Dari Kegemaran Menjadi Penghidupan: Kisah Khusna Merajut Boneka dan Harapan dari Desa Sumbergedang

28 Januari 2026 11:20 28 Jan 2026 11:20

Thumbnail Dari Kegemaran Menjadi Penghidupan: Kisah Khusna Merajut Boneka dan Harapan dari Desa Sumbergedang

Aktivitas menjahit boneka di UMKM milik Wijayanti Khusna yang beralamat di Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. (Foto: Humas Pemkab Pasuruan)

KETIK, PASURUAN – Di antara suara mesin jahit dan tumpukan kain berwarna lembut, waktu seolah berhenti sejenak di sebuah sudut Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Di ruang sederhana itulah Wijayanti Khusna menenun mimpi—bukan dengan benang, melainkan melalui boneka-boneka yang lahir dari kegemaran lama dan ketekunan bertahun-tahun.

Bagi Khusna, boneka bukan sekadar mainan. Ia adalah kenangan masa kecil, kehangatan rumah, dan ikatan dengan sang ibu yang sama-sama menyukai benda-benda lucu penuh ekspresi. Dari kegemaran yang tumbuh alami itu, Khusna memberanikan diri melangkah lebih jauh: membuat boneka sendiri, lalu menjadikannya usaha.

“Sejak dulu saya memang suka boneka, apalagi ibu saya. Dari situ muncul keberanian untuk membuat boneka sendiri dengan niat untuk dijual,” ujar Khusna, seperti dikutip dari laman Pemkab Pasuruan pada Rabu, 28 Januari 2026.

Langkah awal usaha itu tidak langsung besar. Ia memulai dari mencoba berbagai bahan, mengasah keterampilan menjahit, hingga menemukan karakter boneka yang ingin ia hadirkan. Prinsip Khusna sederhana, tetapi tegas: boneka harus enak dipandang, nyaman disentuh, dan cukup kuat untuk bertahan lama. Kualitas menjadi pegangan utama yang terus ia jaga selama sepuluh tahun menjalani usaha ini.

Perjalanan tersebut tak luput dari ujian. Pandemi Covid-19 menjadi salah satu masa paling sulit. Distribusi terhambat, pengiriman tersendat, dan pesanan menurun drastis. Di tengah ketidakpastian, Khusna hanya bisa bertahan sambil berharap situasi segera membaik.

“Saat pandemi, usaha langsung turun karena tidak bisa mengirim boneka ke mana-mana,” katanya.

Waktu berjalan, dan perlahan keadaan berubah. Aktivitas kembali menggeliat, pesanan mulai berdatangan, dan Khusna pun kembali memacu produksinya. Saat ini, ia mampu menghadirkan lebih dari 30 jenis boneka dengan ukuran beragam, mulai dari boneka kecil hingga boneka giant setinggi 1,5 meter. Di antara semua varian itu, boneka berbentuk beruang menjadi primadona, sementara desain lain terus ia sesuaikan dengan tren dan selera pasar.

Dari sisi harga, boneka buatan Khusna tergolong ramah di kantong, berkisar antara Rp10.000 hingga Rp350.000 per unit. Jangkauan pemasarannya pun semakin luas. Tidak hanya beredar di Pasuruan dan sekitarnya, boneka-boneka tersebut telah menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur, hingga Banyuwangi.

Bagi Khusna, setiap boneka yang terjual bukan sekadar angka. Di balik jahitan rapi dan bahan lembutnya, tersimpan cerita tentang kesabaran, keberanian, dan konsistensi. Ia percaya, hobi yang dijalani dengan sungguh-sungguh dapat tumbuh menjadi usaha yang memberi makna dan mengangkat taraf hidup.

Di Desa Sumbergedang, boneka-boneka itu menjadi saksi bahwa mimpi tidak selalu lahir dari rencana besar. Kadang, ia berawal dari kegemaran sederhana yang dirawat perlahan, hingga akhirnya menjelma menjadi penghidupan. Kadang, ia tumbuh diam-diam dari sesuatu yang disukai sejak kecil, lalu berkembang melalui kesabaran dan keyakinan untuk terus melangkah. (*)

Tombol Google News

Tags:

Desa Sumbergedang Kecamatan Pandaan Kabupaten Pasuruan pabrik boneka UMKM Wijayanti Khusna