KETIK, SIDOARJO – Hari pertama pembukaan Alun-Alun Jayandaru Sidoarjo untuk masyarakat luas menghadirkan beraneka fenomena pada Sabtu (31 Januari 2026). Saat upacara Peringatan Harjasda Ke-167 berlangsung di government area (utara), beragam perilaku kurang terpuji terjadi di public area (selatan). Beberapa sarana rusak.
Di antaranya, lapisan karet wahana lompatan untuk anak-anak mengelupas. Permukaan permainan ambrol hingga terlihat lapisan tanah di bawahnya. Lapisan warna-warni hijau, kuning, merah, dan biru yang menghiasi playing ground Alun-Alun Jayandaru itu pun bopeng.
Tutup saluran air jebol meski seharusnya terbuat dari semen yag kuat. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Kerusakan lain terlihat di belakang ruang penjaga Alun-Alun Jayandaru. Tutup saluran air yang masih baru sudah jebol. Padahal, seharusnya penutup saluran berbahan beton itu tahan beban meski diinjak sekalipun. Ternyata tulang besinya kurang kuat.
Kerusakan kecil juga terlihat pada lampu hias beraliran listrik. Ini persoalan kecil karena tidak mengganggu pengunjung. Cuma tidak elok dilihat karena sudah terjadi di hari pertama pembukaan Alun-Alun Jayandaru untuk publik. Kabel lampu hias menjuntai. Lepas dari cantolannya.
Kabel lampu hias menjuntai, lepas dari cantolannya. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Fenomena lain yang terlihat ialah tidak tertibnya pengunjung Alun-Alun Jayandaru Sidoarjo. Misalnya, ayunan untuk bocah digunakan untuk anak-anak ditumpangi oleh siswi-siswi SMP. Mereka naik bandulan itu berdua pula. Ketika diingatkan bahwa permainan itu disiapkan untuk anak-anak, mereka justru tersenyum gembira.
Ayunan untuk anak-anak dinaiki murid SMP bersama-sama. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Ada pula permainan ayunan yang malah dinaiki emak-emak. Bergantian pula mereka naik, lalu saling memotret. Disaksikan anak-anak yang rupanya juga menunggu giliran untuk naik.
Puntung rokok yang dibuang sembarangan oleh bapak-bapak. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Apalagi? Yang ini disiplin bapak-bapak. Beberapa lelaki dewasa masih terlihat merokok di area yang jelas-jelas terdapat tulisan ”No Smoking Area”. Sambil berjalan bersama istri dan sembari menggandeng lengan anak, mereka asyik mengisap rokok. Yang lebih parah lagi, puntungnya dibuang sembarangan di Alun-Alun Jayandaru.
Pedagang asongan menyelinap di antara pengunjung Alun-Alun Jayandaru. (Foto: Fathur Roziq/Ketik.com)
Pemandangan tak elok lain tampak dengan masuknya pedagang asongan dan pengamen. Pedagang asongan itu menjual kerupuk dan duduk di antara emak-emak. Padahal, ada pedagang lain yang tidak berani masuk area dalam Alun-Alun Jayandaru. Hanya berdiri di sekitar parkiran mobil untuk menawarkan air mineral. (*)
