Gubernur Khofifah Siapkan 10 Pompa Air! Ternyata Ini Pemicu dan Tantangan Penanganan Banjir Pasuruan

27 Maret 2026 06:08 27 Mar 2026 06:08

Thumbnail Gubernur Khofifah Siapkan 10 Pompa Air! Ternyata Ini Pemicu dan Tantangan Penanganan Banjir Pasuruan

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (tengah) meninjau bencana banjir yang terjadi di Dusun Bandaran, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan pada Kamis, 26 Maret 2026. (Foto: Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Bencana banjir terjadi di Dusun Bandaran, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan beberapa hari usai Lebaran 2026. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bahkan datang langsung ke lokasi untuk memastikan penanganannya pada Kamis, 26 Maret 2026.

Gubernur Khofifah juga menjelaskan bahwa banjir dipicu tingginya intensitas hujan serta luapan anak-anak sungai di wilayah tersebut, yang diperparah kondisi geografis dataran rendah sehingga air mudah menggenang.

“Banjir di sini karena intensitas hujan yang tinggi kemudian meluber karena ini dataran rendah. Kalau saya menyebut ini genangan karena ini sebenarnya aliran dari anak-anak sungai yang ada di sekitar sini,” ucap dia.

Lantas, apa yang menjadi tantangan penanganan pada bencana tersebut? Khofifah menjelaskan salah satu tantangan utama penanganan banjir di Rejoso ini adalah karena banyaknya anak sungai yang ketinggian air sungai sejajar dengan air menggenangi daratan.

​"Sehingga kalau kami mau memompa itu menunggu surutnya air sungai supaya proses pemompaan bisa efektif,” ujarnya.

Pemprov Jatim bersama Pemkab Pasuruan telah menyiapkan 10 pompa air guna mengalirkan genangan keluar dari permukiman warga. Rinciannya, 6 unit milik Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jatim dan empat milik pemkab setempat.

Namun, kata dia, tidak semuanya dapat dioperasikan secara maksimal saat puncak banjir karena sungainya sama dengan daratan sehingga menunggu sungai surut baru bisa dipompa.

Menurut Khofifah, PR seperti ini memang harus terus dicarikan solusi-solusi efektif dan strategis jangka panjang, mengingat peristiwa ini terjadi setiap tahunnya.

“Jadi kalau ada normalisasi anak sungai harus dipastikan alirannya betul-betul bisa terkanalisasi, kalau misalnya bisa ke laut, pasti itu akan lebih baik,” kata gubernur.

Ia menjelaskan bahwa menghilangkan banjir sepenuhnya bukan perkara mudah, namun pihaknya berupaya maksimal mengurangi intensitasnya.

“Kami siapkan format semaksimal mungkin termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai ikhtiar mengurangi intensitas hujan. Terakhir hari ini karena ada keterbatasan anggaran yang harus dilakukan untuk pengalokasian program lain,” tuturnya.

Ia menambahkan bencana banjir ini mengakibatkan gagal panen atau puso karena rendaman banjir. Karena itu pihaknya berkomitmen Pemprov Jatim memberikan bantuan benih kepada para petani terdampak.

“Wakil Bupati bersama Dinas Pertanian Jatim sudah melakukan pemetaan, pendataan ada sawah-sawah terdampak. Kalau data itu final, kami siap membantu benih karena itu dinyatakan puso karena rendaman banjir ini,” tegasnya.

Sebagai informasi, berdasarkan laporan BPBD Jatim per Kamis pagi, banjir di Kabupaten Pasuruan disebabkan oleh hujan dengan intensitas sedang hingga deras sejak 24 Maret 2026 yang mengakibatkan luapan sungai serta diperparah oleh kondisi drainase kurang memadai.

Kondisi genangan di Kecamatan Rejoso dilaporkan mencapai setinggi lutut orang dewasa. Genangan ini mengalami peningkatan akibat hujan yang masih terjadi pada malam hingga dini hari, serta dipengaruhi oleh pasang air laut. (*)

Tombol Google News

Tags:

Gubernur Jatim Gubernur Khofifah Khofifah jatim Pemprov Jatim Pemprov banjir pasuuan BPBD Jatim Bencana pompa air Penanganan banjir Hujan deras sungai