Mengenal Fenomena Holiday Blues: Mengapa Libur Panjang Bisa Memicu Stres?

3 Januari 2026 11:01 3 Jan 2026 11:01

Thumbnail Mengenal Fenomena Holiday Blues: Mengapa Libur Panjang Bisa Memicu Stres?
Ilustarsi orang yang sedang liburan di salah satu tempat pra sejarah (Foto: freepik)

KETIK, JAKARTA – Liburan panjang menjadi salah satu momen yang paling dinantikan banyak orang, termasuk libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang akan segera tiba.

Waktu luang tersebut kerap dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas yang sempat tertunda, mulai dari berkumpul bersama keluarga, menikmati waktu sendiri di kafe, mengunjungi destinasi impian, hingga bersilaturahmi dengan teman lama.

Namun, tidak semua orang menyambut musim liburan dengan perasaan bahagia. Bagi sebagian individu, periode ini justru dapat memicu tekanan emosional yang dikenal sebagai holiday blues.

Fenomena psikologis ini mengubah suasana liburan yang seharusnya menyenangkan menjadi sumber stres, kesedihan, bahkan kelelahan mental.

Apa Itu Holiday Blues?

Holiday blues merupakan kondisi tekanan emosional yang dialami seseorang secara spesifik selama musim liburan. Berbeda dengan depresi klinis yang bersifat kronis dan membutuhkan penanganan profesional, holiday blues umumnya bersifat sementara.

Kondisi ini biasanya berlangsung dalam hitungan hari hingga minggu, dan sering muncul menjelang atau setelah momen besar seperti Natal dan Tahun Baru.

Psikiater dari Northwell Staten Island University Hospital, Anna Costakis, MD, menjelaskan bahwa holiday blues ditandai dengan perasaan sedih, terasing, kehilangan energi, serta menurunnya motivasi di tengah suasana liburan.

Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga disertai keluhan fisik seperti tubuh terasa lemas atau kurang sehat.

Faktor Pemicu Holiday Blues

Sejumlah faktor dapat memicu munculnya holiday blues, di antaranya tekanan sosial untuk selalu terlihat bahagia, ekspektasi liburan yang terlalu tinggi, kelelahan finansial akibat pengeluaran akhir tahun, hingga rasa kesepian bagi mereka yang jauh dari keluarga atau kehilangan orang terdekat.

Selain itu, perubahan rutinitas harian selama libur panjang juga dapat memengaruhi kestabilan emosi seseorang. Pola tidur yang tidak teratur, konsumsi makanan berlebihan, serta minimnya aktivitas fisik turut berkontribusi terhadap munculnya perasaan tidak nyaman.

Cara Mengelola Holiday Blues

Para ahli menyarankan agar masyarakat lebih realistis dalam menyikapi liburan. Menetapkan ekspektasi yang wajar, menjaga rutinitas sehat, serta meluangkan waktu untuk diri sendiri dapat membantu mengurangi risiko holiday blues.

Berbagi perasaan dengan orang terdekat dan tetap menjaga koneksi sosial juga menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan mental selama musim liburan.

Libur Nataru sejatinya merupakan momen untuk beristirahat dan memulihkan diri. Dengan kesadaran dan pengelolaan emosi yang tepat, musim liburan dapat kembali menjadi waktu yang bermakna, bukan sumber tekanan.(*)

Tombol Google News

Tags:

liburan Natal Tahun baru kesehatan surabaya