KETIK, JAKARTA – Setiap negara memiliki cara tersendiri dalam merayakan momen pergantian tahun, tergantung pada budaya dan kebiasaan masyarakatnya.
Salah satunya melalui kepercayaan terhadap makanan yang dijadikan simbol harapan, rezeki, dan keberuntungan di awal tahun.
Beberapa negara memiliki kepercayaan terhadap makanan yang berbentuk bulat. Hal ini karena bentuk bulat melambangkan keutuhan dan siklus hidup, serta dianggap sebagai simbol keberuntungan dan kelimpahan. Selain itu, banyak budaya mengaitkan bentuk makanan dengan doa dan harapan.
Contoh makanan berbentuk bulat yang populer adalah anggur di Spanyol, di mana masyarakat setempat biasanya memakan 12 butir anggur tepat saat tengah malam Tahun Baru.
Lentil dari Italia juga menjadi bagian dari tradisi, karena melambangkan koin dan kemakmuran. Sementara itu, Belanda memiliki oliebollen, donat bulat yang menjadi simbol kehangatan saat pergantian tahun.
Tak hanya itu, buah jeruk di beberapa budaya Asia juga dianggap sebagai simbol rezeki. Di beberapa negara Barat, donat dan kue berbentuk bulat turut menjadi pilihan dalam tradisi menyambut Tahun Baru.
Makanan-makanan ini biasanya dimakan tepat saat atau setelah pergantian tahun, serta disantap bersama keluarga maupun komunitas. Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun dan masih dijaga hingga kini.
Tradisi ini tetap dilestarikan meski gaya hidup masyarakat terus berubah, dengan adanya adaptasi menu sesuai selera modern. Meski demikian, makna simbolik di balik makanan tersebut tetap terjaga.
Makanan sederhana dengan bentuk bulat bukan sekadar hidangan, melainkan juga menjadi simbol harapan akan awal tahun yang utuh dan penuh keberuntungan. (*)
