KETIK, MALANG – Menjalankan ibadah puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat muslim. Namun bagi penderita penyakit dalam seperti diabetes, hipertensi, maupun dislipidemia atau gangguan lemak darah perlu dilakukan dengan persiapan dan pengawasan medis.
Tujuannya agar umat muslim yang memiliki penyakit dalam tersebut, tetap aman dan tidak memperburuk kondisi kesehatan selama menjalankan ibadah puasa bulan Ramadan.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma, dr. H.R. Muhammad Hardadi Airlangga, Sp.PD mengatakan, bahwa puasa yang baik bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Tetapi juga tentang kesiapan mental, pengaturan medis dan pengendalian diri.
"Bersiasat itu penting. Tentunya, memerlukan langkah strategi agar tetap sehat selama puasa," jelasnya, Jumat, 20 Februari 2026.
Dirinya menungkapkan, pasien dengan penyakit dalam tetap dapat berpuasa. Tetapi, evaluasi kondisi kesehatan dan penyesuaian jadwal obat perlu dilakukan agar ibadah tetap aman.
Pada pasien diabetes misalnya, jadwal minum obat yang biasanya pagi hari dapat disesuaikan saat berbuka puasa sesuai arahan dokter. Karena tubuh perlu penyesuaian, maka sebaiknya diawali makan kurma dan air putih kemudian minum obat, lalu memberi waktu jeda dengan melaksanakan salat Maghrib sebelum mengonsumsi makan utama.
"Untuk makan utama, porsi nasi dianjurkan secukupnya sekitar 100 gram dan dilengkapi sayur, buah dan ikan. Jika makan terlalu banyak di awal berbuka, tubuh akan terasa berat dan bisa mengganggu kenyamanan saat salat tarawih," terangnya.
Untuk menu yang dianjurkan selama Ramadan adalah sayur, buah, dan ikan sebagai sumber serat serta protein sehat. Telur dan susu juga penting untuk menjaga massa otot serta kepadatan tulang.
"Asupan cairan juga menjadi perhatian penting. Kebutuhan minimal delapan hingga sepuluh gelas air per hari tetap harus dipenuhi dengan cara dicicil sejak berbuka hingga sahur," tambahnya.
Meski begitu, konsumsi gula tetap harus diperhatikan dan dibatasi. Apabila kelebihan, maka justru berisiko meningkatkan kadar gula darah dan berat badan.
Kemudian bagi yang sehat, aktivitas fisik tetap dianjurkan selama Ramadan dengan intensitas disesuaikan. Bagi yang terbiasa berolahraga, dapat melakukan alternatif dengan olahraga mendekati waktu berbuka agar tidak sampai dehidrasi.
Selain itu, olahraga malam juga tetap diperbolehkan. Namun sebaiknya melakukan peregangan ringan, agar tubuh tetap memiliki waktu istirahat yang cukup.
"Puasa adalah momentum memperbaiki pola hidup. Jika dijalankan dengan disiplin dan strategi yang tepat, Ramadan dapat menjadi periode yang menyehatkan," tandasnya. (*)
