Luka yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh

Kisah Penyintas Bullying dari Bangku SMP hingga Kuliah

12 Februari 2026 16:54 12 Feb 2026 16:54

Thumbnail Kisah Penyintas Bullying dari Bangku SMP hingga Kuliah

Ilustrasi perundungan (Foto: Dok. Ketik.com)

KETIK, JAKARTA – Bullying tak selalu berbentuk pukulan atau ancaman fisik. Bagi AB (21) pengalaman tersebut sangat berdampak panjang terhadap psikologis, kepercayaan diri, hingga hubungan sosialnya sampai masa kuliah.

Perundungan itu bermula sejak ia duduk di kelas 2 SMP. Meski tidak pernah sekelas dengan pelaku, hampir setiap kali berpapasan, ia kerap menjadi sasaran ejekan dalam bentuk nyanyian.

“Setiap ketemu bisa sampai empat kali sehari. Rasanya kesal, tapi mau melawan juga mereka banyak,” tuturnya.

sembari mengusap air mata. Ejekan itu dia lontarkan bersama teman-temannya.

Ia mengaku tak pernah benar-benar tahu alasan mengapa dirinya menjadi sasaran. Ironisnya, pelaku tetap bersikap baik ketika membutuhkan bantuan. 

Ejekan itu perlahan megurangi kepercayaan dirinya. Ia mulai takut tampil di depan umum dan merasa selalu menjadi bahan tertawaan. 

Dampaknya bahkan berlanjut hingga masa SMA. Ketika pelaku pindah sekolah, ia mengaku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. 

“Bahagia banget waktu tahu dia nggak lanjut SMA di sini,” ungkapnya.

Namun luka itu belum sepenuhnya pergi. Di SMA, perundungan kembali ia alami, kali ini berkaitan dengan fisik. Fotonya diedit dan dijadikan bahan ejekan. 

Meski berani melawan dengan ancaman melapor ke guru, ia mengaku tetap menangis setelahnya. Pengalaman itu membuatnya mundur dari berbagai ajang lomba dan kesempatan tampil.

“Aku jadi nggak mau lagi ikut lomba tampil yang offline. Takut dikatain lagi,” ujarnya.

Rasa takutnya terbawa hingga bangku kuliah. Ia mengaku selalu dihantui kecemasan akan penilaian orang terhadap fisiknya. Ia juga takut bertemu dengan orang baru. 

Demi diterima lingkungan, ia merasa harus bersikap sangat ramah dan banyak memberi bantuan, seolah menciptakan “utang budi” agar tidak ditinggalkan.

“Aku takut nggak ditemenin karena aku gendut,” katanya jujur.

Pengalaman serupa kembali terjadi saat kegiatan di kuliah. Tatapan dari atas ke bawah hingga penolakan halus, membuatnya kembali merasa terasing. Meski kini ia lebih berani bersuara, rasa sakit itu tetap membekas.

“Aku belajar, kalau terus diam, aku bakal makin ditindas,” ujarnya.

Dari pengalaman itu, ia mengaku menjadi lebih peka terhadap sesama, terutama mereka yang kerap direndahkan karena fisik. 

“Sekarang aku cuma berdoa, semoga selalu dipertemukan dengan teman yang baik, sayang aku, dan menerima aku apa adanya,” tuturnya menutup cerita.(*)

Tombol Google News

Tags:

perundungan smp Kuliah