KETIK, JAKARTA – Di tengah kecamuk perang antara Iran dan Israel yang kini memasuki hari kedelapan, denyut nadi ibadah di dua kota suci, Makkah dan Madinah, dilaporkan tetap stabil dan kondusif.
Berdasarkan pengamatan langsung jurnalis Ketik.com, yang telah berada di Madinah sejak Kamis malam, 5 Maret 2026. Hingga Minggu, 8 Maret 2026, suasana Ramadan di Masjid Nabawi sama sekali tidak terpengaruh oleh eskalasi militer yang mengguncang wilayah utara Teluk Persia.
Jutaan jemaah umrah dari berbagai penjuru dunia, termasuk dari Indonesia, tetap menjalankan rangkaian ibadah dengan penuh kekhusyukan. Suasana di Masjid Nabawi justru kian syahdu seiring masuknya fase pertengahan Ramadan 1447 Hijriah.
Ritual buka puasa bersama yang membentang di sepanjang pelataran masjid tetap menjadi momen paling dinanti, di mana ribuan orang berkumpul dalam suasana damai tanpa sedikit pun raut kepanikan. Fokus utama para tamu Allah tetap tertuju pada aktivitas iktikaf dan salat tarawih berjamaah di dalam masjid maupun di bawah payung-payung raksasa Nabawi.
Ketenangan ini juga diamini oleh Gofur, jemaah umrah asal Jambi yang tengah berada di Madinah. Ia mengaku sempat merasa khawatir saat mendengar kabar pecahnya konflik di hari-hari awal keberangkatannya, namun kecemasan itu sirna begitu menginjakkan kaki di Tanah Suci.
"Awalnya keluarga di Jambi sempat cemas dan terus bertanya kondisi di sini. Tapi setelah saya sampai dan melihat sendiri betapa damainya suasana di Masjid Nabawi, saya justru merasa sangat tenang. Di sini kita fokus beribadah saja, tidak ada suasana perang sama sekali," ungkap Gofur diamini istrinya.
Satu potret dari sudut kota Madinah, Sabtu 9 Februari 2026, menceritakan kisah ketenangan yang kontras dengan berita peperangan. Di toko-toko seperti Jawa Al Madina, aktivitas perdagangan tetap berdenyut kencang. (Foto: Mira/Ketik.com)
Kondisi serupa terjadi di Kota Suci Makkah. Sapto, narasumber Ketik.com yang saat ini sedang menjalankan ibadah di Makkah, mengonfirmasi bahwa aktivitas di Masjidil Haram berjalan normal dan sangat padat oleh jamaah yang mengejar keutamaan Ramadan.
Menurut Sapto, arus jemaah yang melakukan tawaf dan sai tetap mengalir lancar meskipun terdapat pemeriksaan keamanan yang lebih teliti namun tetap humanis di pintu-pintu masuk kawasan haram. Ia menegaskan bahwa tidak ada kebijakan pembatasan ibadah yang diberlakukan otoritas setempat terkait situasi keamanan regional.
Kekhusyukan ini juga dirasakan langsung oleh Hariyanto, jamaah umrah asal Yogyakarta yang di temui Ketik.com sedang berada di Madinah. Ia mengungkapkan bahwa pelayanan di Masjid Nabawi tetap prima dan komunikasi dengan keluarga di tanah air tetap lancar.
Berdasarkan pantauan di lapangan sejak tiba tiga hari lalu, otoritas keamanan Arab Saudi memang terlihat berjaga seperti biasa dengan tetap mengedepankan pendekatan pelayanan. Tidak terlihat adanya mobilisasi militer yang mencolok di area perhotelan maupun pusat keramaian di sekitar situs-situs suci.
Kehidupan ekonomi di sekitar masjid, mulai dari pertokoan hingga layanan katering bagi jamaah, dilaporkan tetap beroperasi penuh tanpa kendala logistik berarti.
Meskipun beberapa maskapai internasional melakukan penyesuaian rute penerbangan untuk menghindari zona konflik di utara, operasional bandara di Jeddah dan Madinah terpantau tetap terjaga, memberikan kepastian bagi jamaah untuk menyelesaikan seluruh rangkaian umrah hingga akhir.
Laporan dari Madinah dan Makkah ini menjadi penegas bahwa wilayah Hijaz tetap menjadi zona aman bagi para tamu Allah di tengah panasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. (*)
