KETIK, PACITAN – Di penghujung bulan Ramadan 1447 Hijriah, suasana di rumah produksi Aulia Zahrotul Ilmi (23), di Dusun Mendole, Sirnoboyo, Pacitan begitu sibuk.
Bukan tanpa sebab, Aulia tengah memproduksi ratusan toples kue kering yang dipesan pelanggan menjelang Hari Raya Idulfitri.
Sejak tiga tahun lalu, usaha kue kering rumahan ini menjadi pilihan Aulia untuk memanfaatkan momentum Lebaran sebagai peluang bisnis.
Saat ditemui Ketik.com di rumah produksinya, Sabtu, 14 Maret 2026, Aulia terlihat sibuk menyusun kue-kue kering dengan rapi di toples, siap untuk dikirimkan kepada pelanggan setianya.
“Pesanan biasanya datang dari kerabat dan juga masyarakat sekitar. Karena momentum Lebaran memang banyak yang mencari kue untuk suguhan di rumah,” ujar Aulia sambil memeriksa kualitas kue nastar yang baru saja dipanggang.
Usaha ini telah berjalan selama tiga tahun dan semakin berkembang seiring meningkatnya permintaan setiap tahun.
Menurut Aulia, produksi kue kering dimulai pada pertengahan hingga akhir bulan puasa, ketika permintaan kue mulai melonjak, terutama menjelang beberapa hari terakhir Ramadan.
Satu toples Nastar buatan Aulia yang siap menghiasi meja di momen Idulfitri. (Foto: Al Ahmadi/Ketik.com)
“Ini sudah berjalan sekitar tiga tahun setiap bulan puasa. Proses produksinya biasanya dimulai mendekati Lebaran. Memang biasanya pesanan akan terus mengalir, mulai dari 100 hingga 300 toples dalam sehari pada puncak permintaan,” jelasnya sambil memperlihatkan proses pembuatan kue putri salju yang sedang dalam tahap pendinginan.
Tak hanya dipesan oleh kerabat dekat, pelanggan setia Aulia juga datang dari masyarakat sekitar yang sudah mengetahui kualitas kue kering buatannya.
Dalam sekali produksi, Aulia dapat meraup omzet sekitar Rp700 ribu, kadang lebih, dengan jumlah toples yang diproduksi sekitar 10 toples.
“Untuk bulan Ramadan seperti sekarang, omzet saya bisa mencapai sekitar Rp700 ribu setiap kali produksi, kadang lebih. Puncak permintaan biasanya saat minggu terakhir Ramadan, di mana banyak yang memesan untuk suguhan Lebaran,” ungkapnya dengan senyum bahagia.
Aulia juga menjelaskan bahwa menjaga kualitas kue adalah kunci kesuksesannya.
Ia memproduksi kue secara bertahap dan memastikan rasa serta tampilan kue tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen.
Ia menawarkan berbagai jenis kue kering, seperti nastar, kastengel, dan putri salju, dengan harga yang terjangkau.
“Harga setiap toples kue kering mulai dari Rp65 ribu, tergantung jenis kue yang dipesan. Saya berharap usaha ini terus berjalan dan semakin banyak yang memesan,” tambah Aulia, berharap usahanya semakin berkembang dan bisa memperluas jangkauan ke pasar yang lebih besar.
Di sela-sela kesibukannya, Aulia berbagi cerita bahwa dia berencana mengembangkan usaha ini, salah satunya dengan menambah varian kue dan membuka outlet kecil di sekitar tempat tinggalnya.(*)
