KETIK, MALANG – Tahun ini, Kota Malang genap berusia 112 tahun. Dalam lebih dari satu abad perjalanan, kota ini tidak hanya tumbuh secara fisik, tetapi juga dibentuk oleh kepemimpinan para wali kota dari berbagai era.
Mulai dari pejabat kolonial, masa pendudukan Jepang, hingga tokoh-tokoh lokal di era modern, setiap pemimpin memiliki peran dalam membentuk wajah Malang seperti saat ini.
Masa Penjajahan Hindia Belanda (1914–1942)
Pada masa awal, Malang dipimpin oleh pejabat kolonial Belanda, sebagian besar merangkap sebagai Asisten Residen.
- F.L. Broekveldt (1914–1918)
- J.J. Coert (1918–1919)
- H.I. Bussemaker (1919–1929)
- E.A. Voorneman (1929–1933)
- P.K.W. Lakeman (1933–1936)
- J.H. Boerstra (1936–1942)
Masa Penjajahan Jepang (1942–1945)
Pada masa ini, jabatan wali kota diisi oleh pejabat lokal dengan status caretaker (CR).
- Raden Adipati Ario Sam (1942)
- Soewarso Tirtowidjojo (1942–1945)
Masa Kemerdekaan (1945–sekarang)
Memasuki era kemerdekaan, kepemimpinan Kota Malang diisi oleh tokoh-tokoh nasional dan daerah, dengan latar belakang militer, birokrat, hingga politisi.
- M. Sardjono Wiryohardjono (1945–1958) – penugasan pemerintah
- Koesno Soeroatmodjo (1958–1966) – penugasan pemerintah
- M. Ng Soedarto (1966–1968) – ABRI
- R. Indra Soedarmadji (1968–1973) – ABRI
- Soegiyono (1973–1983) – ABRI
- Soeprapto (1983) – penugasan pemerintah
- Tom Uripan (1983–1988) – penugasan pemerintah
- M. Soesamto (1988–1998) – penugasan pemerintah
- Suyitno (1998–2003) – ABRI
- Peni Suparto (2003–2013) – PDI Perjuangan
- Mochamad Anton (2013–2018) – PKB
- Sutiaji (2018–2023) – Demokrat
- Wahyu Hidayat (2025–sekarang) – Gerindra
Dari Kolonial hingga Demokrasi
Jika ditarik garis besar, kepemimpinan Kota Malang mengalami transformasi panjang. Dari era kolonial yang dikendalikan pemerintah Belanda, beralih ke masa Jepang, kemudian masuk ke era kemerdekaan dengan dominasi militer dan birokrat, hingga akhirnya berada dalam sistem demokrasi dengan pemilihan kepala daerah.
Perubahan latar belakang para wali kota—dari penugasan pemerintah, militer (ABRI), hingga politisi partai—menunjukkan dinamika politik dan pemerintahan yang terus berkembang mengikuti zaman.
Jejak yang Membentuk Malang Hari Ini
Selama 112 tahun, para wali kota telah meninggalkan jejaknya masing-masing. Dari pembangunan infrastruktur, penguatan identitas kota pendidikan, hingga pengembangan ekonomi dan pariwisata.
Kota Malang hari ini adalah hasil dari perjalanan panjang kepemimpinan yang terus beradaptasi dengan perubahan zaman. (*)
