KETIK, SURABAYA – Di tengah banyaknya UMKM di kawasan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, cimol bonjot masih menjadi salah satu makanan yang mencuri perhatian masyarakat, terutama kalangan mahasiswa.
Camilan sederhana berbahan dasar aci ini perlahan menjelma menjadi salah satu jajanan favorit mahasiswa, terutama karena sensasi pedasnya yang khas dan harga yang bersahabat.
Cimol bonjot dikenal sebagai kudapan khas Bandung dengan tekstur kenyal dan cita rasa gurih pedas. Cimol adalah singkatan dari aci digemol, jajanan berbahan dasar tepung tapioka yang diolah dengan campuran bumbu seperti garam, masako, dan micin.
Adonan tersebut diaduk menggunakan air panas hingga kalis, kemudian ditaburi tepung tapioka sebelum dipotong kecil-kecil. Perpaduan tekstur kenyal dengan bumbu gurih pedas inilah yang memberikan karakter rasa berbeda dibandingkan cimol pada umumnya.
Tampilan Cimol Bonjot Sebelum Ditaburi Bumbu Pada 11 Februari 2026. (Foto: Fariha Al Jihan/Ketik.com)
Di balik kekhasan rasa cimol bonjot ada sosok Dedi Gunawan, penjual asal Cirebon yang merantau di daerah Kendang Sari Surabaya yang telah menekuni usahanya selama tujuh tahun terakhir .
“Saya menekuni usaha ini selama tujuh tahun. Dua tahun di daerah Bandung dan lima tahun di daerah Surabaya,” ujar Dedi Gunawan.
Pengalaman berdagang di Bandung menjadi bekal utama dalam mempertahankan cita rasa khas Sunda yang kemudian disesuaikan dengan selera masyarakat Surabaya.
Cimol bonjot punya cita rasa khas yang berbeda, tidak hanya dari bumbu tetapi juga dari teknik pengolahannya. Istilah bonjot dikenal dalam bahasa Sunda yaitu pedas.
“Pedasnya itu sampai moncrot,” ujar penjual cimol bonjot tersebut.
Selain isian bumbu, cita rasa cimol bonjot diperkuat melalui proses penggorengan hingga mencapai tingkat kematangan maksimal, yang menghasilkan tekstur renyah saat digigit.
Kudapan ini kemudian dipadukan bersama bumbu basah berbahan mentega cair, bawang, dan irisan daun jeruk yang memberikan aroma harum serta rasa gurih yang khas.
Lokasi berjualan tergolong strategis dan mudah dijangkau. Lapak cimol bonjot dapat diakses dari arah pabrik kulit kemudian melaju hingga perempatan, lalu berbelok ke kanan dan mengikuti jalan hingga Gang Dosen, tepatnya berada di depan Jewel Juice. Tak heran jika cimol bonjot sering menjadi pilihan camilan di sela waktu kuliah atau saat menunggu jadwal berikutnya.
Bumbu Khas Cimol Bonjot yang Digunakan oleh Dedi Gunawan pada 11 Februai 2026. (Foto: Fariha Al Jihan/Ketik.com)
Durrotul Musabaha, seorang mahasiswa semester dua, mengaku menjadi pelanggan setia. Menurutnya, cimol ini memiliki tekstur yang gurih dan kenyal dengan aroma bawang yang kuat.
“Teksturnya kenyal dan bumbunya terasa berbeda dari cimol lain, jadi bikin ketagihan,” ujar Durrotul.
Ia juga menilai harga yang ditawarkan sangat lah terjangkau sehingga menjadi pilihan di sela-sela waktu kuliah.
Respons serupa datang dari Siska Nabilah Qothrotun Nada, mahasiswa semester enam, ia mengaku baru pertama kali membeli cimol bonjot, namun langsung merasakan teksturnya yang kenyal dan rasa gurih dari bumbunya. Ia menilai cimol bonjot memiliki keunggulan tersendiri, karena sensasi cimolnya tetap lembut dan tidak mengeras meski sudah didiamkan cukup lama.
“Aromanya dari daun jeruk dan minyak bawangnya terasa kuat, pedasnya pas dan tidak berlebihan, harganya juga terjangkau,” ucap mahasiswa asal Probolinggo tersebut.
Ia juga menambahkan bahwa cimol bonjot tersebut layak untuk dicoba.
Meski menghadapi kendala seperti cuaca hujan serta menurunnya daya beli menjelang akhir bulan, ayah satu anak tersebut tetap konsisten menjaga kualitas rasa dan bersikap ramah kepada pelanggan. Strategi penjualan bersifat fleksibel, di mana pembeli bebas menetukan harga beli. Akan tetapi terdapat batas minimum harga beli yaitu Rp2.000 ke atas.
Keuntungan bersih yang diraup sebesar Rp200.000 per harinya. Usaha yang dilakukan dari gang dosen hingga gerbang SMA di sore hari, membuktikan makanan tradisional cimol bonjot masih banyak diminati masyarakat, terutama di kalangan mahasiswa. (*)
