KETIK, SURABAYA – Bedug Maghrib di bulan Ramadan selalu punya keajaiban tersendiri. Ia mampu mengubah segelas air putih bersuhu ruang menjadi minuman paling mewah sejagat raya. Namun mari jujur, saat jarum jam mulai merayap ke angka lima sore, yang terbayang di kepala kita jarang sekali sekadar air putih.
Aroma gorengan, bakwan atau dadar jagung yang baru diangkat dari wajan, dinginnya es campur dengan sirup merah menyala, hingga legitnya kolak pisang seolah berteriak memanggil dari meja makan.
Tradisi kita memang gemar menjadikan momen berbuka sebagai cara "balas dendam". Pertanyaannya, apakah menu paripurna yang memanjakan lidah ini benar-benar yang dibutuhkan tubuh setelah belasan jam pencernaan berpuasa?
Merujuk pada pedoman gizi dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), tradisi "balas dendam" ini sayangnya keliru. Menghentak lambung yang kosong seharian dengan makanan tinggi lemak seperti gorengan dan minuman bergula olahan ibarat menyalakan mesin mobil yang dingin, lalu seketika menginjak pedal gas dalam-dalam dan tubuh akan kaget.
Melalui panduan Ayo Sehat dan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kemenkes secara gamblang mengingatkan bahwa minuman yang terlalu manis dan makanan berat yang digoreng akan memaksa lambung bekerja ekstra keras.
Hasil akhirnya sudah bisa ditebak: rasa begah, potensi gangguan pencernaan dan kantuk luar biasa yang menyerang tepat saat rakaat kedua salat tarawih.
Lantas, hidangan seperti apa yang bisa menyambut lambung dengan ramah menurut kacamata medis?
Kuncinya ada pada kelembutan dan rehidrasi. Kemenkes sangat menganjurkan untuk membatalkan puasa dengan segelas air putih hangat dan beberapa butir kurma. Memilih air putih hangat untuk berbuka ternyata memiliki peran krusial.
Alih-alih es sirup yang justru memicu kontraksi pada lambung kosong, air hangat membantu melakukan detoksifikasi tubuh secara alami, merelaksasi pencernaan, serta mencegah sembelit.
Sementara itu, kurma sangat direkomendasikan karena padat akan gula alami, serat, vitamin dan mineral. Glukosa alami pada kurma sangat mudah dipecah sehingga mampu menaikkan kadar gula darah anjlok secara perlahan dan presisi. Ia mengembalikan energi yang hilang tanpa memicu lonjakan insulin yang drastis.
Bagi yang mungkin kurang menyukai tekstur kurma, Kemenkes menyarankan alternatif buah-buahan segar bersuhu sejuk yang manis dan tidak asam, seperti semangka, melon, apel atau pisang.
Kandungan airnya yang tinggi mengembalikan hidrasi sel-sel tubuh yang mengering, sementara serat alaminya berfungsi sebagai "pemanasan" bagi usus.
Satu aturan emas dari pakar kesehatan yang sering dilupakan yakni beri jeda pada lambung.
Kemenkes menggarisbawahi pentingnya makan secara bertahap. Waktu yang dihabiskan untuk menunaikan Salat Maghrib sebenarnya adalah masa transisi krusial. Setelah menyantap sajian pembuka yang ringan, barulah kita bergeser ke hidangan utama.
Pastikan piring diisi dengan gizi seimban, mengandung karbohidrat kompleks (seperti nasi merah atau gandum), protein tidak digoreng berlebihan serta sayur-sayuran hijau yang kaya serat.
Pada akhirnya, esensi berbuka puasa bukanlah merayakan kelaparan dengan pesta pora di meja makan. Memilih menu yang tepat saat berbuka, sebagaimana anjuran medis, bukan sekadar urusan menghitung kalori, melainkan bentuk empati paling dasar dari kita, untuk merawat tubuh yang sudah rela diajak bersabar seharian.(*)
