Politik di Kota Probolinggo Tidak Rumit: Dekati, Dengar, Menang

27 Maret 2026 05:20 27 Mar 2026 05:20

Thumbnail Politik di Kota Probolinggo Tidak Rumit: Dekati, Dengar, Menang

Oleh: Eko Hardianto*

Tulisan ini sebelumnya sempat terbenam di antara ratusan file-file artikel karya penulis. Bermula dari niat bersih-bersih folder naskah berita usang di gadget. Tapi ternyata ada satu tulisan yang penulis urung “delet”. Ya, selain masih belum sempat terpublish, tulisan ini juga mencuplik dialektika politik Kota Probolinggo pada pemilu 2024 lalu. 

Langsung saja. Pileg 2024 di kota berjuluk Bayuangga ini kembali memberi pelajaran sederhana tapi tajam. Di situ tergambar jika politik lokal tidak selalu ditentukan siapa paling ideologis. Tapi siapa yang paling dekat dengan warga. Data hasil pemilu menunjukkan, Partai Golongan Karya (Golkar), keluar sebagai peraih suara terbanyak dengan kisaran 26–27 ribu suara. 

Di bawahnya ada Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dengan sekitar 23–24 ribu suara. Menyusul kemudian Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dengan sekitar 21 ribu suara atau sekitar 14,4 persen dari total suara sah yang berkisar 146 ribu. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi cermin cara kerja politik yang nyata di lapangan.

Kalau dilihat sekilas, perbedaan suara itu tidak terlalu jauh. Artinya, persaingan sebenarnya ketat. Namun yang menarik, Golkar bisa unggul secara konsisten di beberapa wilayah. Bahkan di salah satu dapil seperti Kanigaran, Golkar meraih sekitar 9 ribu suara, PKB sekitar 8,8 ribu, sementara PDIP hanya sekitar 2,8 ribu. Di sini terlihat jelas bahwa kekuatan tidak merata, tapi Golkar mampu menjaga posisi di banyak titik sekaligus. Ini bukan kebetulan.

Kunci pertama ada pada jaringan. Golkar bukan partai baru. Mereka punya struktur yang sudah lama hidup, bukan hanya di atas kertas. Di tingkat kelurahan, RW, bahkan RT, mereka punya orang. 

Orang-orang ini bukan sekadar nama, tapi benar-benar bergerak. Mereka tahu siapa pemilih tetap, siapa yang masih ragu, dan siapa yang bisa diajak bicara. Dalam politik, data seperti ini lebih berharga daripada baliho besar di jalan.

Kunci kedua adalah pendekatan personal. Di kota seperti Probolinggo, pemilih tidak terlalu peduli pada konsep besar atau ideologi yang rumit. Mereka lebih percaya pada orang yang mereka kenal. Caleg yang sering hadir, yang pernah membantu, yang pernah datang saat ada acara warga, itu lebih diingat. 

Golkar bermain di sini. Mereka tidak menjual mimpi besar, tapi kedekatan. Ini sederhana, tapi sangat efektif. Sementara itu, PKB sebenarnya punya kekuatan besar, terutama di basis masyarakat religius. Namun kekuatan itu cenderung terkunci di kantong tertentu. Artinya, kuat tapi tidak menyebar merata. 

Di sisi lain, PDIP punya basis ideologis yang jelas, tapi di tingkat lokal sering tidak cukup kuat menembus semua lapisan masyarakat. Akibatnya, suara mereka ada, tapi tidak dominan. Di sinilah Golkar unggul. Mereka tidak terlalu ideologis, tapi juga tidak kehilangan arah. 

Partai dinahkodai Bahlil Lahadalia, itu fleksibel. Bisa masuk ke kelompok religius tanpa terlihat bertentangan, bisa masuk ke kelompok umum tanpa terlihat eksklusif. Mereka bermain di tengah, dan itu posisi yang aman sekaligus strategis.

Kalau ditarik ke kajian ilmiah, pola ini sebenarnya sudah lama dibahas oleh ilmuwan politik seperti Robert Putnam. Dalam teorinya tentang modal sosial, Putnam menjelaskan bahwa kekuatan komunitas dan jaringan kepercayaan jauh lebih menentukan daripada sekadar institusi formal. 

Masyarakat akan lebih mudah memilih orang atau kelompok yang mereka kenal dan percaya, bukan yang sekadar menawarkan program bagus di atas kertas. Dalam konteks Probolinggo, teori ini terasa sangat nyata. Golkar tidak hanya punya struktur, tapi juga membangun kepercayaan sosial yang terus dipelihara.

Putnam juga menekankan pentingnya interaksi berulang. Semakin sering seseorang berinteraksi dengan masyarakat, semakin kuat kepercayaan itu terbentuk. Ini sejalan dengan pola yang terlihat di lapangan. Tim-tim kecil Golkar biasanya tidak hanya datang sekali. Mereka datang berkali-kali, dengan pendekatan yang berbeda. 

Kadang ngobrol santai, kadang ikut kegiatan warga, kadang sekadar hadir. Efeknya sederhana, mereka terasa dekat. Dari sini, kita bisa melihat bahwa kemenangan Golkar bukan karena mereka paling kuat secara ideologi, tapi karena mereka paling rapi dalam mengelola hubungan sosial. 

Mereka memahami bahwa politik lokal bukan soal panggung besar, tapi soal percakapan kecil yang berulang. Lalu bagaimana dengan partai lain? Kalau ingin menyaingi, bahkan mengalahkan pola ini, caranya juga tidak bisa biasa-biasa saja. Menyerang partai secara langsung tidak efektif. 

Mengatakan partai lain buruk justru sering tidak dipercaya. Yang harus dilakukan adalah memotong jaringan kecil yang menjadi kekuatan utama. Misalnya dengan mendekati tokoh-tokoh lokal, komunitas kecil, atau kelompok pengajian. Dari situlah suara bergerak. Selain itu, kunci lain ada pada pemilih “abu-abu”. Mereka bukan pemilih fanatik. Mereka bisa berpindah. 

Jumlahnya tidak besar, tapi cukup menentukan. Pendekatan ke kelompok ini harus personal, bukan massal. Lewat percakapan, lewat grup kecil, lewat komunikasi yang terasa dekat. Di era sekarang, ini bisa dilakukan lewat WhatsApp, media sosial lokal, atau pertemuan kecil.

Strategi lain yang bisa digunakan adalah membangun figur. Di tingkat lokal, orang memilih figur, bukan partai. Satu atau dua tokoh yang kuat bisa mengangkat suara partai secara signifikan. Tanpa figur, partai hanya jadi nama. Ini yang sering dilupakan.

Ada juga faktor psikologis yang sering tidak terlihat, yaitu kelelahan pemilih. Ketika masyarakat merasa tidak ada perubahan, mereka mulai mencari alternatif. Ini peluang besar. Narasi sederhana seperti “sudah lama diberi kesempatan, tapi hasilnya belum terasa” bisa pelan-pelan menggerus dominasi. Tidak perlu menyerang keras, cukup menanam pertanyaan.

Dari semua ini, pelajaran paling penting sebenarnya sederhana. Politik lokal bukan soal siapa yang paling pintar bicara, tapi siapa yang paling konsisten hadir. Bukan soal siapa yang punya program paling hebat, tapi siapa yang paling dikenal dan dipercaya. Data suara Golkar, PKB, dan PDIP di Probolinggo hanya angka di atas kertas. Di balik angka itu, ada kerja panjang, ada hubungan sosial, dan ada kepercayaan yang dibangun sedikit demi sedikit.

Akhirnya, kalau harus diringkas, kemenangan di Probolinggo ditentukan oleh tiga hal. Jaringan yang hidup, figur yang dikenal, dan pendekatan yang manusiawi. Siapa pun yang bisa menggabungkan tiga hal ini, punya peluang besar untuk menang di pemilu berikutnya. Bukan karena dia paling kuat, tapi karena dia paling dekat dengan rakyat.

*) Eko Hardianto merupakan Jurnalis Ketik.com di Probolinggo

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi.(*)

Tombol Google News

Tags:

Politik Lokal pemilu 2024 Kota Probolinggo Golkar pkb PDIP strategi politik suara pemilih peta kekuatan politik kampanye lapangan jaringan partai konsolidasi massa pemilih abu-abu Modal sosial Robert Putnam Perilaku Pemilih caleg lokal dinamika politik daerah analisis pemilu demokrasi Indonesia