KETIK, MALANG – Manajemen Arema FC mulai mewaspadai potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang berpeluang berdampak pada biaya operasional tim. Meski belum ada keputusan resmi, sejumlah langkah antisipasi mulai dipertimbangkan secara internal.
General Manager Arema FC, M. Yusrinal Fitriandi, mengatakan bahwa hingga saat ini manajemen belum melakukan langkah khusus karena kebijakan kenaikan harga BBM masih sebatas kemungkinan.
“Kalau untuk operasional, kita memang belum berpikir sampai ke situ, karena memang belum ada keputusan pastinya,” ujar Yusrinal.
Meski demikian, diskusi internal telah dilakukan untuk melihat kemungkinan dampak yang lebih luas, terutama pada musim kompetisi mendatang.
Pria yang karib disapa Inal ini mengakui bahwa apabila harga BBM benar-benar naik, dampaknya hampir pasti akan terasa pada operasional klub. Dalam kondisi tersebut, efisiensi anggaran menjadi salah satu opsi yang realistis.
“Kalau memang nanti ada kenaikan, pasti akan ada penambahan biaya. Kemungkinan di internal kita ada pemotongan biaya-biaya lain untuk menutupi hal itu,” jelasnya.
Selain faktor BBM, fluktuasi nilai tukar dolar juga menjadi perhatian manajemen Arema FC. Menurutnya, kenaikan dolar dapat berdampak signifikan, terutama terhadap pengelolaan kontrak pemain asing.
“Seandainya dolar ikut naik, itu bisa jadi masalah untuk semuanya,” katanya.
Terkait kemungkinan perampingan skuad untuk menekan biaya operasional, Inal menilai langkah tersebut belum menjadi opsi utama. Ia menyebut komposisi pemain asing untuk musim depan sebagian besar sudah memiliki kontrak jangka panjang.
“Kalau perampingan sepertinya tidak signifikan. Beberapa pemain asing kita kontraknya sudah sampai musim depan,” ungkapnya.
Inal pun turut menyoroti kondisi global, termasuk konflik internasional yang berpotensi memicu kenaikan harga energi dan nilai tukar mata uang. Hal tersebut dinilai bisa berdampak pada stabilitas finansial klub.
“Memang agak berat dengan adanya perang ini, karena efeknya pasti ke semua, termasuk kita,” ujarnya. (*)
