KETIK, MALANG – Menjelang Lebaran, jasa penukaran uang di pinggir jalan kembali bermunculan. Di balik lapak sederhana tersebut, kepercayaan menjadi faktor krusial yang harus dijaga para pelaku usaha, terutama di tengah keraguan masyarakat terkait keaslian serta ketepatan jumlah uang yang ditukarkan.
Situasi itu turut dirasakan Irma (27), warga Kota Malang, yang telah menekuni usaha penukaran uang sejak 2019. Berawal dari ajakan sang ayah, Irma memberanikan diri membuka jasa penukaran uang di pinggir jalan, tepatnya di sekitar kawasan alun-alun. Tak disangka, usaha tersebut bertahan hingga kini dan rutin hadir setiap Ramadan.
“Awalnya tidak kepikiran untuk buka jasa tukar uang. Bapak saya ngajak coba buka di depan alun-alun berdua. Tahun pertama dicoba, ternyata keterusan sampai sekarang,” ujar Irma saat ditemui di lokasi.
Meski terbilang sederhana, usaha tersebut tidak lepas dari tantangan. Irma mengaku kerap menghadapi keraguan pelanggan, terutama soal kemungkinan uang kurang atau palsu. Untuk menjaga kepercayaan, ia selalu memberi kesempatan pelanggan menghitung uang di tempat.
“Saya selalu bilang, silakan dihitung langsung. Kalau ada kurangnya, bisa langsung bilang,” katanya.
Selain soal kepercayaan, tantangan lain datang dari penertiban aktivitas di ruang publik. Irma mengaku beberapa kali harus membuka dan menutup lapak ketika petugas berkeliling melakukan pengawasan. Meski demikian, ia berharap usahanya bisa terus berjalan lancar, berkembang, dan memiliki modal yang lebih besar ke depannya.
