KETIK, SLEMAN – Kebijakan RSUD Sleman yang menarik tarif parkir bagi armada ambulans relawan nyaris berujung pada aksi massa besar-besaran.
Ratusan relawan SAR DIY Unit Ambulance yang semula berencana "mengepung" rumah sakit milik Pemkab Sleman tersebut dengan armada mereka pada Jumat 23 Januari 2026, akhirnya mengurungkan niat setelah pihak manajemen rumah sakit mendadak melunak dan meminta maaf.
Rencana aksi audiensi yang dipicu oleh keresahan atas pungutan parkir bagi kendaraan kemanusiaan ini sempat memanas di kalangan relawan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, para relawan merasa kebijakan rumah sakit plat merah tersebut tidak etis, mengingat tugas mereka adalah pelayanan sosial dan kedaruratan bagi masyarakat Sleman.
Intervensi Bupati dan Permohonan Maaf Mendadak
Ketegangan baru mereda setelah adanya intervensi langsung dari Bupati Sleman, Harda Kiswaya. Dalam mediasi darurat yang dilakukan sebelum aksi massa pecah, pihak manajemen RSUD Sleman harus berhadapan langsung dengan pimpinan daerah dan perwakilan relawan.
Hasilnya, pihak RSUD Sleman mencabut kebijakan tersebut dan menetapkan bahwa parkir ambulance di RSUD Sleman gratis tanpa pungutan biaya.
"Pihak RSUD Sleman meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian tersebut," tulis rilis pembatalan aksi relawan SAR DIY yang tersebar luas tersebut, Kamis malam 22 Januari 2026.
Direktur RSUD Sleman, dr Wisnu Murti Yani, saat di konfirmasi Kamis malam 22 Januari 2026 membenarkan informasi tersebut.
Namun, ia memberikan klarifikasi bahwa sebenarnya pihak rumah sakit telah menyediakan fasilitas gratis, meski pada kenyataannya tetap memicu gejolak di lapangan.
Menurut dr Wisnu, pada dasarnya telah disediakan area parkir khusus untuk ambulance dan karyawan yang tidak berbayar. Ia menyebutkan bahwa masalah muncul pada penggunaan area tertentu.
"Semua tidak berbayar. Area yang berbayar hanya basement. Karena area basement merupakan area bisnis pihak ketiga. Area lain selain basement yaitu halaman depan RS, halaman samping dan belakang semua gratis," dalih dr Wisnu via WA.
Irit Bicara Soal Mekanisme
Meski memberikan pembelaan soal pembagian area parkir, dr Wisnu enggan merinci lebih jauh saat disodorkan sejumlah pertanyaan menyangkut detail kebijakan parkir dan mekanismenya hingga sempat terjadi penarikan tarif terhadap relawan. Ia memilih untuk menutup rapat penjelasan teknis melalui pesan singkat.
"Untuk lebih detailnya semua pertanyaan tersebut akan dijawab secara langsung. Monggo bisa ke RSUD.. maturnuwun sangat atas masukan yang membangun," jawabnya singkat.
Munculnya insiden ini tetap menuai kritik tajam. Publik menyayangkan mengapa rumah sakit milik pemerintah daerah sampai membiarkan "area bisnis pihak ketiga" masuk ke dalam wilayah sensitif yang bersentuhan dengan armada kemanusiaan, hingga nyaris memicu demo besar.
"Sangat tidak masuk akal jika ambulance yang membawa pasien darurat atau jenazah masih harus dipusingkan dengan urusan tarif parkir di rumah sakit milik pemerintah sendiri," ujar salah satu relawan yang enggan disebutkan namanya.
Meskipun agenda audiensi dan konvoi armada ambulance resmi dibatalkan, kejadian ini menjadi catatan merah bagi manajemen RSUD Sleman dalam menyusun kebijakan yang seharusnya lebih berpihak pada nilai kemanusiaan daripada kepentingan bisnis pihak ketiga.(*)
