KETIK, SIDOARJO – Kerinduan masyarakat Sidoarjo benar-benar tumpah. Saat edisi perdana Car Free Day berlangsung di Alun-Alun Jayandaru Sidoarjo pada Minggu (1 Februari 2026), lautan manusia memadati ruang terbuka hijau terluas di Jatim itu. Jalan-jalan sekitarnya penuh sesak. Kesiapan pelaksana menjadi evaluasi.
Evaluasi kesiapan itu terlihat, antara lain, terhadap kondisi Alun-Alun Jayandaru. Menjelang CFD mulai, kawasan alun-alun seluas 2,4 hektare itu masih tergenang air. Genangan air terlihat di area jogging track. Baik di sisi barat, selatan, maupun timur.
Di lokasi, petugas kebersihan berupaya cepat-cepat menghalau genangan air tersebut dengan sapu lidi. Namun, mereka kesulitan. Sebab, area genangan luas. Terlalu banyak air. Akhirnya sebagian genangan dibiarkan.
Genangan air meluas hingga ke jogging track di sisi selatan Alun-Alun Jayandaru. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Persoalan lain adalah kesiapan perwakilan dinas yang bertugas untuk mengamankan area car free day. Sebagian pengunjung datang sangat pagi. CFD di Alun-Alun Jayandaru dijadwalkan dimulai pukul 05.30. Faktanya, pada jam tersebut, belum banyak terlihat para petugas bersiaga sepagi itu.
Akibatnya, banyak kendaaraan bermotor yang telanjur masuk. Sepeda motor, mobil, maupun kendaraan roda tiga milik para pedagang kaki lima. Puluhan sepeda motor masih parkir dengan manis di sisi barat Alun-Alun. Beberapa mobil pun tetap stand by di Jalan Sultan Agung. Dari seberang Lapas Delta hingga Kantor DPRD Sidoarjo.
Kendaraan bermotor nekat nyelonong dan telanjur masuk sampai parkir ke kawasan car free day yang sedang berlangsung di Alun-Alun Jayandaru pada Minggu (1 Februari 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Seorang jukir tidak berseragam melayani pemilik kendaraan. Bolak-balik dia lari. Padahal, seharusnya, area tersebut bebas dari kendaraan selama CFD berlangsung. Pemilik kendaraan bermotor juga keluar-masuk. Baru setelah petugas datang dan tegas, mereka cuma bisa keluar. Tidak bisa masuk lagi. Meski memaksa, tetap ditolak.
Petugas seperti kewalahan mengatur arus lalu lintas. Kendaraan yang lewat Jalan A. Yani dialihkan ke Jalan Kombespol M. Duryat. Tapi, sebagian pemotor ngotot masuk dengan berbagai alasan. Malah ada yang melenggang santai di antara stan-stan UMKM.
Pengaturan parkir juga berubah sebagian dari konsep awal karena membeludaknya pengunjung. Semula, Jalan Sultan Agung ditutup sejak pertigaan dengan Mayjen Sungkono. Area itu direncanakan untuk parkiran. Tapi, pengendara terus menerobos masuk. Mereka parkir di dalam kantor DPRD Sidoarjo hingga ke Puskesmas Kota Sidoarjo.
Sisa sampah yang masih menumpuk di dekat Paseban Alun-Alun Jayandaru pada Minggu pagi (1 Februari 2026). (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Ada pula masalah sampah yang belum diangkut. Menjelang pukul 06.00, tumpukan sampah masih terlihat di dekat Paseban Alun-Alun Jayandaru. Sangat mengganggu pemandangan. Belum lagi sisa-sisa sampah yang berceceran di kawasan dalam Alun-Alun Jayandaru Sidoarjo.
Satu insiden juga terjadi saat seorang pelapak telanjur memajang dagangan di area jogging track. Persis di samping Paseban Alun-Alun Jayandaru. Begitu diketahui ada pedagang yang lolos masuk, empat anggota Satpol PP Sidoarjo segera mengangkut tenda penjual kopi tersebut.
”Kalau salah ya mbok dikasih tahu. Kok langsung diangkat,” gerutu anak muda pemilik lapak tersebut. Dia tidak tahu bahwa seja awal dilarang keras berjualan di area Alun-Alun Jayandaru.
Seorang jukir tidak berseragam (bertopi) membantu menata kendaraan pengunjung Alun-Alun Jayandaru parkir saat berlangsung car free day pada Minggu (1 Februari 2026). (Foto: Fathur Rozi/Ketik.com)
Kepada wartawan, Kepala Dinas Perhubungan Sidoarjo Budi Basuki menjelaskan bahwa persoalan parkir terjadi akibat oleh tumpukan kendaraan yang tidak tertampung di kantong parkir resmi. Dishub Sidoarjo berencana mengambil langkah cepat berkoordinasi bersama sejumlah instansi pemerintah di sekitar alun-alun.
Tujuannya, agar bisa memanfaatkan lahan mereka sebagai area parkir tambahan. Di antaranya, halaman DPRD Sidoarjo, lahan kosong depan Disporapar Sidoarjo dan Area Sekretariat Daerah (Setda) Sidoarjo.
”Kami akan berkoordinasi dengan instansi yang mempunyai lahan cukup luas di sekitar alun-alun. Akan kami komunikasikan agar bisa dijadikan sebagai kantong parkir untuk mengantisipasi banyaknya pengunjung,” kata Budi Basuki pada Senin (2 Februari 2026).
Budi Basuki menambahkan, lonjakan pengunjung paling ekstrem terjadi pada akhir pekan. Ketersediaan lahan parkir menjadi prioritas utama atau pekerjaan rumah (PR) besar bagi Dishub Sidoarjo.
”Kalau mengandalkan kapasitas parkir yang ada sekarang, sudah jelas tidak mencukupi,” ungkapnya. (*)
