Menikmati Es Krim Sambil Menyusuri Sejarah di Toko Oen Kayutangan Heritage Kota Malang

13 Januari 2026 05:00 13 Jan 2026 05:00

Thumbnail Menikmati Es Krim Sambil Menyusuri Sejarah di Toko Oen Kayutangan Heritage Kota Malang

Toko Oen tampak depan dengan suasana klasik di Kawasan Kayutangan Heritage Malang. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Toko Oen tak hanya menjadi tempat menikmati es krim, tapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Kota Malang. Warga Malang pasti tau, bangunan ala kolonial Belanda di kawasan Kayutangan Heritage ini tempat wisatawan menikmati es krim andalannya.

Bangunan ini telah melewati pergantian zaman, dari masa penjajahan hingga era modern tanpa menghilangkan cita rasa klasik dan nuansa tempo dulu yang sangat kuat. Sehingga, Toko Oen menjadi ruang perjalanan sejarah yang bisa dirasakan wisatawan lewat setiap sajian es krim.

Bangunan klasik yang berada di Jalan Basuki Rahmat No. 5 ini telah berdiri sejak tahun 1930. Saat itu Toko Oen menjadi satu-satunya restoran dari keluarga Tionghoa yang menawarkan menu-menu makanan Belanda.

Tepat berada di depan Mall Sarinah Malang yang dulunya adalah gedung Concordia, tempat berkumpulnya semua warga Belanda di Kota Malang.

Pada saat kongres KNIP pada 25 Februari 1947, Toko Oen menjadi tempat para peserta kongres satu Indonesia sebagai lokasi makan siang. Di bulan Juli 1947, Belanda kembali mencoba menduduki Indonesia dan restoran ini menjadi salah satu bangunan yang selamat dari tragedi pembakaran pejuang Kota Malang.

Restoran ini berdiri pada 1930. Berawal dengan Lem Gien Nio seorang istri Tjoen Hok memulai bisnis di Jogyakarta. Lem Gien Hok sendiri adalah seorang istri dan ibu rumah tangga yang aktif, kreatif serta kemampuan memasak yang menjadi standar paling tinggi di masa lalu ketika menjadi istri.

Dengan adanya previllege akses kebudayaan Belanda dan makanan negeri leluhurnya, membuat Nyonya Liem benar-benar ahli memasak makanan Belanda dan China.

Di masa itu, Nyonya Liem menjadi penjual berbagai macam cookies yang saat itu sulit didapat. Dengan pergaulan antar komunitas eksklusif golongan Belanda, China dan keluarga Jawa Ningrat membuat Nyonya Liem mudah untuk mendapatkan pelanggan.

Rasa yang lezat dan unik membuat banyak orang yang menjadi pelanggan tetap Toko Oen. Seiring berjalannya waktu, keluarga Oen membuka satu ruangan lagi di samping toko yang sudah ada.

Ruangan ini dikhususkan bagi pengunjung yang ingin menikmati es krim sambil ditemani oleh hangatnya teh dan kopi. Kemudian mereka memperluas restoran, merekrut staff, dan mulai menghidangkan The Real Meals.

Pada 16 April 1936 dibukakan cabang Toko Oen di Semarang. Tak hanya itu, cabang Malang dan Jakarta dibuka sebagai jawaban perkembangan bisnis. 

Es krim legendaris buatan Liem Gien Nio ini dibuat dari bahan alami tanpa adanya pengawet. Oleh karena itu, es krim di Toko Oen mudah mencair. Toko Oen sendiri memberikan nama menu es krim ini adalah Old Fashion Ice Cream.

Untuk menikmati cita rasa klasik pada es krim Toko Oen, pengunjung perlu mengeluarkan budget Rp.25 ribu sekali scoop es krim dan Rp 60 ribu untuk 3 scoop es krim. 

Adanya Toko Oen ini menjadi magnet wisatawan domestik maupun mancanegara untuk meningkatkan kunjungan wisatawan ke Kota Malang yang penuh dengan sejarah ini.(*)

Sumber: buku "Potensi Kampung Heritage Kayutangan sebagai Destinasi Wisata Kota Malang" oleh Lalu Mulyadi, Budi Fathony, Aster Prikasari.

Tombol Google News

Tags:

Toko Oen Malang Wisata sejarah malang Kota Malang Wisata Malang