Berbagai bencana, termasuk bencana banjir bandang di Aceh dan Sumatera Utara yang masih menyisakan persoalan bagi negara ini, seharusnya semakin membuat kita melakukan redefinisi dan evaluasi terhadap kehidupan kita di semua aspek, baik dari aspek ekonomi, politik, kebudayaan.
Terlebih lagi dalam cara berpikir dalam menyikapi kehidupan kita yang kualitasnya kian memburuk dengan ancaman ruang hidup yang tidak lagi layak untuk masa depan.
Dari sisi ekonomi, ada yang salah dari sistem ekonomi kapitalis yang “melembagakan” ketamakan. Jika diukur dari munculnya era industrialisasi modern yang berpatokan dari berbagai revolusi borjuis menghancurkan feodalisme di Barat, sistem ini belum berjalan selama setengah milenium.
Tapi sejak ilmu pengetahuan dan teknologi ditemukan dan berkembang pesat, daya rusaknya terhadap alam sudah melahirkan berbagai ancaman baik pada skala lokal, nasional, hingga global.
Ancaman perubahan iklim akibat penggundulan hutan maupun “ulah tangan-tangan manusia” lainnya—meminjam bahasa Al-Qur’an surat Ar-Rum ayat 41—telah menghasilkan kerusakan lingkungan dengan tingkat keparahan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.
Hilangnya hutan menyebabkan banjir yang membuat korban bencana hidup diliputi kesedihan. Untuk melakukan ‘recovery’ (pemilihan), juga rehabilitasi untuk korban, butuh waktu lama dan biaya besar. Belum lagi bencana alam lainnya yang bakal terus terjadi akibat pola-pola cuaca yang sulit ditebak akibat pemanasan global dan perubahan iklim.
Untuk Negara Indonesia, kehidupan politik yang juga mencampuri sistem ekonomi juga memperparah kerusakan alam. Para politisi yang mendominasi Negara adalah orang-orang yang miskin ideologi ekologisme.
Dunia politik dikendalikan oleh para kapitalis, oligarki, dan penumpuk modal yang menekankan pada industri ekstraktif dan pertanian monokultur.
Dengan mengangkangi Negara untuk kepentingan mengakumulasi modal dan kekayaan, sebagian untuk biaya politik elektoral dalam budaya politik transaksional dan butuh ‘high-cost’, mereka berebut hak mengeksploitasi alam.
Indonesia adalah Negara yang politiknya punya andil besar untuk mempercepat kerusakan alam. Ketiadaan Partai Hijau seperti Negara-negara Eropa, juga kesadaran ekologis di kalangan elit dan masyarakat, tampaknya menjadikan agenda pelestarian dan pemulihan lingkungan hidup absen dari agenda kebangsaan. Sementara itu, di ranah moral-relijius, para tokoh agama juga sibuk memfokuskan diri pada pemikiran dan tindakan asketisme.
Tuhan dan Alam
Ajaran Islam, misalnya, ditafsirkan sebagai agama yang hanya menjadikan masyarakat membangun kesalehan individual dengan fokus pada menumpuk surga dengan ibadah-ibadah ritualistik.
Para penceramah terlalu banyak memberikan kiat bagaimana caranya masuk surga, fadilah-fadilah berupa doa, dan yang seringkali kita dengar adalah ajakan mereka agar masyarakat yang diceramahinya tidak memikirkan dunia yang, katanya, tidak dibawa mati. “Jangan terlalu serius mikir dunia, soalnya ia tidak kamu bawa mati!”, begitu yang sering saya dengar dari ceramah mereka.
Kedekatan para elit agama Islam dengan para pengusaha yang sering mengeksploitasi alam, terutama pengusaha tambang, membuat agamawan menghindari elaborasi ajaran Islam yang sangat tegas dalam menyerukan perawatan terhadap alam dan ayat-ayat Allah yang membenci para perusak lingkungan. Sikap dan tindakan yang mengarah pada kerusakan alam adalah tindakan yang dibenci oleh Allah.
Islam diturunkan Allah melalui Nabi Muhammad untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam (rahmatan lil-alamin). Ajaran ini menekankan pada ketertundukan manusia pada Allah Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai hamba (‘abd), manusia harus bersyukur pada Allah dan seluruh alam raya. Mengucapkan “alhamdulillahi rabbil alamin” merupakan keutamaan. Sering mengucapkannya akan membuat manusia dijanjikan pahala sekaligus membantu mereka semakin dekat dengan Allah.
Ucapan itu punya makna terkait bagaimana kita menghubungan posisi Allah dan Alam. Di sini Tuhan (Rabb) adalah sebagai pencipta alam (Al-Khalq), pengatur alam (At-Tabdzir), dan pemilik alam (Al-Milk). Para perusak alam (mufsidun) adalah kaum yang dibenci Allah. Sedangkan yang disukai Allah adalah orang yang melakukan kebaikan (‘ihsan’)—mereka disebut para ‘muhsinin’.
Perintah berbuat baik selalu diulang-ulang. Salah satu alasan kenapa manusia harus berbuat baik adalah karena Allah juga berbuat baik pada manusia: “Berbuat baiklah sebagaimana Allah berbuat baik padamu!” (Q.S. Al-Qasas ayat 77). Manusia layak meniru Allah yang merupakan pelindung mereka sebagai orang yang beriman, yang akan mengeluarkan mereka dari “kegelapan” menuju “cahaya”(Q.S. Al-Baqarah ayat 257).
Kebaikan Allah juga harus membuat manusia berbuat kebaikan. Salah satu kebaikan Allah adalah menciptakan manusia. Jadi sifat mencipta ini juga harus dimiliki oleh manusia. Manifestasi sifat suka mencipta adalah bahwa manusia yang baik adalah yang produktif dan kreatif—suka memproduksi dan berkarya terutama hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
Menjadi makhluk yang mencipta, produktif dan kreatif, apalagi dilakukan dengan ilmu dan hasilnya membawa manfaat, bukan kerusakan, akan menghasilkan pahala bagi manusia yang membuatnya bisa mendapatkan kawasan akhirat yang baik (‘adarul akhiroh’). Sedangkan berbuat kerusakan akan menghasilkan dosa karena kerusakan adalah suatu perbuatan yang dibenci oleh Allah (Q.S. Al-Qasas ayat 77).
Larangan Merusak Isi Bumi
Dalam ajaran Islam, konsep merawat alam merupakan inti ajarannya. Semua sifat, sikap, dan perbuatan yang dibenci oleh Allah, kalau kita pikir-pikir secara mendalam, ujung-ujungnya adalah yang berujung pada kerusakan. Setidaknya semua sifat buruk yang tidak disukai Allah, semuanya terkait dengan—dan berpotensi mengarah pada—kerusakan.
Mari kita bahas beberapa jenis sifat dan sikap yang tidak disukai Allah. Sombong dan membangga-mbanggakan diri, misalnya. Kesombongan umumnya melekat pada orang yang membangga-banggakan apa yang mereka punyai, terutama kekayaan dan kekuasan.
Mereka rata-rata menganggap bahwa harta dan kekayaan adalah sarana untuk bereksistensi diri, suatu hal yang bisa membuatnya bangga dan dengan itu mereka berharap orang lain akan kagum padanya. Dengan harta dan kekuasaan, bahkan mereka berharap bisa menundukkan orang lain.
Misalnya, kekayaan seorang laki-laki kaya dianggap bisa membuat para perempuan takluk. Harta, tahta, dan wanita—begitulah seringkali kita mendengar tentang sebuah paket kesuksesan di atas bumi. Orang mengejar harta agar memudahkan mendapatkan kekuasaan, misalnya jabatan politik.
Dengan kekayaan dan kekuasaan, mereka bisa mewujudkan apapun keinginannya—termasuk bisa merasakan kenikmatan bermain perempuan. Semakin punya banyak uang, semakin mudah “membeli” hati, pikiran, dan tubuh perempuan.
RK mungkin bisa menjadi salah satu contoh tentang bagaimana seorang pria bisa mendapatkan harta, kekuasaan (jabatan politik), dan sekaligus banyak perempuan. Pria itu memanglah pengusaha sukses, mantan gubernur dan elit partai politik. Belakangan warga disuguhkan daftar nama-nama perempuan yang menjadi simpanan RK, seperti LM, AK, dan SM.
Kenikmatan dunia dari perspektif laki-laki (harta, tahta, wanita) itulah yang menyebabkan manusia seringkali lupa diri. Dengan melalaikan ajaran agama dan kemanusiaan, manusia ingin terus mendapatkan kepuasan.
Sudah jadi pengusaha yang uangnya banyak, tidak puas, lalu berupaya ingin jabatan politik dan pemerintahan. Jadi bupati ingin jadi gubernur, setelah itu ingin jadi menteri atau kalau bisa jadi presiden. Dan kedudukan ini juga didapat agar bisa dimanfaatkan untuk menambah kekayaan harta.
Para pengusaha yang mendominasi lembaga-lembaga kekuasaan dan politik di negeri ini punya salah satu bidang usaha yang dianggap cepat membuat mereka memperoleh kekayaan yang terus bertambah dengan cepat, yaitu industri ekstraktif atau tambang yang terus saja membuat alam rusak.
Hutan-hutan yang gundul semakin luas. Kerusakan tatanan masyarakat adat juga kian meluas. Manusia tercabut dari akar budaya lokalnya, dan ruang-ruang hidup kian menyempit. Sedangkan orang-orang kaya terus menumpuk-numpuk harta.
Sehingga orang sombong dan membanggakan diri ini. Terdapat larangan Janganlah engkau terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri. Dalam Al-Qur’an frase “menyombongkan diri” sejajar dengan frase “berbuat kerusakan di bumi”.
Ditegaskan bahwa Allah menjanjikan tempat akhirat yang baik (surga) bagi mereka yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi: “Negeri akhirat itu Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi” (Q.S. Al-Qasas ayat 83).
Para perusak di bumi dikutuk Dia memperbaiki lagi. Ayat tentang bagaimana Allah memperbaiki alam kembali ini ada di surat Al-A’raf ayat 56: “Janganlah berbuat kerusakan di muka bumi yang telah diperbaiki Allah. Berdoalah dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik!”
Dalam surat itu tentunya ada perintah “jangan berbuat kerusakan di muka bumi”. Sebagaimana surat-surat lainnya, biasanya perbuatan baik yang disebuut “amal soleh” mengikuti frase “orang yang beriman”. Tapi dalam surat Al-A’raf ayat 56 ini, Allah juga menyuruh manusia untuk berdoa dan berbuat baik yang disebut “ihsan”—istilahnya bukan lagi “amal soleh”.
Dan ditegaskan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat kebaikan ini (para muhsinin atau orang yang berbuat “ihsan”). Para ulama mengartikan “ihsan” sebagai perbuatan baik yang bukan sekedar perbuatan demi dunia, tapi yang dilakukan juga karena Allah. Jika kita ingin menjalankan “ihsan”, maka perbuatan baik kita harus kita lakukan seakan-akan kita sedang melihat Allah—atau kalau tidak kita sedang diawasi oleh Allah.
Kalau engkau memberi bantuan pada orang-orang yang tertimpa bencana, niatkan karena Allah. Ikhlas demi Allah, bukan demi yang lain. Kalau engkau menanam pohon dan melakukan reforestasi, janganlah itu semata-mata demi menjaga ruang hidup di dunia, tapi juga karena ikhlas oleh karena diperintahkan Allah.
Artinya, ihsan adalah perbuatan menuruti perintah Allah. Tanpa adanya “demi Allah”, maka namanya bukan “ihsan”, bukan “kebaikan super”—tapi ya kebaikan biasa saja. Makanya, menjadi orang yang menjalankan ihsan (muhsinin) itu berat, dan memang pahalanya tinggi. Janjinya adalah bahwa manusia jenis itu akan dekat dengan rahmat Allah!.
*) Nurani Soyomukti merupakan Institute Demokrasi dan Keberdesaan (Indek)
**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis
***) Ketentuan pengiriman naskah opini:
- Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
- Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
- Panjang naskah maksimal 800 kata
- Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
- Hak muat redaksi.(*)
