Dari Galau ke Tangguh: Pesan Gus Mujab tentang Harapan, Kesungguhan, dan Sabar

16 Januari 2026 06:40 16 Jan 2026 06:40

Thumbnail Dari Galau ke Tangguh: Pesan Gus Mujab tentang Harapan, Kesungguhan, dan Sabar

Kajian Rabu Senja Al-Yasmin, 14 Januari 2026 (Foto: Humas Al Yasmin)

KETIK, SURABAYA – Saat mengisi Kajian Rabu Senja Al-Yasmin episode 2 yang berlangsung pada 14 Januari 2026, Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi Ampel Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar (Gus Mujab), menyampaikan bahwa obat kegundahan hati adalah Al-Qur’an.

Menurutnya, Al-Qur’an mengajarkan bahwa ibadah terbaik adalah upaya mencari jalan keluar dari persoalan. Dalam proses mencari solusi tersebut, seseorang sekaligus menjalankan tiga bentuk ibadah, yaitu bersabar, berserah diri dengan ikhlas, serta berharap, memohon, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

“Afdolu ibadah atau sebaik-baik ibadah adalah menunggu solusi, jadi kalau kita menerima masalah itu justru punya kesempatan banyak untuk ibadah. Menunggu solusi itu dikatakan ibadah yang utama/terbaik (afdol), karena isinya husnudzon (berbaik sangka) kepada Allah yakni bersabar atas apa yang menimpa, bahkan ada pasrah/Ikhlas dan berharap/memohon kepada Allah, jadi makin mendekat kepada Allah, itu afdolu ibadah," ujarnya dalam Kajian Senja di Ballroom Al-Yasmin Surabaya, itu.

Kajian yang bertemakan 'Oase Al Qur'an Bagi Jiwa yang Lelah' di hadapaan puluhan bundaa muslimah, menantu Alm. KH Nu'man Thohir menjelaskan setiap menjalani hidup, baik di dalam rumah tangga atau bekerja di luar rumah, terkadang kita menemukan titik jenuh, baik karena masalah yang datang dari personal, rumah tangga, anak, maupun masalah eksternal yang datang dari pertemanan.

“Di tengah titik jenuh, di tengah ombak yang datang, kita butuh penguat. Nah, Al-Qur’an itulah yang datang memberi pegangan agar tidak jenuh, bingung, dan Lelah. Pegangan dari Al-Qur’an bagi jiwa yang lelah, adalah Himmah Aliyah atau mempunyai cita-cita/harapan yang tinggi," tuturnya. 

"Aplikasi dari Himmah Aliyah itu juga bukan hanya untuk diri sendiri (sa’yan lii nafsi) tapi juga manfaat untuk orang lain (sa’yan lii ghoiri), jadi cita-cita atau harapan yang tinggi itu untuk kita, anak, dan orang lain,” sambungnya.

Pegangan lain yang diajarkan Al-Qur’an, selain cita-cita dan harapan, adalah al-judd atau kesungguhan. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada kesuksesan yang diraih tanpa kelelahan dan proses panjang, karena setiap keberhasilan selalu diawali dengan perjuangan dari bawah.

“Untuk kesungguhan itu, butuh ada semangat. Yang membuat semangat dalam hidup itu bukan hanya diri kita tapi juga orang di sekitar kita, karena kita memberi manfaat orang lain. Kalau kita memberi manfaat, maka Allah akan memberi kebermanfaatan untuk kita, orang menyemangati kita untuk meraih cita-cita. Itu action,” ujarnya.

Selain Al-Qur’an yang mengajarkan pentingnya memiliki cita-cita atau harapan serta kesungguhan dalam berikhtiar dan berjuang dari bawah, para ulama juga menanamkan pemahaman tentang sikap tangguh atau sabar agar seseorang tidak mudah lemah.

Menurut para ulama, kesabaran atau ketangguhan tersebut mencakup tiga hal, yaitu sabar dalam menjaga konsistensi berbuat baik dan taat, sabar saat menghadapi cobaan atau ujian, serta sabar untuk menahan diri dari godaan kemaksiatan.

“Karakter orang sabar menghadapi ujian itu ada dua tipe yakni rojulun aqil atau the winner (pemenang) dan rojulun jahil atau the losser (pecundang). Tipe pemenang itu tenang menghadapi masalah dan fokus pada solusi, sedang tipe pecundang itu mudah bingung, galau, dan panik, serta fokus pada masalah, sehingga masalah kecil pun dianggap berat. Jadi, yang jadi masalah itu justru dirinya sendiri,” tambahnya.

Oleh karena itu, Gus Mujab menganjurkan para orang tua agar membentuk anak dengan karakter pemenang. Anak perlu dibimbing untuk menjadi pribadi yang kuat serta memiliki mental pejuang dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.

“Ada kisah sahabat nabi yang dalam Hadits Riwayat Abi Said Al Hudri diceritakan bermental bingung atau galau, lalu datang ke Masjid Nabawi, meski belum waktunya sholat. Ketika ditanya Nabi, kenapa datang sebelum waktu sholat, maka Abu Umamah yang sahabat Ansor itu mengaku bingung dan banyak utang,” tuturnya.

Sebagai penutup, Nabi Muhammad SAW mengajarkan sebuah doa agar umatnya senantiasa terlindungi dari berbagai kelemahan hidup: Allahumma inni a‘udzu bika minal hammi wal hazan, wa a‘udzu bika minal ‘ajzi wal kasal, wa a‘udzu bika minal jubni wal bukhl, wa a‘udzu bika min ghalabatid dain wa qahrir rijal.

Doa tersebut berisi permohonan perlindungan kepada Allah dari rasa gelisah dan sedih, dari sikap tidak berdaya dan malas, dari sifat pengecut dan kikir, serta dari himpitan utang dan penindasan manusia.

“Jadi, Nabi mengajarkan kita menjadi arroja’ atau mempunyai cita-cita/harapan dan action, bukan tamanni atau mempunyai harapan tapi berpangku tangan, agar tidak galau, tahu arah, tidak bingung, dan mempunyai tujuan, bahkan Al-Qur’an mengajarkan sebaik-baik ibadah adalah mencari solusi, karena menggabungkan tiga hal yakni sabar, ikhlas/pasrah, dan memohon/berharap, semua itu cara mendekatkan diri kepada Allah. Juga, perlu mengamalkan doa yang diajarkan Nabi itu pada setiap pagi dan sore/petang,” katanya.

Mengakhiri kajiannya, Gus Mujab mengutip Imam Ghazali dalam kitab “Bidayatul Hidayah” yang mengajarkan empat panduan untuk menghindari godaan dalam hidup/duniawi, karena godaan itu tidak hanya menghampiri orang biasa tapi juga tokoh/ulama, tentu dengan tingkat godaan yang berbeda.

Imam Al-Ghazali mengajarkan agar waktu dalam satu hari dibagi ke dalam empat bagian. Pertama, waktu untuk meningkatkan ilmu, yang mencakup dua jenis: ilmu untuk mengenali dan memperbaiki kekurangan diri, serta ilmu sesuai bidang keahlian, namun tetap disertai keterbukaan untuk memahami pendapat orang lain tanpa merasa paling benar. Kedua, waktu untuk berzikir, melaksanakan shalat sunnah, dan membaca Al-Qur’an. Ketiga, waktu yang didedikasikan untuk kemaslahatan orang lain, seperti membantu sesama atau berkontribusi dalam organisasi. Keempat, waktu untuk ma‘isyah, yaitu bekerja atau mencari nafkah.

“Kalau waktu dalam sehari dibagi dalam empat bagian, maka kita akan hidup secara imbang, karena sehari sudah terbagi dalam momen untuk ilmu, momen untuk ibadah, momen untuk manfaat kepada masyarakat, dan momen untuk keluarga, jadi nggak ada/sempat galau,” tuturnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

Al Yasmin Kajian KH Ahmad Mujab Muthohar Gus Mujab