KETIK, JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto mengumpulkan para rektor, guru besar, dan dekan dari berbagai perguruan tinggi di Tanah Air dalam sebuah dialog khusus di Istana Kepresidenan, Kota Jakarta Pusat, Kamis (15/1/2026).
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan, pertemuan dihadiri 1.200 akademisi dan secara khusus difokuskan pada bidang sosial dan humaniora.
"Ini adalah sesuatu yang sangat bersejarah. Sepanjang pengetahuan saya, sepanjang sejarah, belum pernah ada presiden yang secara khusus mengumpulkan para akademisi universitas dalam dialog seperti ini," ujar Stella.
Stella menjelaskan, pertemuan dengan Presiden Prabowo ini merupakan yang kedua kalinya digelar. Pertemuan pertama telah dilakukan pada tahun lalu dengan cakupan yang lebih umum, termasuk bidang science, technology, engineering, mathematics (STEM). Adapun kali ini, Prabowo secara khusus memberikan ruang bagi kalangan sosial humaniora.
"Bagi para akademisi sosial humaniora yang mungkin merasa khawatir bidang ini kurang diperhatikan, itu tidak benar. Justru hari ini dikhususkan untuk sosial humaniora," tegasnya.
Menurut Stella, Prabowo menunjukkan komitmen untuk bedialog langsung dengan dunia akademik.
Dalam kesempatan tersebut, Stella juga menekankan dua capaian besar Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi di bawah kepemimpinan Prabowo. Pertama, dana riset kementerian mengalami lonjakan signifikan hingga 218% hanya dalam satu tahun.
"Ini peningkatan yang sangat besar dan mencerminkan keberpihakan presiden terhadap penguatan riset nasional," kata Stella.
Kedua, pemerintah akhirnya kembali memberlakukan skema insentif finansial langsung bagi dosen dan peneliti yang memenangkan hibah riset. Skema ini sempat ditiadakan selama beberapa tahun terakhir.
"Mulai 2026, dosen peneliti yang memenangkan hibah riset akan mendapatkan insentif finansial langsung. Ini perjuangan panjang dan akhirnya berhasil," ungkap Stella.
Ia menambahkan, komitmen tersebut telah ia sampaikan sejak awal menjabat, termasuk saat paparan di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 16 Desember 2024. Janji tersebut, kata Stella, kini resmi ditepati pada Desember 2025.
Keterangan Mensesneg
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan, pertemuan tersebut bukan bersifat pemanggilan, melainkan agenda resmi Prabowo sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan untuk berdiskusi langsung dengan kalangan akademisi. Pertemuan ini dilakukan secara tertutup.
"Keseluruhan sementara tertutup," kata Prasetyo, di Kompleks Istana Kepresidenan.
Dalam diskusi itu, Prasetyo mengatakan bahwa presiden ingin berdiskusi dan menyampaikan pandangannya. Serta update terkait kondisi negara geopolitik, serta rencana besar yang akan dikerjakan pemerintah ke depan.
Prasetyo mengatakan bahwa presiden memang banyak melakukan komunikasi dengan berbagai pihak. Seperti pada pekan ini fokus dari pemerintah adalah sektor pendidikan, yang menjadi kunci pembangunan menuju negara maju.
"Jadi ini bagian dari rangkaian kegiatan bapak presiden di bidang pendidikan," kata Prasetyo.
Meski agenda diskusi digelar secara tertutup, Prasetyo membeberkan sejumlah isu konkret yang menjadi perhatian Prabowo dalam dialog dengan para rektor dan guru besar. Salah satunya adalah upaya mempercepat pemenuhan kebutuhan tenaga dokter nasional.
"Berdasarkan data kita, Indonesia masih kekurangan hampir di atas 100 ribu dokter. Ini yang sedang kita cari cara bagaimana bisa dipercepat," ungkapnya.
Selain itu, Prabowo juga menyoroti peningkatan kualitas lembaga pendidikan tinggi, mulai dari kualitas dosen, sarana dan prasarana, hingga efisiensi operasional perguruan tinggi negeri. Pemerintah, lanjut Prasetyo, tengah mengkaji berbagai skema untuk menekan beban biaya operasional kampus agar tidak memberatkan masyarakat dan mahasiswa.
"Kita sedang menghitung dan berpikir bagaimana universitas-universitas ini dapat maju, berkualitas, tetapi dari sisi pembiayaan tidak membebani masyarakat," ujarnya.
Prasetyo menambahkan, penutupan agenda diskusi dilakukan karena banyak pembahasan teknis yang memerlukan dialog mendalam antara Prabowo dengan para pimpinan perguruan tinggi dan guru besar.
"Mohon maaf kali ini memang agendannya tertutup, karena banyak hal yang memang mau dibicarakan secara teknis oleh bapak presiden dengan para rektor dan guru besar," kata Prasetyo. (*)
