KETIK, SAMPANG – SDN Batuporo Timur 1, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, kini menjadi sorotan masyarakat. Dari 33 siswa yang terdaftar di Data Pokok Pendidikan (Dapodik), hanya lima siswa yang aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM). Jumlah tersebut jauh di bawah kapasitas satu rombongan belajar (rombel) yang seharusnya diisi oleh 28 siswa.
Sekolah ini juga rutin menerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Shavina-Shavira. Namun, minimnya siswa aktif di kelas menimbulkan kekhawatiran terkait pengelolaan pendidikan di SDN Batuporo Timur 1.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Daerah Kabupaten Sampang, Yuliadi Setiyawan, menegaskan akan menindak tegas jajaran guru Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Dinas Pendidikan (Disdik) Sampang. Hal ini menyusul dugaan pembiaran KBM yang tidak normal sejak 2023.
"Ini tidak ada laporan. Kalau ada laporan, pasti secepatnya kami selesaikan. Kami justru mengetahui kondisi sekolah dari pemberitaan masyarakat," ujarnya.
Menurutnya, pencairan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tanpa laporan resmi sementara siswa tidak aktif merupakan kesalahan serius.
“Kalau tidak pernah melapor ke dinas, sementara di lapangan tidak ada KBM dan siswa tidak aktif tapi BOS tetap dicairkan, itu salah. Kepala sekolah dan guru harus memproses,” tegasnya.
Yuliadi Setiyawan meminta Disdik Sampang mendalami kasus tersebut, termasuk memverifikasi data siswa yang diduga pindah ke madrasah atau lembaga pendidikan lain. Ia menekankan bahwa sanksi akan diberikan kepada siapa pun yang terbukti melanggar aturan, tanpa memandang jabatannya.
"Siapapun itu, mau orang dinas, guru, atau kepala sekolah, kalau salah sesuai aturan akan kami tindak. Saya tidak mau kasus Batuporo Timur ini terulang lagi di Sampang," tutupnya. (*)
