KETIK, BLITAR – Bupati Blitar Rijanto memilih berbicara tentang tanggung jawab dalam refleksi satu tahun kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Blitar Beky Herdihansah. Ia menegaskan, momentum ini bukan sekadar seremoni tahunan yang penuh formalitas.
“Refleksi ini adalah bentuk tanggung jawab moral dan politik kami kepada masyarakat Kabupaten Blitar. Kami ingin terbuka, apa yang sudah dilakukan dan apa yang masih harus dibenahi,” ujar Rijanto di hadapan jajaran Forkopimda, DPRD, tokoh masyarakat, hingga insan pers, Jumat 20 Februari 2026.
Rijanto memaparkan, satu tahun pertama kepemimpinannya difokuskan pada penguatan fondasi pembangunan. Ia menyebut infrastruktur sebagai pijakan awal.
Percepatan peningkatan kualitas jalan kabupaten, perbaikan jaringan irigasi, hingga penataan fasilitas publik menjadi prioritas. Namun, menurutnya, pembangunan fisik bukan semata urusan beton dan aspal.
“Infrastruktur itu tentang membuka akses. Akses ekonomi, akses pendidikan, dan akses kesejahteraan. Kalau konektivitas antarwilayah kuat, perputaran ekonomi juga ikut bergerak,” tegasnya.
Ia menyadari, belum semua ruas jalan dalam kondisi ideal. Tetapi, kata dia, arah kebijakan sudah ditentukan, yakni pembangunan harus merata dan berdampak langsung pada masyarakat.
Di sektor pelayanan publik, Pemkab Blitar mulai melakukan transformasi digital secara bertahap. Sistem yang sebelumnya manual disederhanakan dan didigitalisasikan.
Tujuannya jelas yaitu mempercepat layanan, mengurangi birokrasi berbelit, dan meningkatkan transparansi.
“Kami ingin pelayanan publik itu mudah, cepat, dan transparan. Masyarakat tidak boleh dipersulit,” katanya.
Langkah ini, lanjut Rijanto, menjadi bagian dari komitmen reformasi birokrasi agar pemerintah daerah lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Pada sektor ekonomi, perhatian diarahkan pada penguatan UMKM dan pertanian. Dua sektor ini disebutnya sebagai identitas sekaligus tulang punggung ekonomi Kabupaten Blitar.
Pemerintah daerah memperkuat dukungan permodalan, memperluas akses pasar, serta melakukan pembinaan berkelanjutan.
“UMKM itu penyangga ekonomi kita. Pertanian adalah kekuatan utama sekaligus jati diri daerah ini. Keduanya harus terus kita dorong,” ujarnya.
Ke depan, Pemkab Blitar juga menargetkan hilirisasi industri agar produk-produk lokal memiliki nilai tambah dan daya saing lebih tinggi.
Meski memaparkan sejumlah capaian, Rijanto tidak menutup mata terhadap tantangan yang masih membentang.
Ia menyebut satu tahun pertama sebagai fase awal meletakkan dasar pembangunan jangka panjang.
“Keberhasilan yang kita capai bukan hasil kerja satu dua orang. Ini kerja bersama pemerintah daerah, DPRD, Forkopimda, dunia usaha, akademisi, media, dan masyarakat. Sinergi adalah kunci,” tegasnya.
Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, pemerintah daerah juga memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok melalui koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) serta pelaksanaan pasar murah.
Selain itu, kesiapsiagaan menghadapi potensi cuaca ekstrem diperkuat lewat koordinasi dengan BPBD, TNI, dan Polri.
“Kami ingin masyarakat merasa aman dan nyaman, terutama di momen-momen penting seperti ini,” katanya.
Bagi Rijanto, pembangunan bukan proyek jangka pendek. Ia menyebutnya sebagai warisan yang harus dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.
“Yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk sekarang, tetapi untuk generasi mendatang. Karena itu, kita harus menjaga integritas, memperkuat solidaritas, dan menghilangkan ego sektoral,” ujarnya.
Sementara azan magrib hampir berkumandang, refleksi itu terasa bukan sekadar laporan kerja. Ia menjadi pengingat bahwa pembangunan adalah maraton panjang, bukan lari cepat.
Di bawah langit Blitar yang baru saja diguyur hujan, pesan itu menggema pelan namun tegas: fondasi sudah diletakkan, kini saatnya melompat lebih jauh.(*)
