KETIK, MALANG – Upaya menjadikan durian sebagai komoditas unggulan nasional mulai diseriusi kalangan akademisi.
Universitas Brawijaya (UB) melalui Fakultas Pertanian (FP) resmi meluncurkan Kelompok Kajian Durian (KKD) dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk KenDuren.
Langkah ini menjadi bagian dari visi Fakultas Pertanian UB sebagai Centre of Learn Agriculture yang terus mendorong inovasi di sektor pertanian strategis. Bukan sekadar diskusi, forum ini digadang-gadang sebagai pijakan awal menyusun peta jalan pengembangan durian Nusantara berbasis riset, teknologi, dan kolaborasi multipihak.
Kelompok Kajian Durian diresmikan langsung oleh Dekan FP UB, Prof Mangku Purnomo, PhD. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa durian Indonesia memiliki potensi besar, namun belum dikelola secara maksimal.
"Durian ini butuh dukungan salah satunya pengelolaan kelembagaan agar menjadi seperti komoditas sawit sehingga dapat mensejahterakan petani dan menjadi komoditas andalan nasional," kata Mangku, Jumat, 13 Februari 2026.
Menurutnya, tanpa sentuhan teknologi dan tata kelola kelembagaan yang kuat, durian sulit bersaing dan naik kelas menjadi komoditas strategis seperti sawit. Karena itu, ia mendukung penuh pembentukan KKD sebagai ruang kolaborasi.
"KenDuren ini diharapkan dapat menjadi wadah sinergi antara peneliti FP UB, pecinta durian, kelompok tani hingga pemegang kebijakan yakni pemerintah," lanjutnya.
Peresmian tersebut turut dihadiri para wakil dekan, Ketua Departemen Budidaya Dr.agr. Nunun Barunawati, SP.MP, perwakilan peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asosiasi Kebun Durian Indonesia (ASKINDO), akademisi dari Universitas Negeri Semarang dan Politeknik Negeri Jember, petani durian unggul, pecinta durian, hingga mahasiswa.
Dalam sesi FGD, Affandi dari Pusat Hortikultura BRIN menyoroti pentingnya eksplorasi genetik dalam pengembangan durian nasional. Ia menilai jumlah peneliti yang fokus pada durian masih belum sebanding dengan kekayaan varietas yang dimiliki Indonesia.
Senada dengan itu, Dr. Ir. Mohammad Reza Tirtawinata dari Yayasan Durian Nusantara memaparkan bahwa Indonesia merupakan pemilik genotip durian terbesar di dunia. Potensi ini dinilai belum sepenuhnya dimanfaatkan secara ilmiah dan terstruktur.
Reza juga mengungkapkan fakta menarik bahwa 80 persen pengembang durian saat ini bukan berasal dari alumni fakultas pertanian. Hal tersebut, menurutnya, menjadi catatan penting bagi dunia akademik agar lebih adaptif terhadap kebutuhan lapangan.
FGD KenDuren dibagi dalam beberapa sesi tematik. Sesi kedua membahas peluang agrowisata durian, kesesuaian agroklimat, hingga pengolahan pasca panen menjadi produk turunan bernilai tambah.
Isu pasca panen dinilai krusial karena selama ini durian masih banyak dijual dalam bentuk segar. Padahal, diversifikasi produk olahan bisa memperluas pasar, termasuk peluang ekspor.
Dukungan terhadap pembentukan KKD juga datang dari Prof Dr Ir Didik Haryono, Dosen Departemen Budidaya Pertanian sekaligus Ketua Kajian Durian FP UB. Ia menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor agar riset durian berjalan sesuai peta jalan yang matang.
Menurutnya, kolaborasi antara kampus, pengusaha, pemerintah, petani, dan asosiasi menjadi kunci agar penelitian tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar terimplementasi di lapangan.
Komitmen kolaborasi juga ditegaskan oleh Wakil Ketua ASKINDO, Ir. Thomas Haryanto Sumitaro. Ia menyatakan kesiapan asosiasi untuk membuka akses kebun anggota sebagai laboratorium lapangan bagi peneliti dan mahasiswa.
"ASKINDO menyambut dengan gembira kelompok kajian durian FP UB ini dan siap menyediakan kebun anggota sebagai lokasi riset," kata Thomas.
Langkah ini diharapkan mempercepat transfer teknologi dan inovasi dari kampus ke petani, sekaligus memperkuat basis data ilmiah durian Nusantara.
Melalui KenDuren, Fakultas Pertanian UB ingin menggeser paradigma bahwa durian bukan sekadar buah musiman dengan harga fantastis, melainkan komoditas strategis nasional yang memiliki daya saing global.
Jika pengelolaan genetik, agroklimat, pasca panen, hingga kelembagaan dapat terintegrasi, durian Indonesia berpotensi menjadi produk ekspor unggulan. Bahkan, Indonesia bisa menjadi rujukan riset durian dunia.
Peluncuran Kelompok Kajian Durian ini menjadi titik awal konsolidasi keilmuan dan praktik lapangan. Harapannya, durian Nusantara tak hanya harum di pasar lokal, tetapi juga mampu menguasai pasar internasional dengan basis riset yang kuat dan kolaborasi yang solid. (*)
