KETIK, MALUKU UTARA – Di saat mayoritas masyarakat urban merayakan pergantian tahun dengan dentuman kembang api, masyarakat di Pulau Haruku, Maluku Tengah, memiliki cara yang jauh lebih dalam untuk menyongsong awal tahun.
Tradisi ini dinamakan “Badendang Rotan”. Tradisi lokal ini bukan sekadar acara biasa, tapi pesta rakyat yang menyatukan warga dalam tawa, nyanyian, dan tarikan rotan yang seru!
Tepat saat jam menunjukkan pukul 00.00 WIT, suasana Haruku pecah bukan oleh petasan, melainkan oleh suara nyanyian dan tarian bersama keluarga serta tetangga. Sesi ini disebut Badendang, sebuah ruang kebersamaan yang berfungsi merekatkan hubungan keluarga, teman, kerabat, hingga tetangga.
Puncak keseruan terjadi pada permainan Hela Rotan (Tarik Rotan). Dua kelompok warga akan saling tarik-menarik rotan berukuran besar dalam suasana yang penuh semangat.
Menariknya, persiapan permainan ini sudah dimulai jauh hari secara gotong-royong. Laki-laki, perempuan, tua, maupun muda terlibat langsung dalam proses pembuatan dan pengikatan rotan, simbol bahwa kerja sama adalah praktik, bukan sekadar teori.
Secara historis, ikatan pada rotan yang digunakan memiliki makna mendalam bagi masyarakat adat setempat. Satu lilitan utas melambangkan empat petuanan (wilayah adat) besar di Pulau Haruku. Bersama lima utas lainnya, total sembilan utas tersebut merepresentasikan rumpun negeri adat Pata Siwa, sebuah identitas budaya yang kuat di wilayah Maluku.
Tradisi ini ditutup dengan kehangatan di meja makan. Keesokan harinya, seluruh warga duduk bersama di meja panjang dalam perjamuan yang disebut Patita. Berbagai hidangan khas disajikan, mulai dari ikan bakar (ikan asar), kohu-kohu, nasi kelapa, dan singkong rebus, serta diiringi dengan sambal colo-colo.
Momen makan bersama ini adalah perwujudan nyata dari filosofi "Ale rasa, beta rasa" (Apa yang kau rasa, aku juga merasakannya). Sebuah prinsip hidup yang menegaskan bahwa suka dan duka harus dipikul bersama sebagai satu persaudaraan.
Badendang Rotan membuktikan bahwa tahun baru bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momentum untuk memperkuat relasi sosial dan memupuk solidaritas antar-manusia. (*)
