KETIK, MALANG – Tidak banyak yang sanggup menjaga api pengabdian tetap menyala selama tiga dekade tanpa jeda. Namun, Rima Yanti dan Supandri membuktikan bahwa konsistensi adalah kasta tertinggi dalam profesi guru.
Dalam suasana khidmat upacara Hari Amal Bhakti (HAB) ke-80 Kemenag RI di Malang, Sabtu, 3 Januari 2026, sorot mata ratusan ASN tertuju pada dua sosok pendidik asal MTsN 1 Kota Malang ini.
Langkah mereka menuju panggung penganugerahan Satyalancana Karya Satya XXX menjadi pengingat bagi siapa saja bahwa pengabdian tulus tak akan pernah luput dari pandangan negara.
Lencana emas yang kini tersemat di seragam mereka bukan sekadar hiasan seremonial, melainkan simbol atas napas panjang dedikasi yang bertahan melewati berbagai rezim kurikulum dan dinamika zaman.
Kepala MTsN 1 Kota Malang, Erni Qomaria Rida mengungkap rahasia di siswa yang bertaburan prestasi. (Foto: Lutfia/Ketik.com)
Pencapaian luar biasa ini disambut hangat oleh Kepala MTsN 1 Kota Malang, Dra. Erni Qomaria Rida, M.Pd. Menurutnya, penganugerahan ini adalah pengakuan atas integritas yang terjaga selama 30 tahun penuh.
"Saya merasa sangat bangga dan apresiasi atas capaian dua guru MTsN 1 Kota Malang yang dianugerahi Satyalancana Karya Satya 30 Tahun. Penghargaan ini bukan sekadar simbol masa pengabdian, tetapi merupakan pengakuan negara atas dedikasi, integritas, dan konsistensi dalam menjalankan tugas sebagai pendidik selama tiga dekade penuh," ungkap Erni Qomaria Rida, Rabu, 7 Januari 2026.
Ia menambahkan bahwa penganugerahan ini memiliki makna strategis bagi institusi. Selain menguatkan reputasi madrasah sebagai lembaga yang menjunjung tinggi profesionalisme, hal ini juga mempertegas kredibilitas publik bahwa MTsN 1 Kota Malang kaya akan sumber daya pendidik yang berintegritas tinggi, tidak hanya unggul di bidang akademik semata.
"Dua pendidik ini adalah teladan nyata nilai ketekunan, loyalitas, dan keteladanan karakter, yang selama ini menjadi ruh dalam budaya kerja madrasah. Penganugerahan ini juga menjadi penguat moral bahwa dedikasi jangka panjang dalam dunia pendidikan memiliki arti yang sangat mulia," tambahnya.
Bagi para penerimanya, lencana emas ini memicu perenungan mendalam. Rima Yanti, guru Bahasa Indonesia yang telah melewati ribuan jam tatap muka, melihat masa 30 tahun sebagai perjalanan penuh keberkahan.
Ia menegaskan bahwa Satyalancana ini adalah bukti konkret bahwa komitmen yang dijaga dengan kesadaran penuh akan membuahkan penghormatan yang layak. Baginya, ini bukan garis finis, melainkan penyemangat untuk terus mendidik dengan hati yang sehat.
Nada serupa terpancar dari Drs. Supandri. Guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga yang dikenal disiplin ini justru memandang lencana tersebut sebagai "alarm" tanggung jawab moral. Ia merasa memiliki amanah baru untuk terus menjaga profesionalisme di tengah tantangan pendidikan yang kian kompleks. Bagi Supandri, setiap tindakan guru adalah teladan bagi generasi masa depan.
Di tengah disrupsi teknologi dan perubahan kebijakan yang cepat, sosok Rima dan Supandri hadir sebagai pilar yang tak tergoyahkan. Keberhasilan mereka bertahan tanpa cela selama tiga dekade menjadi standar baru bagi para pendidik muda di lingkungan madrasah.
Dra. Erni Qomaria Rida berharap prestasi ini menular kepada generasi guru selanjutnya. "Semoga pencapaian ini menjadi inspirasi dan motivasi bersama, khususnya bagi para pendidik muda, bahwa profesi guru adalah jalan pengabdian jangka panjang yang penuh makna," pesannya.
Ia menegaskan bahwa MTsN 1 Kota Malang akan terus berkomitmen menumbuhkan budaya kerja yang berkarakter dan berkelanjutan.
Dengan sumber daya pendidik yang teruji oleh waktu, madrasah ini optimistis dapat terus melahirkan generasi unggul yang tidak hanya berprestasi secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia yang berakar pada keteladanan para gurunya. (*)
