KETIK, MALANG – Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang menggelar pertemuan rutin perdana di awal tahun pada Rabu (21/1/2026). Pertemuan ini menjadi momentum penting untuk membedah proyeksi serta tantangan industri perhotelan dan pariwisata sepanjang satu tahun ke depan.
Dalam forum tersebut, PHRI menyoroti dinamika usaha yang dikaitkan dengan filosofi tahun Kuda Api. Meski diprediksi penuh tantangan, para pelaku industri di Kota Malang tetap optimistis mampu memberikan pelayanan akomodasi terbaik bagi wisatawan.
Ketua PHRI Kota Malang, Agoes Basoeki, mengungkapkan bahwa tahun 2026 memang membawa tantangan tersendiri, namun peluang tetap terbuka lebar seiring dengan kondisi politik dan iklim usaha yang kondusif.
"2026 memang tantangan, tapi kita harus optimis bisa mengatasinya. Di samping faktor iklim, suasana politik yang tetap kondusif bisa menjadi peluang besar bagi kita," ujar Agoes.
Agoes Basoeki selaku Ketua PHRI Kota Malang memberikan sambutan di pertemuan rutin BPC PHRI Kota Malang pada 21 Januari 2026. (Foto: Aliyah/Ketik.com)
Agoes menganalogikan tantangan tahun ini layaknya elemen api dalam shio Kuda Api. Menurutnya, jika disikapi dengan bijak, ancaman tersebut justru bisa dikonversi menjadi energi positif bagi kemajuan bisnis.
"Kalau kita bersinergi dan memahami dengan bijak, itu bisa jadi potensi. Jika ada ancaman namun bisa kita pijaki, itu akan menjadi energi, seperti api," tuturnya.
Tantangan nyata yang dihadapi adalah munculnya hotel-hotel baru serta status Kota Malang yang kini bertransformasi menjadi Kota Kreatif Dunia dan kota metropolitan. Hal ini menuntut standar pelayanan yang jauh lebih tinggi.
Selain itu, agenda event besar yang akan digelar di Kota Malang diprediksi akan meningkatkan okupansi secara signifikan. Kehadiran ratusan ribu pengunjung menjadi ujian bagi hotel-hotel lokal untuk merepresentasikan kualitas pelayanan terbaiknya.
"Tantangannya jelas, hotel-hotel terbaru akan bermunculan. Sebagai kota kreatif dunia dan metropolitan, jika akomodasi kita tidak representatif, itu akan menjadi bahaya. Tapi kalau sikapi dengan bijak, hasilnya akan baik," tambah Agoes.
Untuk memenangkan persaingan, PHRI Kota Malang menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan zaman. Empat pilar utama yang menjadi fokus. Ia menekankan penguatan teknologi, pengembangan SDM, peningkatan kreatif, dan inovatif.
"Yang penting adalah penguatan terhadap perkembangan zaman, teknologi, pengembangan SDM, serta kreativitas dan inovasi produk. Dengan begitu, kita pasti bisa bersaing," pungkasnya.
Melalui sinergi antaranggota, PHRI Kota Malang berkomitmen untuk terus meningkatkan potensi sektor pariwisata agar tetap tumbuh positif di tengah dinamika tahun 2026. (*)
