Sepak bola merupakan cabang olahraga yang paling digemari, tak terkecuali di Trenggalek. Selain sebagai cabang olahraga (cabor) yang merakyat, sepak bola juga bisa dijadikan ikon sebuah daerah.
Apalagi dukungan dari pemerintah di mana APBD bisa digunakan untuk klub-klub amatir. Misalnya untuk klub Liga 3 dan liga 4. Nah, ini bisa menjadi momentum untuk kembali menggairahkan sepak bola di Trenggalek, setelah absen di Liga 4 2025-2026.
Apalagi prestasi sepak bola Trenggalek tidaklah terlalu buruk di tingkat regional. Baik itu di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) ataupun di level kompetisi amatir.
Bahkan pernah mencapai masa kejayaan di tahun 2013 dan 2018 sebagai juara Divisi III Nasional dan Juara Liga 3 Jawa Timur. Tentu ini akan menjadi tantangan bagi semua pihak terkait untuk mendukung sekaligus menjadi jembatan untuk mengembalikan masa kejayaan tersebut.
Fakta yang tak terbantahkan adalah kebijakan PSSI yang memperbolehkan APBD untuk pembiayaan klub Liga 3 dan Liga 4 yang berstatus amatir mulai musim 2025-2026. Salah satu tujuannya untuk mendorong pembinaan usia muda, membantu kesulitan pendanaan klub amatir, dan operasional tim.
Sehingga, ini perlu menjadi bahan renungan bersama para elit akan kepedulian sepak bola di Trenggalek. Meskipun ada keterbatasan anggaran dalam merealisasikan hal tersebut. Termasuk memecahkan skema anggaran untuk sepak bola.
Diakui atau tidak, Trenggalek pernah merasakan dampak akan keberhasilan salah satu klub, yakni Persiga yang sukses di kancah regional dan nasional. Tak main-main, Ketua PSSI waktu, Johar Arifin berkesempatan datang. Bahkan, Timnas pun pernah mencicipi Stadion Menak Sopal untuk bertanding melawan Persiga pada tahun 2013.
Kemudian, ada pemain skuad Persiga yang sempat dipanggil Timnas Asean Games Seoul Korsel dan ada juga yang bermain di klub-klub ternama. Tentu ini memori indah yang sulit terlupakan dan masih berpotensi bisa terulang kembali jika melihat talenta-talenta berbakat yang ada. Contohnya. ada SSB di Trenggalek yang sukses di even-even regional. Sebut saja SSB Poras.
Publik tentu akan menunggu bagaimana kolaborasi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) bersama Dinas Pemuda dan Olahraga. Termasuk kehadiran Ketua DPRD Kabupaten Trenggalek, Doding Rahmadi sebagai ketua umum. Paling tidak ada optimalisasi anggaran untuk sepak bola. Tanpa bermaksud mengesampingkan anggaran Cabor lain.
Masyarakat pencinta sepak bola di Trenggalek tentu tidak sabar akan kebangkitan klub kebanggaannya, termasuk para suporter fanatiknya. Pun demikian dengan kemegahan Stadion Menak Sopal di kawasan Mataraman untuk ukuran klub amatir tentu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Kalau boleh jujur, Persiga merupakan salah satu klub kuat di kawasan Mataraman, bahkan di Jawa Timur. Belum lagi capaian di dua kali Porprov yang bisa dibilang lebih mentereng dibandingkan beberapa kabupaten tetangga. Pendeknya, tidak ada alasan untuk tidak mensupport anggaran untuk sepak bola.
Seperti kita ketahui bersama, saat ini gairah sepak bola di tanah air sedang menggeliat dan hampir setiap stadion penuh di saat tim kebanggaannya tampil. Termasuk fanatiknya para suporter pendukung Persiga saat tampil di Stadion Menak Sopal. Bahkan, saat a way pun mereka cukup setia mendukung.
Jika saja, support anggaran APBD di tahun ini minim tentu akan menjadi preseden buruk akan nasib sepak bola di Trenggalek. Mengingat minimnya sponsor yang ada. Semoga semua pihak terkait untuk duduk bareng menatap sepak bola Trenggalek, Bravo sepak bola
*) Agus Riyanto merupakan Kepala Biro Ketik.com Trenggalek
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
