KETIK, SURABAYA – Sejak 2004, Nasi Gila racikan Depot Mbah Di menjadi pilihan utama mahasiswa di kawasan Rungkut. Berawal dari resep asli Cina yang diberikan seorang rekan pedagang kepada pemiliknya, hidangan bercita rasa gurih ini memadukan tumisan telur dan potongan sosis dengan bumbu rahasia yang khas.
Berlokasi di Jalan Raya Medokan Sawah No. 89, Surabaya, sepiring Nasi Gila seharga Rp12.000 tersebut tetap mempertahankan konsistensi rasa di tengah persaingan kuliner yang kian menjamur di Rungkut.
Kisah di balik populernya Nasi Gila ini bermula saat sang pemilik, Suyadi, masih berjualan nasi goreng biasa di kawasan Citraland. Di sana, ia bertetangga dengan seorang pedagang Nasi Gila asal Menteng yang dagangannya selalu ramai diserbu pembeli.
Dari hubungan pertemanan itulah, Suyadi mendapatkan amanah berupa resep rahasia yang disebut sebagai resep asli dari Cina.
"Dulu saya diberi resep langsung oleh penjual di sebelah saya itu. Katanya, ini adalah resep asli dari Cina," ujar Suyadi saat mengenang awal mula terciptanya menu andalan tersebut.
Berbekal resep itu, ia kemudian memindahkan usahanya ke wilayah Medokan Sawah, Rungkut, dan mulai memperkenalkan Nasi Gila racikannya hingga dikenal luas sejak 2004.
Tampilan seporsi Nasi Gila legendaris Depot Mbah Di di kawasan Rungkut, Surabaya, pada Rabu 11 Februari 2026 (Foto: Paulenta Silvania Silitonga/ketik.com)
Seiring waktu, Nasi Gila tersebut menjadi primadona di kalangan mahasiswa, terutama karena cita rasanya yang konsisten.
Sesuai namanya, banyak pelanggan menyebut rasanya benar-benar “gila” berkat perpaduan gurih tumisan telur, potongan sosis, dan bumbu khas yang meresap. Porsinya pun dinilai pas dan mengenyangkan dengan harga yang tetap ramah di kantong.
Lidia Uli Sari Sitorus, salah satu pembeli setia, mengaku selalu puas setiap kali menyantap hidangan tersebut. Menurutnya, Nasi Gila racikan Mbah Di tidak hanya lezat, tetapi juga disajikan dalam porsi melimpah dengan harga terjangkau.
Dengan harga Rp12.000 per porsi, mahasiswa sudah bisa menikmati sajian besar yang mengenyangkan. Faktor inilah yang membuatnya tetap diminati di tengah menjamurnya berbagai pilihan kuliner di wilayah Rungkut.
Lokasinya yang berada tak jauh dari kampus UPN “Veteran” Jawa Timur juga menjadikan menu ini sebagai langganan tetap mahasiswa lintas angkatan.
Menemukan lokasinya pun cukup mudah. Dari gerbang utama Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur (UPNVJT), pengunjung dapat berkendara lurus mengikuti arah perumahan Wiguna hingga menemukan perempatan pertama yang ditandai dengan keberadaan Bakso Cak Mad atau gerai Indomaret.
Saat tiba di perempatan tersebut, tepat di titik Indomaret, pengunjung dapat berbelok ke kiri jika datang dari arah UPN. Sekitar 20 meter setelah berbelok, toko berada di sisi kanan jalan dengan banner kuning mencolok serta plang nama “Depot Mbah Di” yang terpasang jelas di depannya.
Setiap hari, warung ini mulai buka pukul 17.00 WIB dan akan tutup setelah seluruh porsi Nasi Gila ludes diserbu pembeli.
Tak hanya mempertahankan cita rasa, penjual juga menyesuaikan diri dengan kebutuhan pelanggan masa kini. Hal ini diakui oleh M. Sulthon Naufal, salah satu pembeli yang merasa terbantu dengan fasilitas pembayaran yang tersedia.
"Selain makanannya enak dan murah, di sini juga sudah bisa bayar pakai QRIS atau Debit, jadi terasa lebih enak dan simpel untuk kami yang jarang bawa uang tunai," ujarnya.
Hingga kini, Nasi Gila racikan Mbah Di tetap dipertahankan dengan cita rasa yang tidak berubah sejak pertama kali diperkenalkan di Rungkut.
Di tengah persaingan kuliner yang terus berkembang, sepiring Nasi Gila tersebut membuktikan bahwa resep yang dibagikan dengan tulus mampu bertahan melintasi waktu dan terus memanjakan lidah masyarakat Surabaya, khususnya mahasiswa yang mencari santapan hangat dan terjangkau.(*)
