KETIK, SAMPANG – Tidak adanya kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Batuporo Timur 1, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, mendapat perhatian serius dari Komisi IV DPRD Sampang.
Sekolah tersebut tampak sepi tanpa kehadiran satu pun siswa. Sementara itu, sejumlah guru terlihat bersantai di dalam ruang kelas.
Kondisi gedung sekolah terlihat masih kokoh, namun halaman dan teras sekolah dipenuhi rumput liar sehingga terkesan tidak terawat.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Sampang, Mahfud, menyatakan pihaknya akan segera memanggil Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap satuan pendidikan, khususnya terkait validasi data siswa.
"Kami akan memanggil Dinas Pendidikan. Jangan-jangan data siswa ini ganda atau terdaftar di dua tempat. Informasi yang kami terima, siswa hanya masuk sekolah pada hari Jumat saja. Ini harus segera divalidasi," tegasnya, Jumat, 22 Januari 2026.
Mahfud juga menyayangkan sikap tenaga pendidik di sekolah tersebut yang dinilainya tidak profesional karena memanfaatkan jam belajar untuk aktivitas yang tidak produktif.
"Kita tidak kekurangan sumber daya manusia, tetapi justru SDM yang ada menggunakan fasilitas negara untuk hal-hal yang tidak produktif, seperti ngerumpi saat jam sekolah," ujarnya.
Menurut politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, kasus SDN Batuporo Timur 1 merupakan gambaran dari lemahnya sistem pengawasan pendidikan di Kabupaten Sampang.
Ia menyoroti banyaknya pengawas sekolah yang telah memasuki masa pensiun tanpa adanya penggantian atau penunjukan pengawas baru.
Komisi IV DPRD Sampang pun mendesak pemerintah daerah agar segera melakukan rekrutmen atau penunjukan tenaga pengawas sekolah demi menjaga mutu pendidikan.
"Kalau hanya mengandalkan dinas, kepala bidang, atau seksi, tentu tidak cukup untuk mengawasi ratusan sekolah. Idealnya, minimal satu kecamatan memiliki dua pengawas sekolah," sarannya.
Mahfud menegaskan bahwa keberadaan pengawas sekolah sangat penting sebagai instrumen kontrol agar data Dapodik sesuai dengan kondisi riil di lapangan serta pelaksanaan kurikulum berjalan sebagaimana mestinya.
"Kalau tidak ada pengawas, siapa yang akan memantau? Jika kepala sekolah dan guru memiliki visi yang kuat mungkin tidak masalah, tetapi jika tidak, kejadian seperti di Batuporo ini akan terus terulang," pungkasnya. (*)
