
Warga Iran berkumpul di Teheran melaksanakan Salat Jumat dan menyerukan anti AS dan Israel, 6 Maret 2026. (Foto: Majid Asgaripour/WANA)
Dalam pesan yang dikeluarkan pada 7 Maret 2026, Presiden Iran menekankan pihaknya memang menekankan de-eskalasi di kawasan tersebut. “Kami tidak berniat melakukan agresi terhadap negara-negara tetangga. Seperti yang telah saya katakan berkali-kali, mereka adalah saudara kita, dan di kawasan ini kita harus bekerja sama untuk perdamaian dan stabilitas,” jelas Masoud Pezeshkian dilansir WANA.
Pezeshkian juga menjelaskan, berdasarkan keputusan dewan kepemimpinan sementara dan komunikasinya kepada angkatan bersenjata, Iran tidak akan melanjutkan serangan rudal ke negara-negara tetangga selama tidak ada serangan terhadap Iran yang diluncurkan dari wilayah mereka.
Ini adalah posisi yang dipertahankan Iran sejak awal perang, dan bahkan sebelumnya mereka melakukan tindakan itu hanya sebagai tanggapan terhadap ancaman yang telah berulang berkali-kali.
Trump Ancam Warga Sipil Iran
Namun demikian, Trump kemudian membuat klaim yang lebih keras, menulis bahwa Iran bukan lagi kekuatan dominan di Timur Tengah tetapi pihak yang kalah di kawasan tersebut, dan bahwa Iran dapat tetap dalam kondisi seperti itu selama beberapa dekade.
Namun, bagian yang paling kontroversial dari pesannya muncul ketika ia berbicara langsung tentang perluasan daftar target. Trump memperingatkan bahwa “Hari ini Iran akan dihantam dengan sangat keras,” menambahkan bahwa daerah dan kelompok orang yang sebelumnya tidak termasuk dalam target militer kini “sedang dipertimbangkan secara serius untuk dihancurkan sepenuhnya dan dipastikan akan dibunuh.”
Pernyataan seperti itu dapat diinterpretasikan sebagai ancaman langsung terhadap target sipil—suatu isu yang, jika terwujud, dapat secara signifikan memperparah dimensi kemanusiaan perang tersebut.
Ancaman eksplisit terhadap wilayah sipil ini, pada saat serangan udara dan rudal terus berlanjut di berbagai bagian Iran dan ketegangan tetap tinggi di seluruh wilayah, secara luas dianggap melanggar garis merah hukum internasional. (*)
