Ikon Lokomotif Kayutangan Heritage: Jarang Dilirik Wisatawan, Ternyata Simpan Fakta Sejarah yang Berbeda

13 Januari 2026 13:23 13 Jan 2026 13:23

Thumbnail Ikon Lokomotif Kayutangan Heritage: Jarang Dilirik Wisatawan, Ternyata Simpan Fakta Sejarah yang Berbeda

Monumen lokomotif lori di kawasan Kayutangan Heritage. (Foto: Aliyah/Ketik.com)

KETIK, MALANG – Ikon lokomotif di kawasan Kayutangan Heritage ini bukan sekadar hiasan kota, tetapi menyimpan cerita sejarah yang melekat erat dengan kawasan tersebut. Namun, lokomotif yang menjadi ikon Kayutangan ini justru jarang menjadi perhatian wisatawan.

Bagi warga Malang, lokomotif tersebut dikenal sebagai sarana transportasi pengangkut tebu. Karena itu, sejarah trem di Kota Malang menjadi penting untuk diketahui.

Lokomotif eks PG Kebonagung berkode B4 yang dulu menarik lori tebu kini menjadi monumen di kawasan Kayutangan sejak 13 April 2023. Penetapan tersebut berawal dari penemuan kembali rel trem MSM saat renovasi Jalan Basuki Rahmat, yakni pada pembangunan zona 1 dan zona 2 Kayutangan pada awal November 2020, serta zona 3 pada akhir Oktober 2022.

Rel trem yang ditemukan di zona 1 membentang dari pertigaan PLN hingga perempatan Rajabali, zona 2 dari perempatan Rajabali hingga depan Gang 6 Kayutangan. Sementara itu, zona 3 berada di ruas depan Sarinah hingga ke arah utara depan Gang 6 Kayutangan.

Penemuan rel kereta tersebut menjadi bukti bahwa Kota Malang telah memiliki sistem transportasi massal berbasis komuter sejak era 1900-an.

Pengamat Budaya dan Sejarah Kota Malang, Agung H Buana, menyatakan penemuan rel trem di kawasan Kayutangan menunjukkan pemerintah kolonial saat itu telah memikirkan kemudahan mobilitas penduduk Kota Malang.

Diketahui, perusahaan Malang Stoomtram Maatschappij (MSM) didirikan pada 14 November 1897. Perusahaan ini mengoperasikan tiga jenis lokomotif buatan pabrik ternama Hohenzollern, Jerman, yakni tipe B17 sebanyak 10 unit, B24 sebanyak dua unit, dan D11 sebanyak 10 unit.

Ketiga jenis lokomotif tersebut beroperasi di atas rel narrow gauge R25 (25,74 kg/m) dan R33 (33,40 kg/m) dengan lebar rel 1.067 mm. Di sepanjang jalur tersebut terdapat sejumlah stasiun trem yang berjarak setiap beberapa kilometer, karena pada awal pengoperasiannya kereta masih ditarik oleh kuda.

Foto Jalur trem di kawasan Kayutangan Malang pada tahun 1947 - 1950. (Foto: JIKN Kota Malang)Jalur trem di kawasan Kayutangan Malang pada tahun 1947 - 1950. (Foto: JIKN Kota Malang)

Oleh sebab itu, kuda-kuda penarik harus beristirahat di setiap stasiun pemberhentian. Lokasi istirahat tersebut berada di sejumlah titik, mulai dari Singosari, Blimbing, hingga Stasiun Jagalan. Sementara itu, perusahaan MSM didirikan dan berkantor di Jagalan, Malang, dengan total jalur rel yang dikelola mencapai 85 kilometer.

Tak hanya itu, jalur trem tersebut juga terkoneksi dengan perusahaan kereta api negara Staatsspoorwegen (SS) di Stasiun Malang Kota Baru, Malang Kotalama, Singosari, dan Kepanjen.

Sejumlah pengamat menilai jalur kereta trem di Malang tergolong visioner dan berani karena melintasi kawasan Alun-Alun Kota Malang. Perancangnya pun disebut telah memperhatikan tren pertumbuhan penduduk, daya tampung kawasan di sepanjang jalur trem, serta memperhitungkan perkembangan kota-kota satelit di Malang.

Trem di kawasan Kayutangan tidak hanya melayani angkutan penumpang, tetapi juga mengangkut hasil pertanian dari wilayah sekitar Malang.

Saat itu, biaya angkutan trem tergolong terjangkau dibandingkan moda transportasi lain, sehingga keberadaannya terus berkembang di Kota Malang. Namun, pada masanya tarif dan layanan kereta dibedakan antara warga Eropa dan Bumiputera yang ditempatkan sebagai warga kelas dua.

Sebagai upaya menjaga keberlangsungan operasional trem di Kota Malang, pemerintah kala itu memberikan subsidi kepada pengelola trem sebesar Rp153.200 per tahun.

Bantuan ini diberikan sejak tahun 1952 hingga 1957. Namun di tahun 1958, subsidi ini diberhentikan karena pemasukan trem yang tidak sebanding dengan biaya operasional.

Pada 27 Juli 1959, pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh saham perusahaan trem, kemudian pengelolaannya diserahkan kepada Perusahaan Umum Kereta Api.

Namun, kehadiran kendaraan bermotor seperti truk mulai menjadi tantangan karena mampu mengangkut hasil pertanian langsung dari daerah pedalaman menuju Kota Malang.

Hingga akhir 1960-an, sejumlah jalur trem di Malang akhirnya ditutup, di antaranya lintasan tengah kota, Kotalama–Dampit, Kotalama–Gondanglegi, serta Singosari–Tumpang.

Berdasarkan sejarah trem di Kota Malang, artefak lokomotif yang seharusnya dipasang di kawasan Kayutangan adalah jenis B17, B24, atau D11, bukan tipe B4 seperti yang saat ini terpasang. Hal itu menunjukkan bahwa ikon yang berada di kawasan Kayutangan Heritage tersebut sejatinya merupakan lori pengangkut tebu.

Lori tersebut memiliki spesifikasi tipe CFL 30J dengan tenaga 42,5 hp dan bobot lima ton, buatan 1972 dengan nomor seri 3409. Lokomotif ini diproduksi oleh Christoph Schöttler Maschinenfabrik GmbH, Diepholz bei Bremen, Jerman, yang dikenal sebagai pabrik Schoema, dengan sistem roda 4wDM yang mampu melintasi rel berukuran 700 mm.

Dengan memahami sejarah trem di Kota Malang, dapat diketahui bahwa ikon heritage di Kayutangan bukanlah lokomotif yang dulu melintas di kawasan tersebut, melainkan lokomotif yang digunakan khusus untuk mengangkut tebu. (*)

Tombol Google News

Tags:

kayutangan heritage malang Jalur trem Sejarah trem Kayutangan Sejarah Kota Malang Ketik.in Kayutangan KayutanganHeritage