KETIK, SURABAYA – Pendakwah milenial Ustadz Hanan Attaki menyampaikan bahwa Ramadan adalah bulan rehat mental, tempat jiwa beristirahat setelah fisik dan pikiran lelah beraktivitas selama 11 bulan.
Ia juga menyebut Ramadhan sebagai momen “cari perhatian” terbaik kepada Allah, setelah selama ini manusia lebih banyak mencari perhatian sesama manusia.
“Ramadan itu break setelah setahun ada beban mental sehingga capek dan pikiran perlu istirahat. Kalau capek fisik bisa diatasi dengan tidur, rileks atau jalan-jalan, meski tidur di lantai, tapi kalau capek mental itu meski tidur di kasur pun masih bisa mengalami insomania,” ujarnya dalam Kajian Senja di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya (MAS), Rabu, 4 Februari 2026.
Dalam Kajian Senja yang diadakan Bank Indonesia (BI) dan dihadiri belasan ribu peserta yang mayoritas Generasi Z Islami (GenZI) serta Perwakilan Deputi BI Jatim, Rizqi Prihadi Cahyanto, dan Ketua BPP MAS DR KHM Sudjak MAg, Ustadz Hanan Attaki menjelaskan lelah secara mental itu lebih berat dibandingkan lelah secara fisik, karena itu perlu pemulihan mental.
“Apa hubungan Ramadan dengan kesehatan mental? Tujuan Ramadan itu belajar menjadi muttaqin (orang yang takwa) dan takwa itu kunci kesehatan mental dan jalan keluar dari setiap masalah,” katanya dalam kajian ‘Road to Ramadhan 1447 H’ itu.
Dalam kajian bertema ‘Menata Hati, Menjaga Diri, dan Bijak Mengelola Rezeki’ itu, Ustadz Hanan Attaki menjelaskan bahwa takwa menjadi kunci kesehatan mental dan jalan keluar (solusi) dari setiap masalah, karena takwa akan menjadikan seseorang menemukan “cara langit” yang lebih menyelesaikan daripada “cara bumi” yang justru sering menambah masalah baru.
“Ada banyak surat dan ayat dalam Al-Qur’an yang menunjukkan terapi kesehatan mental, termasuk Ramadan. Misalnya, QS Al-Muzammil yang turun saat Nabi sedang bersedih karena di-bully kaum jahilun atau jahiliyah atau toxid yang mengatai-ngatai Nabi sebagai laki-laki mandul, karena setiap anaknya yang laki-laki lahir selalu meninggal dunia saat masih kecil atau baru lahir, sehingga Allah meminta Nabi bersabar terhadap bully verbal dan sikapi dengan cuek. Allah meminta berlapang dada sebagaimana QS Ad-Dhuha,” ujarnya.
Terapi Al-Qur’an juga ada dalam QS Talaq. Talak itu, kata dia, artinya cerai tapi dalam surat tentang cerai itu justru ada ayat tentang takwa.
"Jadi, Al-Qur’an punya surat Talaq tapi tidak punya surat tentang pernikahan. Uniknya, dalam surat Talaq itu ada ayat takwa. Artinya isu rumah tangga itu termasuk isu rumit dan jalan keluarnya adalah takwa, apapun beban/problem,” tambahnya.
Dalam QS Talaq disebutkan lima solusi dari takwa yakni makhroja (rasa lapang dada setelah sempit), rezeki dari jalan tak terduga (rizqun min haitsu la yah tasib), kemudahan dalam urusan dunia (semakin caper kepada Allah akan semakin menerima kemudahan/ yusro), diberi maaf dalam setiap kesalahan, dan diberi pahala berlipat ganda karena sungguh-sungguh caper kepada Allah.
“Hakikat takwa itu sendiri adalah menahan atau mencegah dan puasa itu latihan mencegah atau menahan diri dari perbuatan dosa, sehingga nggak boleh makan karena puasa. Itu caper kepada Allah. Kalau caper kepada manusia itu menata tampang, viral, memiliki saldo atau kekayaan, dan sebagainya. Takwa juga berarti perbaiki urusan dengan manusia dengan Allah,” tuturnya. (*)
