KETIK, PROBOLINGGO – Dalam proses belajar mengajar, efektivitas penyampaian materi tidak hanya bergantung pada isi pesan, tetapi juga pada ketepatan waktu dan kondisi psikologis penerimanya. Kiai Zuhri Zaini Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid mengingatkan para pendidik dan pemberi nasihat untuk meneladani kebijaksanaan sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud, agar tidak memaksakan intensitas yang justru memicu kebosanan.
Kisah ini berawal dari kebiasaan Ibnu Mas’ud yang memberikan nasihat kepada para tabiin hanya setiap lima hari sekali. Meski ada murid yang meminta agar nasihat diberikan setiap hari, Ibnu Mas’ud dengan tegas menolak demi menjaga antusiasme mereka.
"Perhatikanlah, sesungguhnya aku dilarang untuk memberikan peringatan setiap hari karena takut kalian mengalami kebosanan," ujar Ibnu Mas’ud sebagaimana dikisahkan kembali oleh Kiai Zuhri saat mengajar kitab Riyadhus Sholihin di Masjid Jami' Nurul Jadid. Rabu, 4 Januari 2026.
Kiai Zuhri menjelaskan bahwa cerita tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan modern. Seorang guru harus memiliki kepekaan untuk membaca situasi kelas. Menurutnya, memaksakan materi saat murid sudah jenuh hanya akan menyia-nyiakan energi.
“Guru harus mengetahui kondisi murid yang diajari. Jika sekiranya sudah mengalami kondisi bosan, maka harus ada cara lain,” tegasnya. Beliau menambahkan bahwa dalam memberi nasihat maupun khotbah, seseorang tidak boleh hanya mengikuti keinginan atau ego pribadi, melainkan wajib menyesuaikan dengan kebutuhan audiens.
Selain metode mengajar, Kiai Zuhri juga merujuk pada teladan Rasulullah SAW dalam memimpin jamaah. Rasulullah dikenal sangat memperhatikan kondisi orang lain; beliau cenderung mempersingkat shalat saat menjadi imam demi kemaslahatan makmumnya.
Sebaliknya, saat melakukan shalat malam (qiyamul lail) sendirian, Rasulullah sanggup berdiri sangat lama dengan membaca surat-surat panjang. Hal ini menunjukkan kontras yang jelas: saat beribadah sendirian, seseorang bebas berlama-lama, namun saat bersama orang lain (jamaah atau murid), kenyamanan dan kesiapan mereka adalah prioritas utama. (*)
