Usai Liburan, Malas Mau Kerja Lagi? Bisa Jadi Kamu Kena Post-Holiday Blues

4 Januari 2026 12:01 4 Jan 2026 12:01

Thumbnail Usai Liburan, Malas Mau Kerja Lagi? Bisa Jadi Kamu Kena Post-Holiday Blues

Ilustrasi stres bekerja (Foto: Freepik)

KETIK, JAKARTA – Bagi banyak orang, minggu pertama Januari bukan hanya sekadar awal tahun, melainkan sebuah masa transisi yang sunyi.

Ada rasa hampa yang tiba-tiba muncul saat kita duduk kembali di depan meja kantor atau meja belajar.

Dalam dunia medis, kegelisahan ini sering disebut sebagai Post-Holiday Blues, sebuah kondisi di mana seseorang merasa sedih, cemas, dan kehilangan motivasi tepat setelah masa liburan usai.

Biasanya, kita akan menyalahkan diri sendiri atau hormon di otak atas rasa lesu ini.

Namun, jika kita melihat sekeliling, fenomena ini nyatanya dialami oleh ribuan, bahkan jutaan orang secara serentak.

Ketika sebuah perasaan dialami secara masif di waktu yang bersamaan, ini bukan lagi sekadar urusan psikologi individu namun berubah menjadi fenomena sosiologis.

Perspektif ini seiring dengan pemikiran sosiolog Émile Durkheim mengenai Collective Effervescence atau “kegembiraan kolektif”.

Menurutnya, manusia mencapai puncak energi sosialnya saat terlibat dalam ritual bersama, seperti perayaan Natal atau Tahun Baru.

Saat itulah kita merasa paling "hidup" karena terhubung secara emosional dengan komunitas.

Kesedihan pasca-liburan sebenarnya adalah protes bawah sadar kita terhadap struktur waktu modern.

Sosiologi waktu melihat masyarakat kapitalistik membagi waktu secara kaku: waktu untuk konsumsi (liburan) dan waktu untuk produksi (kerja).

Selama liburan, kita dirayakan sebagai "raja konsumsi" yang bebas.

Namun, tepat pada tanggal 2 Januari, otonomi diri kita dicabut dan dikembalikan menjadi "unit produksi" yang harus efisien.

Rasa sedih ini muncul bukan hanya karena liburannya usai, melainkan karena identitas kita kembali dikerdilkan menjadi sekadar angka dalam target produktivitas.

Di era digital, beban ini diperparah oleh "perbandingan sosial ke atas."

Melalui linimasa, kita terjebak kompetisi simbolis: siapa yang liburannya paling bermakna atau siapa yang resolusinya paling hebat.

Tekanan untuk tampil "baru" dan "sukses" di awal tahun menjadi beban berat bagi mereka yang sebenarnya hanya butuh waktu untuk mendarat kembali ke realita.

Maka, menghadapi Post-Holiday Blues tidak cukup dengan meditasi mandiri. Kita perlu menggugat budaya produktivitas kita.

Mengapa kita harus merasa bersalah jika tidak langsung "berlari" di minggu pertama Januari? Mengapa transisi dari istirahat ke kerja harus menjadi kejutan budaya yang traumatis?

Kita perlu membangun budaya "transisi yang manusiawi." Menormalisasi rasa lesu di awal tahun adalah langkah awal melawan narasi toxic productivity yang mengabaikan kesehatan mental kolektif. Manusia memiliki ritme, bukan mesin dengan tombol on/off instan.

Pada akhirnya, Post-Holiday Blues adalah pengingat bahwa kita adalah makhluk sosial yang merindukan koneksi, bukan sekadar sekrup dalam mesin ekonomi.

Tahun baru seharusnya bukan tentang seberapa cepat kita kembali bekerja, melainkan tentang seberapa manusiawi kita memperlakukan diri sendiri dalam menghadapi realita yang baru.(*)

Tombol Google News

Tags:

Post Holiday Blues Sosiologi Kekosongan kolektif Toxic productivity Émile Durkheim