KETIK, SAMPANG – Lemahnya fungsi pengawasan pendidikan kembali menjadi sorotan publik menyusul mencuatnya persoalan kegiatan belajar mengajar (KBM) di SDN Batuporo Timur 1, Kecamatan Batuporo, Kabupaten Sampang.
Sekolah dasar negeri tersebut dilaporkan mengalami pengurangan aktivitas KBM sejak tahun 2023 hingga kini, bahkan siswa hanya masuk sekolah setiap hari Jumat.
Kondisi tersebut menuai kritik dari Aliansi Mahasiswa Sampang (AMS), Zayrosi. Ia mempertanyakan kinerja pengawas sekolah dasar yang dinilai lalai menjalankan tugas pembinaan dan pengawasan secara rutin.
"Pertanyaannya sederhana, apa yang dikerjakan pengawas SD selama ini? Jika benar KBM di SDN Batuporo Timur 1 sudah berkurang sejak 2023, mengapa hal ini bisa dibiarkan berlarut-larut tanpa tindakan?" ujarnya, Jumat, 23 Januari 2026.
Menurutnya, persoalan ini justru terungkap setelah ramai diperbincangkan di ruang publik. Ia menilai Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Sampang terkesan lamban dalam menyikapi masalah dan baru bergerak setelah isu tersebut menjadi viral.
"Disdik Sampang seolah menunggu persoalan ini viral terlebih dahulu baru bertindak. Padahal ini menyangkut hak dasar anak untuk memperoleh pendidikan yang layak," tegasnya.
Zayrosi juga menyinggung pernyataan Kepala Bidang Sekolah Dasar Disdik Sampang yang mengakui bahwa aktivitas KBM di SDN Batuporo Timur 1 memang mengalami pengurangan sejak tahun 2023. Pengakuan tersebut, menurutnya, semakin menguatkan dugaan lemahnya fungsi pengawasan pendidikan.
"Jika Kepala Bidang SD mengakui KBM telah berkurang sejak 2023, lalu di mana peran pengawas sekolah selama ini? Pengawas digaji oleh negara untuk memastikan mutu pendidikan berjalan sesuai ketentuan, bukan hanya hadir ketika persoalan sudah membesar," katanya.
Ia menegaskan bahwa penyelesaian masalah tidak boleh berhenti pada klarifikasi semata. Zayrosi mendesak Disdik Sampang untuk melakukan evaluasi menyeluruh, tidak hanya terhadap kepala sekolah, tetapi juga terhadap pengawas yang bertanggung jawab di wilayah tersebut.
"Apabila pengawas tidak menjalankan tugasnya secara maksimal, maka harus ada sanksi tegas. Jangan sampai dunia pendidikan rusak karena pembiaran," ujarnya.
Selain itu, Zayrosi juga mendukung langkah aparat penegak hukum untuk menelusuri pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) di SDN Batuporo Timur 1. Ia meminta Inspektorat Kabupaten Sampang melakukan audit secara terbuka dan transparan.
"Kami meminta kepolisian menelusuri aliran dana BOS dan Inspektorat melakukan audit secara transparan," pungkasnya.
Sementara, Taufik Pengawas Sekolah saat dikonfirmasi menyatakan bahwa dirinya pengawas di Kecamatan Robatal. Namun, semenjak pengawasnya yang di Kedungdung pensiun saya dibantukan jadi pengawas di Kecamatan Kedungdung.
"Korbid dan Pengawasnya pensiun pada september lalu, kemudian saya yang ditugaskan jadi tim kinerja di Kecamatan Kedungdung," ujarnya.
Ia menambahkan, jika ada sesuatu Kepala Sekolah SDN Batuporo Timur ini laporan langsung ke K3S saya tidak diberitahu jika ada permasalahan seperti ini.
"Kemarin saya sudah cek kondisi di SDN Batuporo Timur 1, selama dua hari di sana," ungkapnya.
Untuk diketahui, SDN Batuporo Timur 1, Kecamatan Kedungdung, Kabupaten Sampang, viral di media sosial lantaran tak terlihat adanya aktivitas belajar mengajar. Dalam video yang beredar, sekolah tersebut tampak sepi tanpa satu pun siswa, sementara sejumlah guru terlihat bersantai di ruang kelas.
Video berdurasi 1 menit 39 detik itu memperlihatkan kondisi gedung sekolah yang masih kokoh. Namun halaman serta teras sekolah tampak dipenuhi rumput liar, menambah kesan tak terawat. Selain terkesan tidak terawat, sekolah itu tampak sepi karena tidak ada siswanya.
Parahnya, lagi SDN Batuporo Timur 1 ini rutin menerima bantuan Makan Bergizi Gratis dari SPPG Shavina Shavira. (*)
