KETIK, YOGYAKARTA – Indonesia mulai memperkuat langkah strategis dalam pengembangan logam tanah jarang (LTJ) di tengah meningkatnya persaingan global atas mineral kritis. Komoditas ini menjadi komponen utama dalam industri pertahanan, teknologi tinggi, energi, hingga sistem komunikasi modern.
Logam tanah jarang digunakan untuk mesin jet pesawat tempur, pesawat komersial, sistem rudal, elektronik canggih, pendeteksi bawah laut, pertahanan antirudal, alat pelacak, pembangkit energi satelit, hingga perangkat komunikasi strategis. Kebutuhan global terhadap mineral ini terus meningkat seiring ketegangan geopolitik dan perlombaan teknologi antarnegara.
Pemerintah merespons dinamika tersebut dengan membentuk Badan Industri Mineral (BIM) untuk mengoordinasikan riset, kebijakan, serta hilirisasi mineral strategis nasional. Langkah ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam memperkuat posisi di rantai pasok global.
Sejumlah penelitian mengidentifikasi sedikitnya delapan lokasi potensial logam tanah jarang di Indonesia yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Temuan ini memperbesar peluang Indonesia masuk dalam peta produsen mineral kritis dunia.
Dosen Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM, Dr. Eng. Ir. Lucas Donny Setijadji, S.T., M.Sc., menjelaskan bahwa lonjakan perhatian global terhadap logam tanah jarang bermula saat Tiongkok membatasi ekspor komoditas tersebut.
“Sejak itulah eksplorasi logam tanah jarang digalakkan di seluruh dunia. Jepang menjadi salah satu promotor utama riset, termasuk di kawasan ASEAN dan Afrika, melalui pendanaan penelitian dan beasiswa,” jelasnya, Sabtu, 21 Februari 2026.
Kebijakan Tiongkok saat itu mengguncang negara-negara industri, terutama Jepang, yang sangat bergantung pada pasokan logam tanah jarang untuk sektor manufaktur dan teknologi.
Meski memiliki potensi besar, Indonesia belum memasuki tahap produksi komersial. Pemerintah memilih pendekatan kehati-hatian karena komoditas ini tergolong kekayaan strategis negara yang pengelolaannya harus sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945.
“Indonesia memang relatif tertinggal, tetapi itu juga karena kehati-hatian kebijakan pemerintah,” ujarnya.
Di tengah langkah agresif negara seperti Vietnam, Laos, dan Myanmar yang telah lebih dulu memproduksi LTJ, Indonesia berupaya menata strategi jangka panjang agar tidak sekadar menjadi penyuplai bahan mentah, melainkan mampu mengembangkan hilirisasi dan penguasaan teknologi.
Wilayah Mamuju, Sulawesi Barat, kini disebut sebagai kawasan paling prospektif dan direncanakan menjadi pilot project hilirisasi logam tanah jarang nasional. Pemerintah berharap proyek percontohan ini menjadi fondasi pengembangan industri berbasis mineral kritis di masa depan. (*)
