Harmoni Budaya di Moyoketen! Kala Gema Wayang dan Legitnya Kupat Melebur Menyatu

27 Maret 2026 06:23 27 Mar 2026 06:23

Thumbnail Harmoni Budaya di Moyoketen! Kala Gema Wayang dan Legitnya Kupat Melebur Menyatu

Wakil Bupati Ahmad Baharudin dan Kades Moyoketen Hari Purwanto saat beri sambutan saat pagelaran wayang kulit di Desa Moyoketen, Kabupaten Tulungagung pada Kamis malam, 26 Maret 2026. (Foto: Hariya/ketik.com)

KETIK, TULUNGAGUNG – Malam di Desa Moyoketen tak seperti biasanya. Pelataran Joglo Sanggar Seni Pasopati mendadak hidup, diselimuti wangi janur kuning yang segar dan aroma gurih kuah lodeh ketupat yang menggoda selera. Di sela keriuhan itu, suara sayup-sayup gamelan mulai ditabuh, menciptakan simfoni pembuka yang magis di udara malam. Rupanya, sedang ada pagelaran wayang kulit di sana.

Di bawah pendar lampu hias yang temaram, Kepala Desa Moyoketen, Hari Purwanto, melangkah mantap menuju podium. Senyum hangatnya menyambut ribuan warga yang tumpah ruah, menciptakan suasana akrab yang melunturkan sekat-sekat sosial.

Acara malam itu bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah perayaan syukur ganda: Halalbihalal untuk menyucikan hati pascalebaran dan Kupatan Massal sebagai wujud nyata pelestarian warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu.

Sebelum layar wayang dibentangkan, tradisi "Kupatan Massal" menjadi magnet utama yang menyatukan hati. Ratusan porsi ketupat tersaji rapi, dinikmati bersama oleh para pejabat, tokoh agama hingga warga.

Tampak hadir di tengah warga, Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bersama mantan Kadin LH Tulungagung Santoso serta Kepala Desa Gedangsewu Miswan. Kehadiran mereka di antara kepulan uap ketupat menjadi bukti bahwa di Moyoketen, kepemimpinan dan rakyat menyatu dalam satu rasa.

Tepat pukul 21.00 WIB, suasana mencapai puncaknya. Hari Purwanto, yang juga menjabat sebagai Ketua Sanggar Seni Pasopati, menyerahkan Wayang Gunungan secara simbolis kepada Dalang Muda berbakat, Ki Suryo Purnomo. Penyerahan ini menandai dimulainya lakon "Sesaji Rajasuya".

Begitu kotak wayang diketuk, keheningan menyergap. Cahaya lampu blencong mulai menari-nari di atas layar putih, menghidupkan bayang-bayang kisah tentang kepemimpinan, pengorbanan, dan kebijaksanaan.

"Malam ini, tidak ada sekat di antara kita. Semuanya kembali fitrah sembari menikmati warisan budaya kita," ujar Pak Kades Hari Purwanto dalam sambutannya yang menggugah pada Kamis, 26 Maret 2026.

Bagi Hari Purwanto, wayang bukan sekadar hiburan semalam suntuk. Ia adalah media dakwah dan edukasi yang paling mujarab. Lewat lakon ini, terselip pesan mendalam tentang pentingnya gotong royong dan menjaga kerukunan desa di tengah arus zaman yang kian menderu.

 

Antara Tradisi dan Inovasi: Mistis, Namun Jenaka

Ada yang unik dari pagelaran Ki Suryo Purnomo malam itu. Selain kepiawaian sabetannya, ia membawa kesegaran dengan menampilkan tokoh-tokoh "Demit" seperti Pocong, Kuntilanak, Genderuwo, hingga Tuyul. Alih-alih seram, kemunculan tokoh-tokoh ini bersama para Ponokawan justru memicu gelak tawa segar yang memecah kesunyian malam.

Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin memberikan apresiasi setinggi langit. Beliau menegaskan bahwa Tulungagung adalah "gudang" budaya Jawa Timur yang harus terus dijaga.

"Wayang kulit tidak hanya harus di-uri-uri (dilestarikan), melainkan juga di-uripi (dihidupkan). Ini tugas kita sebagai generasi penerus. Pemerintah Kabupaten siap mengakomodir agar Sanggar Seni Pasopati dan pelaku seni lainnya terus eksis," tegas Baharudin.

Saat fajar mulai mengintip, Moyoketen telah berhasil menuliskan satu babak penting dalam sejarah desanya. Melalui sabetan wayang dan legitnya ketupat, mereka membuktikan bahwa kemajuan zaman tak akan pernah mampu melunturkan jati diri masyarakat yang religius, berbudaya, dan menjunjung tinggi kekeluargaan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Pagelaran Wayang Kulit #Desa Moyoketen wakil bupati tulungagung #Ahmad Baharudin #Sanggar Seni Budaya Pasopati