KETIK, JAKARTA – Eskalasi konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel kian memanas. Dalam 24 jam terakhir, Jumat, 27 Maret 2026, serangan udara besar-besaran menghantam wilayah strategis Iran, khususnya Isfahan, yang kemudian dibalas Teheran dengan gelombang serangan rudal ke Israel.
Serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat bersama Israel dilaporkan mengalami peningkatan signifikan, baik dari sisi intensitas maupun sasaran. Kota Isfahan, yang dikenal sebagai salah satu pusat industri pertahanan dan nuklir Iran, kembali menjadi target utama dalam operasi militer terbaru.
Militer Israel mengonfirmasi skala besar serangan tersebut. Dalam pernyataannya, disebutkan bahwa lebih dari 60 jet tempur dikerahkan dengan ratusan amunisi untuk menghantam berbagai target strategis di Iran.
“Lebih dari 60 jet tempur mengerahkan sekitar 150 amunisi ke sejumlah target, termasuk serangan malam di Isfahan,” tulis IDF, militer Israel dalam pernyataan resminya.
Serangan ini merupakan lanjutan dari operasi sebelumnya, bahkan menandai hari kedua berturut-turut Isfahan menjadi sasaran. Laporan lapangan menyebutkan bahwa target utama mencakup fasilitas produksi senjata serta gudang penyimpanan militer.
Langkah ini menunjukkan bahwa strategi AS–Israel tidak lagi sekadar serangan terbatas, melainkan mengarah pada upaya sistematis untuk melumpuhkan kapasitas militer Iran dari hulu, terutama sektor produksi persenjataan.
Di sisi lain, Iran merespons cepat serangan tersebut dengan meluncurkan gelombang besar rudal balistik ke wilayah Israel. Serangan dilakukan dalam beberapa gelombang hanya dalam hitungan jam.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk balasan langsung atas serangan yang mereka terima.
“Amerika Serikat harus menerima konsekuensi atas serangan ini,” tulis pernyataan resmi dari Iran, Kamis, 26 Maret 2026, waktu setempat.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa rudal-rudal Iran menghantam beberapa titik di Israel, menyebabkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa, meskipun sebagian berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel.
Serangan balasan ini menegaskan bahwa Iran masih memiliki kapasitas serangan jarak jauh yang signifikan, sekaligus menunjukkan strategi “balas cepat berlapis” untuk menekan lawan. (*)
