Pelaku Ekonomi Kreatif Lebak Didorong Kuasai Digital Marketing dan AI

11 Februari 2026 19:40 11 Feb 2026 19:40

Thumbnail Pelaku Ekonomi Kreatif Lebak Didorong Kuasai Digital Marketing dan AI

Ketua Lekraf, Andi Yuliandi. (Foto: Abdul Kohar/ketik.com)

KETIK, LEBAK – Pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Lebak didorong untuk semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi digital, khususnya dalam pemanfaatan digital marketing dan Artificial Intelligence (AI). 

Hal itu mengemuka dalam Workshop Pengembangan Ekonomi Kreatif bertema Digital Marketing dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) yang digelar selama dua hari, 11–12 Februari 2026, di Hotel Maris Rangkasbitung.

Kegiatan tersebut digagas oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak dan diikuti oleh 30 pelaku usaha terpilih dari total 255 anggota yang tergabung dalam komunitas Lebak Ekonomi Kreatif (Lekraf).

Ketua Lekraf, Andi Yuliandi, mengatakan bahwa workshop ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha di tengah pesatnya perkembangan teknologi yang kini memengaruhi hampir seluruh sektor industri, terutama ekonomi kreatif.

“AI saat ini sedang menjadi tren dan sangat berpengaruh terhadap industri kreatif. Kita sebagai pelaku ekonomi kreatif di Lebak tentu harus mampu beradaptasi dengan perkembangan tersebut,” ujar Andi Yuliandi saat diwawancarai ketik.com.

Ia menegaskan bahwa pelatihan ini tidak sekadar mengenalkan teknologi, tetapi juga memberikan pemahaman lebih spesifik tentang bagaimana mengendalikan dan memanfaatkan AI secara bijak dalam strategi pemasaran digital.

Menurutnya, AI hanyalah alat yang diciptakan manusia, sehingga peran utama tetap berada pada sumber daya manusianya. Pemanfaatan teknologi, kata dia, harus diimbangi dengan kreativitas dan karakter yang kuat.

“Kita boleh memanfaatkan AI, tetapi jangan sampai bergantung sepenuhnya. AI itu mesin yang diciptakan manusia. Kuncinya tetap ada pada pelakunya,” tegasnya.

Andi juga mengingatkan bahwa kekuatan utama ekonomi kreatif Lebak terletak pada basis budaya dan kearifan lokal. Di tengah persaingan dengan merek-merek besar nasional maupun global, pelaku usaha daerah dinilai tidak perlu meniru model bisnis korporasi besar, melainkan mengangkat identitas budaya sebagai nilai jual.

“Kita tidak bisa bersaing dengan brand besar seperti Starbucks dalam model bisnis mereka. Tetapi kita punya budaya yang bisa diangkat dan menjadi kekuatan. Kita bisa maju karena kearifan lokal,” katanya.

Ia menambahkan, kemajuan suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan teknologi digital, tetapi juga oleh keberhasilan mengintegrasikan unsur budaya ke dalam produk dan strategi pemasaran.

Workshop ini diikuti 30 peserta karena keterbatasan fasilitas. Dari ratusan anggota Lekraf, panitia memprioritaskan pelaku usaha dari wilayah yang relatif jauh serta mereka yang telah memiliki dasar kemampuan digital marketing, termasuk kalangan anak muda.

“Kami prioritaskan yang sudah memiliki kemampuan dasar digital marketing agar pelatihannya lebih efektif. Banyak peserta yang merupakan anak-anak muda dengan potensi besar,” jelas Andi.

Ke depan, pihaknya berencana membuka kesempatan serupa bagi anggota lainnya agar seluruh pelaku ekonomi kreatif di Lebak dapat merasakan manfaat pelatihan tersebut.

Andi berharap, para peserta yang telah mengikuti workshop dapat membawa pulang bekal pengetahuan dan langsung mengimplementasikannya dalam pengembangan usaha masing-masing.

“AI memang bisa menggeser sebagian fungsi manusia. Tapi kalau kita menolak, kita akan tertinggal. Jika kita ikut dan memanfaatkannya dengan tepat, justru bisa membuka peluang baru bagi ekonomi kreatif di Lebak,” pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Ketua Lekraf Andi Yuliandi Kabupaten Lebak UMKM Lokal Workshop Pengembangan Ekonomi kreatif digital AI ketik.com