KETIK, SIDOARJO – Dokter Sriatun Subandi memberikan pencerahan. Kepada para orang tua, anggota DPRD Jatim tersebut meminta orang tua jangan punya pemikiran untuk segera menikahkan anak perempuan yang belum cukup umur. Bukan meringankan orang tua, langkah itu justru memberatkan keluarga. Risikonya besar.
”Kalau belum waktunya dinikahkan, malah bisa menambah beban orang tua,” kata dr Sriatun saat menjadi pembicara dalam Sosialisasi Pernikahan Dini dan Kesehatan Reproduksi di Hotel Luminor Sidoarjo pada Rabu (4 Februari 2026).
Usia nikah yang ideal bagi remaja perempuan adalah 21 sampai 25 tahun. Adapun remaja laki-laki 25 sampai 30 tahun. Rentang umur tersebut akan memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk menuntaskan pendidikan mereka. Masa depan diharapkan lebih cerah.
Di sebagian masyarakat, lanjut dia, masih banyak orang tua yang ingin meringankan beban biaya keluarga. Anak pertama perempuan segera dinikahkan dengan lelaki yang mapan. Bisa bantu-bantu membiayai adik-adiknya sekolah.
Yang menjadi pertanyaan, apakah anak-anak itu benar-benar sudah mentas. Bisa hidup mandiri. Itu tidak akan bisa. Jangan-jangan mereka justru masih bergantung pada orang tua atau mertua.
Risiko lebih berbahaya bisa terjadi pada faktor kesehatan. Pernikahan dini bisa berpengaruh ke kesehatan reproduksi calon ibu. Anak perempuan tidak boleh hamil dulu. Sebab, pinggulnya sempit. Organ reproduksi belum matang. Bisa terjadi keguguran.
”Bisa juga timbul infeksi dan kanker,” papar legislator DPRD Jatim dari PKB itu.
Ada lagi risiko terkait masa depan keluarga yang menikah dini. Apa itu? Munculnya penyakit menular seksual (PMS). Itu mungkin terjadi akibat suami belum dewasa. Tidak paham kondisi istri. Setelah istri melahirkan, merawat bayi, maupun mengurus rumah tangga, suaminya tidak mampu menahan nafsunya.
Dia akhirnya melakukan hubungan dengan selain pasangannya yang sah. Akibatnya bisa fatal. Dia rawan terkena penyakit menular seksual dari orang lain. Misalnya, HIV. Penyakit itu akan menular ke istrinya.
”Kami titip-titip anak-anak kita ya Bapak-Ibu. Mari kita bersama berupaya supaya nikah dini di Sidoarjo bisa turun. Syukur-syukur sampai tidak ada,” ungkap Sriatun yang juga dikenal sebagai Bunda PAUD Sidoarjo tersebut.
Anggota Komisi E DPRD Jatim dr Sritun Subandi (tengah) diapit oleh Imelda Stefanni dan Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori bersama penyelenggara Sosialisasi Pernikahan Dini dan Kesehatan Reproduksi di Hotel Luminor Sidoarjo pada Rabu (4 Februari 2026).
Data permohonan dispensasi nikah (diska) di kabupaten/kota di Provinsi Jatim tercatat 15.212 permohonan. Tiga kabupaten tertinggi adalah Malang, Jember, dan Kabupaten Probolinggo. Di Kabupaten Sidoarjo, data Dinas P3AKB menyebutkan angkanya terus turun. Pada 2022, jumlah diska mencapai 246, pada 2023 (206), 2024 (171), dan 2025 (102).
Kegiatan Sosialisasi Pernikahan Dini dan Kesehatan Reproduksi itu diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Sidoarjo, Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo M. Dhamroni Chudlori. Pesertanya berbagai kalangan. Baik organisasi remaja, ormas perempuan, maupun para orang tua.
”Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini. Kami ingin berkolaborasi antara Pemkab Sidoarjo, DPRD Sidoarjo, dan DPRD Jatim untuk memfasilitasi,” tambah Sriatun Subandi.
Ketua Komisi D DPRD Sidoarjo Dhamroni Chudlori mengingatkan para orang tua bahwa persoalan remaja lebih sering dipicu oleh kondisi keluarga. Selain itu, paparan media sosial juga sangat berpengaruh.
Tugas dan tantangan bagi orang tua adalah bagaimana anak-anak bisa merasa memiliki sekaligus dimiliki keluarga. Di satu sisi, orang tua jangan memasrahkan anak-anak perempuan kepada orang lain meski cuma sebentar. Sebab, kekerasan seksual maupun fisik terhadap anak sering dilakukan oleh orang-orang terdekat.
”Itu sangat berbahaya,” tegas legislator DPRD Sidoarjo dari PKB tersebut.
Paparan konten media sosial sering membuat anak-anak matang sebelum waktunya. Sekarang anak usia kelas V SD saja sudah bisa menstruasi dan masuk masa pubertas. Mereka juga intens bermain gadget dan mengonsumsi konten media sosial.
”Jangan gampang-gampang curhat di media sosial. Masalahnya, di IG, misalnya, banyak kucing garong berkeliaran,” tambah ketua Fraksi PKB di DPRD Sidoarjo tersebut.
Narasumber lain adalah praktisi ilmu komunikasi Imelda Stefanni. Presenter cantik yang masih belia itu berpesan kepada sesama anak-anak muda agar berpikir matang sebelum memutuskan menikah. Meneruskan dulu pendidikan lebih penting buat masa depan. Jangan mudah dirayu dengan kata-kata cinta.
”Tidak cukup hanya modal cinta atau ungkapan Kupinang Kau dengan Bismillah,” tuturnya. (*)
