Hari Valentine: Cinta Kecil dan Cinta Besar

14 Februari 2026 18:51 14 Feb 2026 18:51

Thumbnail Hari Valentine: Cinta Kecil dan Cinta Besar

Oleh: Nurani Soyomukti*

Alkisah, seorang pendeta di Romawi ingin menikahkan pasangan muda secara diam-diam. Dilakukan diam-diam karena menikahkan seorang pemuda lajang yang tubuhnya masih kuat dan punya energi tinggi pada saat itu adalah larangan. 

Kaisar Claudius II melarang pernikahan prajurit muda karena ia ingin memiliki para pasukan perang yang masih muda dengan tubuh kuat dan energi tinggi. 

Artinya, Valentinus telah melakukan suatu pilihan, atas nama cinta, yang menentang kebijakan sang kaisar. Dan pendeta itu dihukum mati pada tanggal 14 Februari, tahun 278 Masehi. Demi melihat cinta kasih hadir dalam hubungan manusia, pendeta Valentinus harus merelakan nyawanya dicabut. 

Untuk memperingati peristiwa kematian pendeta itulah, kemudian masyarakat Barat memperingatinya dengan merayakan Hari Valentine (Valentine’s Day) tiap tanggal 14 Februari.

Awalnya tradisi yang berkembang di masyarakat Romawi adalah perayaan yang disebut festival Lupercalia yang diselenggarakan tiap pertengahan Februari. Dalam festival ini, warga saling menjodoh-jodohkan para pemuda dan pemudi. Tetapi atas kebijakan Paus Gelasius I, pada akhir abad ke-5, tradisi itu dihapus. Kemudian diganti dengan peringatan Santo Valentinus pada 14 Februari.

Dari riwayat itu, kita bisa melihat bahwa yang dilakukan pendeta Valentinus adalah mencoba membantu bagaimana saling mencintai adalah tindakan yang sangat manusiawi dan sesuai spirit agama. Dua orang yang saling mencintai tak seharusnya dipisahkan. Ini memang “cinta kecil” (eksklusif), cinta antara dua orang. 

Tapi upaya dua orang manusia untuk menyatukan diri dalam ikatan berbalut cinta kasih adalah hal yang sesuai kehendak ilahi. Dan disucikan oleh pernikahan, sebuah komitmen mengikat diri yang dibangun atas janji di bawah sumpah atas nama Tuhan.

Sebentuk “cinta kecil” itu memang bisa dihadapkan pada konsep cinta yang dianggap lebih besar, misalnya cinta pada tanah air. Kaisar Claudius II bisa saja mengatakan bahwa cinta pada kaisar dan kerajaan jauh lebih mulia daripada cinta yang diberikan pada satu orang saja. 

Untuk konteks zaman itu, klaim seperti itu jelas jauh dari kata absurd. Patriotisme, dan kemudian nasionalisme, cinta pada tanah air, melekat pada kecintaan pada kaisar yang merupakan simbol kekuasaan yang harus dipatuhi—apalagi juga atas nama Tuhan.

Ajaran Cinta

Ajaran cinta bukanlah ajaran yang jelek. Tetapi kita harus mendekonstruksi segala sesuatu pemahaman yang melanggengkan terjadinya penindasan dan penipuan.

Masalahnya, perayaan Hari Valentine dewasa ini tidak bermakna apa-apa selain hanya sekedar hura-hura, dipenuhi kaum muda yang hura-hura, peringatan tanpa makna karena tidak mentransformasikan cara berpikir dan memaknai kehidupan. 

Padahal kalau kita sepakat bahwa cinta bersifat menyatukan, sudah seharusnya kita menolak kebudayaan yang mendisintegrasi. Kapitalisme pasar bebas adalah masyarakat yang bersifat eksploitatif dalam hubungan sosial dan ia memanfaatkan momentum “Hari Cinta” hanya untuk mengukuhkan logika pasar dan (pada saat) yang sama menjauhkan makna cinta sejati dalam hati dan pikiran kaum muda.

Semangat Valentine seharusnya diarahkan untuk menyemarakkan semangat cinta dalam warnanya yang baru. Di tengah apatisme masyarakat terhadap “cinta” itu sendiri, sebenarnya kita bisa merekonstruksi suatu semangat baru untuk mengencang relasi baru dalam hubungan multikultural kita. 

Semangat yang baru mungkin akan dapat membuat pembicaraan tentang “cinta” kembali menjadi relevan. Antara lain, misalnya untuk mengadakan evaluasi terhadap dinamika kasih dalam kehidupan; mempertahankan dan meningkatkan ketajaman kita dalam menganalisa persoalan apapun tentang hidup; membagi wacana dengan orang lain, mungkin kekasih kita; dan juga untuk mewujudkan keinginan untuk menulis tentang kaitan antara cinta dalam sistem dan struktur sosial. 

Kalau pengetahuan tentang watak manusia—baik sebagai makhluk yang mengkonstruksi atau yang dikonstruksi oleh sistem dan kecenderungan-kecenderungannya—semakin bertambah dan jelas, kalau ini bermanfaat bagi pencandraan psikologis (dll.), itu memang salah satu manfaat dari tinjauan terhadap hubungan cinta kasih yang ada dalam kehidupan. 

Seorang pemikir mazhab Frankfurt Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Art Of Loving” menegaskan pentingnya relevansi Cinta untuk menjadi solusi bagi masyarakat kapitalis modern yang telah terdisintegrasi oleh ketimpangan sosial. 

Bagi Fromm, disintegrasi itu adalah cerminan dari eksistensi manusia yang tidak dapat mengatasi keterpisahan (separateness) ketika cinta itu sendiri tidak mungkin dibahas tanpa menganalisa eksistensi manusia itu sendiri. Menurut Fromm, ”teori apapun tentang cinta harus mulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia”.

Peradaban yang baik ditentukan oleh hubungan manusia yang dihiasi dengan penuh perhatian (mutual understanding) dan penghormatan. Fromm, misalnya, memberikan contoh mengenai hubungan dua orang yang sedang jatuh cinta. 

Tentunya mereka berdua saling memperhatikan. Dan cinta mereka bisa menyatukan individu dalam sebuah integrasi sosial. Cinta tidak membedakan ras, suku bangsa, agama, dan kelas sosial karena cinta membuat segalanya menjadi mungkin.

Cinta adalah jawaban bagi problem eksistensi manusia yang berasal secara alamiah dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan “meninggalkan penjara kesepian”.

Tetapi penyatuan dalam cinta melebihi suatu simbiosis karena “cinta yang dewasa adalah penyatuan di dalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang”. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan “yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya”. 

Cinta sebenarnya adalah seni dalam kehidupan. Disebut seni karena manusia memerlukan kemampuan (untuk mencintai), ketelatenan, dan kedisiplinan sebagaimana cinta adalah “tindakan aktif” dan “produktif”, bukan hanya “menerima” tetapi juga “memberi”. 

Jadi sebagai sebuah seni, yaitu untuk membentuk suatu eksistensi yang produktif dan dapat menyambungkan cintanya dengan dunia sekitarnya, kepercayaan terhadap Cinta nampaknya harus dimiliki terlebih dahulu.

Cinta adalah ciri khas kemanusiaan. Tanpa cinta, “manusia” belumlah menjadi Manusia. Tepatnya untuk menjalin cinta hakiki, manusia harus menyelesaikan (melawan) belenggu ekonomi-politik yang mempersempit ruang cinta.

Untuk mewujudkan nilai cinta, manusia masih dibatasi kelas-kelas sosial, juga prasangka ideologis, suku, agama, ras, dan lain-lain yang membuat hubungan cinta universal menjadi tersekat-sekat.

Cinta dan Perlawanan

Cinta, dalam masyarakat kapitalis dewasa ini, setidaknya bukan hanya diteriakkan oleh para nabi, filsuf, agamawan-agamawan pembebas, tetapi, celakanya, juga oleh para remaja dan bahkan mahasiswa kacangan.

Dipropagandakan dan dipresentasikan oleh para pahlawan religius, spiritual dan moral cabul untuk mempertahankan tatanan kapitalisme ataupun feodalisme yang telah mapan, juga oleh tokoh-tokoh yang sedemikian runyam seperti artis (sekaligus pelacur borjuis yang lebih dihormati dari pada pelacur miskin), penjahat negara, dan si idiot. 

Dan, yang paling nyata, cinta hanyalah janji para politisi yang dijanjikan secara sangat manis di awal kampanye dan dibayar dengan keputusan dan tindakan yang membuat rakyat menderita. 

Cinta palsu dalam kapitalisme hadir untuk mengembangkan kontrol jasmani, mental dan emosional sebagai bagian dari proses peradaban yang didesain oleh para pemilik modal. Penumpuk modal adalah pemimpin dan penguasa peradaban kapitalisme.

Dinamika dominasi masyarakat industri kapitalis yang bersifat manipulatif terhadap kebutuhan, ide-ide, dan idealisme keadilan memberikan peluang bagi cinta sejati untuk diubah menjadi perasaan romantik temporal dan kepentingan pragmatik dalam semarak konsumerisme dan kapitalisasi budaya estetis-hedonis, hasil dari perluasan pekerjaan dalam propaganda iklan, marketing, desain industri dan pertunjukan komersial untuk mendatangkan estetika cinta baru sebagaimana dirancang oleh para propagandis kapitalisme; tujuannya: mencari keuntungan, mengakumulasi kapital: untuk dengan mudahnya melampiaskan instink hewaniahnya.

Hanya dengan menganalisa hubungan produksi masyarakat, pertama-tama perjuangkan menuju cinta dan kemanusiaan (keadilan ekonomi-politik) akan menemukan pendasaran ide dan materinya. Syarat-syarat terjadinya perubahan adalah adanya kesadaran historisnya.

Kesadaran masyarakat barangkali telah dianggap kalah dengan kapasitas untuk memanipulasi imajinasi dan ide-ide; tapi masyarakat yang sadar akan terus bergerak, dan semakin cepat ketika kondisi materialnya terpenuhi.

 Bukankah kebutuhan-kebutuhan itu (meskipun kadang, kata Herbert Marcuse dalam One-Dimensional Man adalah, semu) selalu memerlukan pemenuhan-pemenuhan; sementara orang, misalnya menurut Freud, akan neurotik ketika kebutuhan itu tidak terpenuhi: mekanisme sublimasi inilah yang bisa diarahkan pada kesadaran kelas ekonomi-politik bagi perjuangan menciptakan masyarakat adil nantinya.

Sehingga basis material cinta dan kemanusiaan akan dapat ditemukan kembali dalam masyarakat ketika pemuasan kebutuhan adalah suatu keharusan yang mewujudkan diri menjadi gerakan-gerakan penuntut pemenuhan kebutuhan, ketika itu tidak harus dimonopoli oleh minoritas borjuis.

Jadi, bukan sebagai pesan-pesan drakor atau dracin—atau lirik-lirik lagu populer itu, tetapi sebagai gerakan orang-orang yang menuntut keadilan atau membangun struktur sosial yang memungkinkan cinta menjadi benih-benih kemanusiaan universal.

Bukan berarti tidak ada manusia lagi yang tidak percaya pada cinta. Bagi manusia yang masih peduli pada cinta dan kebenaran, mereka sepakat bahwa hidup ini memang harus diikuti dengan penyelaman terhadap realitas yang mendalam berdasarkan kelebihan kemanusiaannya dibanding binatang, yaitu makhluk yang memiliki akal, perasaan, spiritualitas, dan ciri khas manusia yang lain. 

Dan dalam kondisi yang kacau, seperti dewasa ini, tentu saja dengan cinta manusia masih berharap untuk bisa menyelamatkan diri. Cinta ini bisa digunakan untuk menyusun rencana-rencana bagi usaha menyelamatkan diri, membangung masa depan dengan hubungan yang demokratis, terbuka, dan harmonis antara sesama manusia. 

Dalam hubungan manusia, persoalannya bukan ada tidaknya kepentingan dalam dirinya, tetapi adalah kepentingan macam apa, dan bagaimana kepentingan itu bisa diatur bersama dalam suatu sistem yang akan menunjukkan aturan mainnya.

Pergeseran makna cinta yang dihasilkan dari sistem ekonomi pasar bebas sekarang ini adalah terjadinya eksklusifitas cinta. Cinta yang seharusnya universal menjadi terbatasi atau tereduksi maknanya untuk mewujudkan egoisme individu. 

Pada dasarnya cinta eksklusif, sebagai lembaga, adalah diskusi dan dialektika tentang kepentingan-kepentingan, meskipun hanya antara jumlah manusia yang terbatas (hanya dalam hubungan pacaran, pernikahan, keluarga, bukannya hubungan yang sangat luas menyangkut hubungan ekonomi politik yang ada).

Kepentingan lahir dari kebutuhan-kebutuhan. Makanya sebaiknya manusia harus mampu mendaftar kebutuhan-kebutuhannya, kepentingan-kepentingannya, supaya ia tahu apa yang ingin dicapai dalam hidupnya. 

Kemudian kebaikan (status kemanusiaan sejatinya) dan keburukannya (status kebinatangannya) akan diketahui dari cara-cara ia mewujudkan kebutuhan itu. Dan itu hanya bisa dicapai pada tingkat kesadaran, bukan dengan ketidak tahumenahuan (hanya ada pada alam bawah sadar).

Untuk menyembuhkan akar dari persoalan masyarakat yang kompleks, kita memang tidak bisa saling menuntut terlalu jauh dari hubungan cinta (pacaran, pernikahan), karena ada dinamika kasih manusia yang masih panjang dalam sejarah kemanusiaan yang ditentukan oleh sistem sosial yang mempengaruhi cara-cara manusia berhubungan satu dengan yang lain. 

Ada juga nantinya di antara kita persoalan-persoalan yang lebih berat lagi, meskipun kita juga berhak membuat penilaian siapa di antara kita, yang mengaku manusia ini, yang serius dan tidak (play around, main-main, brengsek dan sebagainya). 

Tapi bukankah masih banyak para pemikir dan aktivis-aktivis perubah masyarakat yang berkomitmen untuk ‘saling belajar’, yang artinya selain berusaha sekuat tenaga menjadi manusia yang baik ketika kita masih percaya pada cinta, juga ingin membentuk sistem sosial yang kondusif bagi hubungan cinta dan kemanusiaan. 

Mereka adalah para pemikir dan aktivis-aktivis perubahan yang hirau pada hubungan antar manusia. Bahkan mereka tidak terbatasi oleh suku, ras, agama, dan pulau atau teritorial kebangsaan.

Cinta Universal 

Dunia ini luas. Semangat dari cinta universal lah yang akan bisa memberikan arti dalam sejarah umat manusia. Beberapa duka yang dilihat satu orang tidak mungkin secara jelas dilihat oleh orang lain. Maka dalam cinta manusia harus mengamini sebuah transparansi (keterbukaan, kejujuran) tentang apa saja. 

Kebutuhan untuk “saling belajar” mensyaratkan adanya keterbukaan tentang persoalan, kebutuhan, dan tuntutan apapun dalam diri manusia dalam proses individual dan sosialnya. Yang membuat hidup itu mungkin memanglah terbayarkannya kebutuhan dan keinginan.

Sementara umumnya kebutuhan dan keinginan tidak bisa dicapai gara-gara batasan-batasan yang menjelma menjadi sistem sosial-budaya, agama, kepercayaan, sentimen, dan kepentingan yang kaku. 

Dengan mengungkapkannya lewat kata-kata, hubungan cinta kasih lewat komunikasi adalah satu-satunya cara yang paling memungkinkan kegundahan dan kerisauan hati dan pikiran (dan juga persoalan hidup) terbebaskan dari represi dan penekanannya dalam tubuh. 

Artinya, di sinilah, dalam suatu hubungan cinta sejati, kita bebas untuk mendiskusikan segalanya, kebutuhan-kebutuhan, kemungkinan dan ketidakmungkinan bagi pemenuhannya. Dan nilai kemanusiaan akan diukur di sini karena akan diketahui bagaimana cara manusia menempuh hidupnya. 

Pemahaman kita tentang kebutuhan, keinginan, kehendak dengan cara-cara pemenuhannya itu akan menentukan apakah manusia bermoral atau tidak, manusiawi atau binatang, filosofis-spiritual atau materialis-pragmatis.

Nilai universal bisa terwujud dengan diawali dengan komunikasi antar umat manusia. Komunikasi yang terbuka, jujur, bebas hambatan, pada dasarnya akan memberi jalan bagi apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masing-masing individu dan kelompok. 

Pemahaman ini akan membawa kita untuk saling menghormati, saling belajar dan memberi informasi, bahkan mendiskusikan masalah yang dihadapi secara bersama. 

Hal ini mencegah terjadinya “kebenaran sempit atau absolut” yang dianggap sebagai satu-satunya cara hidup pada hal belum pernah didialogkan dan diuji dengan realitas objektif dalam hubungan material konkrit. 

Pemikiran demikian akan menghasilkan suatu pemaksaan kehendak. Jika tujuan dan kepentingan tidak terpenuhi akan terjadi physical or psychological violence dalam hubungan antar manusia—Dan hal ini bertentangan dengan dengan cinta (love) yang tulus (genuine, sincere, truthful, honest, no pretension). Wallahu’alam.

*) Nurani Soyomukti merupakan penulis buku Filsafat Cinta

**) Isi tulisan di atas menjadi tanggung jawab penulis

***) Ketentuan pengiriman naskah opini:

  • Naskah dikirim ke alamat email redaksi@ketik.com
  • Berikan keterangan OPINI di kolom subjek
  • Panjang naskah maksimal 800 kata
  • Sertakan identitas diri, foto, dan nomor HP
  • Hak muat redaksi. (*)

Tombol Google News

Tags:

opini Hari Valentine Nurani Soyomukti