KETIK, MALANG – Banyak versi beredar mengenai asal-usul nama Malang. Salah satu yang paling populer menyebut bahwa nama tersebut berasal dari istilah Malangkucecwara.
Istilah Malangkucecwara mulai digunakan sebagai semboyan resmi Kota Malang sejak 1 April 1964, bertepatan dengan peringatan hari jadi ke-50 kota tersebut.
Sebelumnya, lambang Kota Malang memuat semboyan “Malang namaku, maju tujuanku”, yang merupakan terjemahan dari bahasa Latin Malang nominor, sursum moveor. Perubahan semboyan menjadi “Malangkucecwara” diusulkan oleh ahli sastra dan filolog terkemuka Indonesia, Poerbatjaraka.
Menurut Poerbatjaraka, istilah Malangkucecwara memiliki keterkaitan erat dengan sejarah awal wilayah Malang. Nama tersebut diyakini merujuk pada sebuah bangunan suci yang pernah berdiri di kawasan ini.
Secara etimologis, Malangkucecwara berasal dari tiga kata, yakni mala yang berarti keburukan atau kepalsuan, angkuca yang berarti menghancurkan, dan Içwara yang berarti Tuhan. Jika digabungkan, Malangkucecwara dimaknai sebagai “Tuhan menghancurkan yang batil”.
Di sisi lain, terdapat pula versi yang lebih bersifat folklor. Dalam versi ini, nama Malang disebut berasal dari kata dalam bahasa Jawa yang berarti “menghalangi” atau “membantah”. Cerita tersebut dikaitkan dengan upaya ekspansi kekuasaan Mataram ke wilayah Malang yang mendapat perlawanan sengit dari masyarakat setempat.
Akibat perlawanan itu, wilayah ini kemudian disebut sebagai daerah yang “malang”, karena dianggap menghalangi keinginan penguasa pada masa tersebut.
Petunjuk lain mengenai eksistensi nama Malang ditemukan dalam sebuah prasasti tembaga yang ditemukan pada 1974 di wilayah Wlingi, Kabupaten Blitar. Dalam prasasti tersebut tertulis kata “Malang” yang merujuk pada suatu lokasi geografis.
Berdasarkan isi prasasti itu, nama Malang diperkirakan telah digunakan setidaknya sejak abad ke-12 Masehi. Hal ini menunjukkan bahwa nama tersebut telah dikenal jauh sebelum berkembangnya kerajaan-kerajaan besar di wilayah Jawa Timur.
Arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono, turut menguatkan pendapat ini. Ia menyebut bahwa nama Malang merupakan nama lama dari Gunung Buring, yang membentang di timur Kota Malang saat ini.
“Dalam peta yang diterbitkan tahun 1811, nama Gunung Buring masih tertulis sebagai Gunung Malang. Selain itu, nama Malang juga tercantum dalam Prasasti Ukir Negara sebagai sebuah desa di wilayah yang kini dikenal sebagai Kotalama,” ujar Dwi.
Dengan beragam versi yang ada, asal-usul nama Malang memang belum dapat dipastikan secara tunggal. Namun, jejak sejarah, bahasa, dan tradisi lisan yang menyertainya menunjukkan bahwa nama ini telah hidup dan berkembang sejak berabad-abad lalu.
