KETIK, MALANG – Di balik ramainya wisatawan yang menyusuri gang-gang Kayutangan Heritage, peran tour guide menjadi kunci agar pengunjung tidak sekadar berjalan, tetapi juga memahami cerita dan sejarah kawasan secara lebih mendalam.
Ketua Pokdarwis Kayutangan Heritage, Mila Kurniawati, mengatakan bahwa sejak awal kawasan tersebut sebenarnya telah memiliki pemandu wisata. Namun, seiring meningkatnya jumlah dan karakteristik pengunjung, pengelola menyepakati aturan baru terkait pendampingan wisata.
“Untuk tamu yang datang dalam rombongan lebih dari 10 orang, kami wajibkan menggunakan paket wisata. Di dalam paket tersebut sudah termasuk pendampingan guide,” ujarnya.
Menurut Mila, kehadiran pemandu wisata memberikan nilai tambah bagi pengalaman pengunjung. Wisatawan tidak hanya berjalan dan melihat kawasan secara sekilas, tetapi juga memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai sejarah, budaya, serta cerita di balik kawasan Kayutangan Heritage.
“Kalau pengunjung datang lalu berjalan sendiri, biasanya hanya mengetahui permukaannya saja. Dengan pendampingan guide, mereka bisa mendapatkan cerita, konteks, dan makna dari setiap titik yang dikunjungi,” jelasnya.
Selain meningkatkan kualitas pengalaman wisata, penggunaan pemandu juga menjadi bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat setempat. Saat ini, seluruh tour guide di Kayutangan Heritage berasal dari anggota Pokdarwis dan telah mengantongi sertifikasi.
“Guide kami sementara ini berasal dari anggota Pokdarwis dan semuanya sudah bersertifikat. Kami juga terus menambah literasi dan meningkatkan kapasitas mereka sesuai kebutuhan pengunjung,” katanya.
Mila menambahkan, kebutuhan wisatawan kini semakin beragam, seiring meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara. Kondisi tersebut mendorong pengelola untuk menyiapkan program peningkatan kompetensi, terutama dalam hal komunikasi dan penguasaan bahasa asing.
“Permintaan tidak hanya dari wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara. Karena itu, ke depan kami fokus meningkatkan kemampuan komunikasi dan penguasaan bahasa asing, minimal bahasa Inggris,” ungkapnya.
Sebagai langkah jangka panjang, Pokdarwis Kayutangan Heritage telah menyiapkan program pengembangan pemandu wisata pada 2026. Program tersebut meliputi pembentukan paguyuban guide, peningkatan kemampuan interpretasi kawasan, serta perekrutan pemandu baru yang terbuka bagi masyarakat.
“Kami sangat terbuka. Warga Kayutangan yang berminat menjadi guide juga dipersilakan untuk bergabung,” ujarnya.
Selain itu, pengelola berencana menyusun panduan cerita atau guide book sebagai acuan bersama. Langkah ini dilakukan untuk menyamakan persepsi dan memastikan informasi yang disampaikan kepada wisatawan tetap akurat dan konsisten.
“Nantinya kami ingin memiliki guide book, sehingga siapa pun yang bercerita memiliki versi yang sama. Cerita-cerita tersebut juga akan kami validasi bersama pemilik rumah dan dibantu pihak kampus, terutama dari sisi literasi,” pungkas Mila. (*)
