Jejak Kiai Zaini Mun’im Ponpes Nurul Jadid Bangun Kemandirian Umat Lewat Tembakau dan Pertanian

17 Januari 2026 21:15 17 Jan 2026 21:15

Thumbnail Jejak Kiai Zaini Mun’im Ponpes Nurul Jadid Bangun Kemandirian Umat Lewat Tembakau dan Pertanian

KH. Moh. Zuhri Zaini saat memberikan tausyiah di halaqoh alumni Pesantren Nurul Jadid (Foto : Ponirin Mika/Ketik.com)

KETIK, PROBOLINGGO – Sosok pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Jadid, KH Zaini Mun’im, dikenal bukan hanya sebagai ulama dengan penguasaan keilmuan agama yang kuat, tetapi juga pelopor kemandirian ekonomi masyarakat di sekitar pesantren.

Melalui pendekatan yang humanis dan berpandangan jauh ke depan, Kiai Zaini memadukan dakwah Islam dengan pemberdayaan sektor pertanian dan perdagangan sebagai basis penguatan umat.

Kisah perjuangan tersebut kembali disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, KH Moh Zuhri Zaini, dalam sambutan halaqah alumni yang digelar Sabtu, 17 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Kiai Zuhri mengungkap bagaimana Kiai Zaini turun langsung ke lapangan untuk mengubah kondisi ekonomi warga, salah satunya dengan memperkenalkan budidaya tembakau di wilayah Tanjung.

"Dulu masyarakat tidak mau menanam tembakau karena tidak bisa dimakan. Namun, Kiai Zaini membawa pengalaman menanam tembakau dari Madura dan membuktikannya sebagai komoditas ekonomi yang kuat," ujar Kiai Zuhri di hadapan peserta halaqah.

Ia menuturkan, keberhasilan tembakau sebagai sumber ekonomi bukan hanya mengangkat kesejahteraan warga, tetapi juga menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan pesantren. Masjid pertama di lingkungan Pondok Pesantren Nurul Jadid bahkan dibangun murni dari hasil penjualan tembakau milik Kiai Zaini. Nilai historis inilah yang membuat keluarga besar pesantren memandang tembakau sebagai salah satu pilar perjuangan.

Selain tembakau, Kiai Zaini juga dikenal memiliki etos kerja tinggi dan keteguhan dalam bertindak. Ia memimpin langsung kerja bakti, mulai dari membakar bata, menanam pohon kelapa, hingga mengolah lahan tegalan yang tandus menjadi sawah yang produktif. Keteladanan tersebut memberi contoh nyata bahwa dakwah juga membutuhkan kerja keras dan keberanian mengambil risiko.

Pendekatan ekonomi juga digunakan Kiai Zaini dalam meluruskan tradisi masyarakat yang tidak sejalan dengan syariat. Salah satu contoh yang dikenang adalah saat beliau mengubah tradisi sesajen di sawah.

Alih-alih melarang dengan kekerasan atau "pentungan", Kiai Zaini mengubah bentuk sesajen (bubur merah-putih untuk makhluk halus) menjadi tumpeng nasi yang lengkap dengan lauk-pauk.

Ia kemudian mengajak petani membaca Yasin dan Tahlil bersama, lalu memakan hidangan tersebut bersama-sama.

"Jadi yang asalnya sesajen diubah menjadi tumpeng. Yang memakan bukan lagi 'yang halus' (jin), tapi 'yang kasar' (manusia). Ini adalah cara bijak merubah tradisi tanpa menimbulkan kemarahan," tambahnya.

Kiai Zuhri berharap agar santri dan alumni mampu meneladani etos kerja Kiai Zaini. Dakwah masa kini dituntut tidak hanya menyentuh aspek ritual-spiritual, tetapi juga masuk ke ruang sosial-ekonomi guna memperkuat posisi umat di mata dunia.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kiai Zuhri Zaini Halaqoh Alumni Sosial ekonomi KH Zaini Mun’im Pondok Pesantren Nurul Jadid kemandirian ekonomi umat tembakau Tanjung dakwah sosial ekonomi pesantren dan pertanian