KETIK, SURABAYA – Pagi di hari pertama Tahun Baru menjadi waktu yang istimewa bagi banyak masyarakat di berbagai belahan dunia.
Setelah perayaan malam pergantian tahun, sarapan dipilih sebagai momen awal untuk memulai lembaran baru. Tak sekadar mengenyangkan, hidangan pagi 1 Januari kerap sarat makna dan harapan.
Berikut sederet sarapan khas yang identik dengan momen Tahun Baru di sejumlah negara:
- Di Jepang, ozoni menjadi menu utama saat pagi Tahun Baru. Sup hangat berisi mochi ini dipercaya membawa keberkahan, kesehatan, serta umur panjang. Ozoni biasanya disantap bersama keluarga dalam suasana tenang dan penuh makna.
- Korea Selatan memiliki tteokguk, sup kue beras yang secara tradisi dikonsumsi pada awal tahun. Menyantap tteokguk melambangkan pertambahan usia dan awal kehidupan baru. Hidangan ini menjadi simbol kedewasaan dan harapan akan perjalanan hidup yang lebih baik.
- Di wilayah selatan Amerika Serikat, kacang polong hitam atau black-eyed peas menjadi menu sarapan yang dipercaya membawa keberuntungan dan kemakmuran. Hidangan ini kerap dipadukan dengan nasi atau roti sederhana.
- Sementara itu, masyarakat Jerman memilih roti dan kue sederhana sebagai sarapan Tahun Baru. Menu ini mencerminkan kesederhanaan, rasa syukur, serta harapan akan kehidupan yang stabil di tahun yang baru.
Di beberapa negara lain, tradisi sarapan Tahun Baru disesuaikan dengan budaya lokal masing-masing, namun umumnya disantap pada pagi 1 Januari bersama keluarga.
Momen ini menjadi waktu bersantai setelah perayaan malam sebelumnya.
Perubahan gaya hidup modern turut memengaruhi cara tradisi ini dijalani.
Hidangan yang dulunya dimasak secara tradisional kini banyak digantikan versi praktis.
Meski demikian, makna simbolis di balik sarapan Tahun Baru tetap dijaga.
Melalui sederet sarapan khas tersebut, masyarakat dunia menandai awal tahun dengan cara yang sederhana namun penuh arti.
Sarapan pagi di momen Tahun Baru menjadi simbol harapan akan kesehatan, keberuntungan, dan perjalanan hidup yang lebih baik sepanjang tahun. (*)
