KETIK, SLEMAN – Riuh rendah suara warga di Lapangan Sumberadi, Mlati, Sleman, menandai babak baru pembangunan di wilayah tersebut. Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, Selasa 10 Februari 2026, secara resmi membuka program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap I Tahun Anggaran 2026.
Agenda rutin ini kembali menegaskan kolaborasi erat antara militer dan pemerintah kabupaten dalam upaya mengakselerasi kesejahteraan di tingkat akar rumput, sekaligus menghidupkan kembali semangat gotong royong yang menjadi tulang punggung pembangunan pedesaan.
Pembangunan Infrastruktur Desa
Dalam pidatonya, Danang Maharsa menekankan bahwa TMMD bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur semata, melainkan sebuah manifestasi dari komitmen bersama untuk memperkuat pondasi sosial kemasyarakatan.
Ia berharap pembangunan infrastruktur yang digarap melalui program ini dapat menjadi pemicu konektivitas ekonomi, membuka isolasi wilayah, dan mempercepat pemerataan pembangunan di wilayah Sleman, khususnya di Kalurahan Sumberadi yang menjadi titik fokus kali ini.
Langkah ini dinilai krusial untuk menyeimbangkan pembangunan fisik antara wilayah perkotaan dan perdesaan di Kabupaten Sleman.
Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa didampingi Dandim 0732/Sleman Letkol Arh Reindi Trisetyo Nugroho meninjau lokasi sasaran fisik TMMD Sengkuyung Tahap I di Kalurahan Sumberadi, Mlati, Sleman. (Foto: Pendim 0732/Sleman for Ketik.com)
Target Fisik dan Peninjauan Lokasi
Usai seremoni pembukaan, Danang didampingi Komandan Kodim 0732/Sleman, Letkol Arh Reindi Trisetyo Nugroho, langsung beranjak meninjau lokasi sasaran untuk memastikan kesiapan lapangan dan menyapa warga yang telah bersiap bekerja.
Laporan Letkol Reindi merinci sejumlah target ambisius yang akan diselesaikan dalam kurun waktu satu bulan ke depan dengan mengandalkan sinergi antara prajurit TNI dan partisipasi aktif warga setempat.
Proyek tersebut mencakup pembangunan talud jalan sepanjang 450 meter dengan tinggi 1 meter untuk mencegah erosi dan kerusakan infrastruktur, pengecoran jalan desa sepanjang 250 meter dengan lebar 4 meter, hingga pemasangan bronjong dan perbaikan jembatan vital yang menghubungkan Dusun Konteng dengan Jumeneng Lor guna memperlancar arus logistik dan mobilitas warga sehari-hari.
Tak hanya infrastruktur umum, sentuhan TMMD juga menyasar ranah privat melalui rehabilitasi rumah milik salah satu warga yang membutuhkan, Ibu Maya Estianingsih, agar layak huni dan aman.
Kemanunggalan TNI dan Rakyat
Sisi kemanusiaan pun tak luput dari perhatian Satgas TMMD. Di sela-sela kegiatan pembangunan fisik, mereka bersama pemerintah daerah menyalurkan paket sembako kepada warga lanjut usia dan keluarga kurang mampu di sekitar lokasi proyek.
Letkol Reindi menyatakan bahwa aksi sosial ini adalah wahana kepedulian untuk meringankan beban masyarakat sekaligus mempererat kemanunggalan TNI dengan rakyat.
Baginya, kehadiran prajurit di tengah desa harus membawa dampak konkret yang bisa dirasakan langsung di dapur-dapur warga, menegaskan bahwa TNI adalah bagian tak terpisahkan dari rakyat dan selalu siap membantu kesulitan masyarakat.
Edukasi Non Fisik
Melengkapi pembangunan fisik, TMMD tahap ini juga menyisipkan agenda non-fisik yang edukatif dan komprehensif sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Serangkaian penyuluhan mulai dari peningkatan pelayanan kesehatan posyandu dan posbindu, pencegahan bahaya narkoba, hingga wawasan kebangsaan akan digelar secara maraton untuk meningkatkan literasi sosial masyarakat.
Pendekatan holistik ini diharapkan mampu membangun ketahanan masyarakat, baik secara material melalui infrastruktur yang kokoh, maupun secara mental melalui kesadaran sosial yang kuat demi terciptanya desa yang maju, mandiri, dan berbudaya. (*)
