KETIK, JAKARTA – Jeffrey Epstein kembali menjadi sorotan dan bahan perbincangan dunia setelah otoritas Amerika Serikat merilis jutaan halaman dokumen terkait kasus lamanya, yang dikenal sebagai Epstein Files. Rilis dokumen tersebut menyita perhatian publik global karena mengungkap kembali jaringan kejahatan perdagangan perempuan dan eksploitasi anak yang melibatkan pemodal kaya raya dengan relasi elite internasional.
Jeffrey Edward Epstein merupakan seorang pemodal (financier) dan pengusaha asal Amerika Serikat. Namanya dikenal luas bukan karena prestasi bisnis, melainkan akibat keterlibatannya dalam kasus kejahatan seksual yang selama bertahun-tahun tertutup rapat. Pertanyaan pun mengemuka: siapa sebenarnya Epstein dan mengapa kejahatannya baru terkuak secara luas belakangan ini?
Epstein lahir pada 20 Januari 1953 di Brooklyn, New York, dari pasangan Seymour Epstein dan Pauline Epstein. Ia dibesarkan dalam keluarga Yahudi kelas menengah, jauh dari latar belakang keluarga kaya atau berpengaruh. Setelah lulus sekolah menengah atas, Epstein sempat menempuh pendidikan di Cooper Union dan NYU Courant Institute of Mathematical Sciences. Namun, ia tidak pernah menyelesaikan pendidikan sarjananya.
Meski tanpa gelar akademik, Epstein memulai karier sebagai guru matematika dan fisika di sekolah swasta elite di Manhattan. Pada 1976, menurut berbagai sumber, ia diperkenalkan kepada mitra di bank investasi global Bear Stearns oleh salah satu orang tua muridnya. Dari titik inilah kariernya melonjak. Dalam waktu sekitar enam tahun, Epstein telah menjadi pedagang saham sebelum akhirnya mendirikan perusahaan pengelola keuangannya sendiri.
Pada dekade 1980-an, Epstein diketahui berhasil mengumpulkan kekayaan yang sangat besar hingga disebut sebagai miliarder. Namun, nilai pasti kekayaannya sulit dipastikan karena sebagian besar disimpan secara tertutup. Ia disebut memperoleh penghasilan dengan menyediakan layanan pengelolaan pajak dan perencanaan warisan bagi para miliarder. Kekayaan tersebut memungkinkannya memiliki berbagai properti mewah di berbagai negara, termasuk sebuah pulau pribadi yang dikenal sebagai “Epstein Island”.
Epstein juga dikenal memiliki jaringan pergaulan yang luas, mencakup pebisnis, politisi, bangsawan, hingga akademisi ternama dunia. Namun, di balik citra tersebut, sejumlah korban telah melaporkan dugaan kekerasan seksual sejak 1990-an. Maria Farmer melaporkan dugaan pemerkosaan kepada kepolisian dan FBI pada 1996, namun kasus itu tidak ditindaklanjuti. Nama Virginia Giuffre kemudian menjadi salah satu korban pertama yang berani mengungkap identitasnya ke publik pada 2011.
Epstein meninggal dunia di sel penjaranya pada 10 Agustus 2019. Kematian tersebut dinyatakan sebagai bunuh diri oleh otoritas setempat, meski hingga kini masih memicu skeptisisme publik dan berbagai teori konspirasi. Rilis Epstein Files pada 2025–2026 kembali membuka luka lama, sekaligus menyoroti kegagalan sistem hukum dalam menangani kasus kejahatan seksual berskala besar. (*)
