HUT ke-112 Kota Malang: Dari Gadang hingga Gasek, Desa-Desa Kuno Pembentuk Kota Metropolitan

1 April 2026 10:20 1 Apr 2026 10:20

Thumbnail HUT ke-112 Kota Malang: Dari Gadang hingga Gasek, Desa-Desa Kuno Pembentuk Kota Metropolitan

Pintu gerbang Kampung Talun, salah satu kampung kuno yang kini jadi bagian dari Kota Malang. (Foto: Dendy/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Tahun ini, Kota Malang genap berusia 112 tahun. Namun, sebagai salah satu pusat peradaban di Jawa Timur, jejak sejarah Malang terbentang hingga hampir satu milenium silam.

Berawal dari sebuah desa kecil di tepi hutan belantara, Malang kemudian berkembang menjadi kawasan perkotaan yang terus meluas. Dalam prosesnya, wilayah ini menyatu dengan desa-desa di sekitarnya.

Sejumlah desa kuno—yang usianya bisa jadi setara, bahkan lebih tua dari Malang—kini telah menjadi bagian dari wilayah Kota Malang.

Lantas, desa kuno mana saja yang kini termasuk dalam wilayah Kota Malang? Berikut ulasannya:

Gadang

Gadang merupakan salah satu desa kuno yang kini menjadi bagian dari Kota Malang. Dahulu, wilayah ini dikenal dengan nama Gadanan.

Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, menyebut bahwa kawasan yang saat ini menjadi pusat Kota Malang dulunya merupakan hutan belantara. Gadanan, menurutnya, berada di sisi selatan hutan tersebut.

Talun

Jika Gadang berada di sisi selatan, maka di bagian barat agak ke utara terdapat desa kuno bernama Talun. Hingga kini, wilayah tersebut masih mempertahankan nama yang sama.

Nama Talun tercatat dalam Prasasti Ukir Negara II. Dalam prasasti tersebut disebutkan bahwa penulisnya adalah seorang bernama Mpu Dawaman yang berasal dari Desa Talun.

Saat ini, Talun berbatasan dengan kawasan Kayutangan, yang pada masa lalu dikenal sebagai Alas Patangtangan atau hutan kayu tangan.

Gasek

Gasek kini menjadi bagian dari Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang. Pada masa lampau, Gasek merupakan tempat tinggal tokoh bernama Diah Limpa.

Dalam Prasasti Ukir Negara disebutkan bahwa Diah Limpa dari Gasek dianugerahi tanah perburuan di wilayah bernama Malang.

Sukun

Nama Sukun pertama kali ditemukan dalam Prasasti Sukun yang berangka tahun 1161 Masehi.

Dalam prasasti tersebut dikisahkan bahwa Raja Sri Jayamerta mengapresiasi ketaatan penduduk Desa Sukun yang telah berjuang membela sang raja dengan memerangi musuh kabuyutan.

Sebagai bentuk penghargaan, Desa Sukun kemudian dianugerahi status sima serta sejumlah harta benda. Kini, wilayah tersebut dikenal sebagai Kelurahan Sukun di Kota Malang.

Kebonsari

Wilayah Kebonsari telah tercatat dalam Prasasti Kubu-Kubu yang berangka tahun 17 Oktober 905 Masehi. Prasasti ini dikeluarkan oleh Sri Maharaja Rakryan Watukura Dyah Balitung dan menyebut Kubu-Kubu sebagai daerah sima.

Menurut Dwi Cahyono, nama Kubu-Kubu kemudian berkembang menjadi Kebonsari dan Kebonagung. Saat ini, Kebonsari masuk wilayah Kota Malang, sedangkan Kebonagung berada di Kabupaten Malang.

Polowijen

Berbeda dengan desa kuno lainnya yang tercatat dalam prasasti, Polowijen justru muncul dalam naskah sastra, yakni kitab Pararaton.

Dalam kitab tersebut, Polowijen dikenal dengan nama Panawijyan, yang disebut sebagai tempat tinggal Ken Dedes, putri Mpu Purwa. Ken Dedes kelak menjadi sosok penting yang melahirkan dua wangsa besar, yakni Rajasa dan Sinelir.

Kini, Polowijen menjadi salah satu kelurahan di Kecamatan Blimbing, Kota Malang.

Keberadaan desa-desa kuno ini menunjukkan bahwa sejarah Malang tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari permukiman-permukiman lama yang telah ada sejak ratusan tahun lalu, lalu berkembang dan menyatu menjadi kota yang dikenal hingga hari ini.

Tombol Google News

Tags:

HUT Ke-112 Kota Malang HUT Kota Malang Kampung Talun Kampung Gadang Kampung Sukun Kampung Gasek Kampung Polowijen Kampung Kebonsari