Banda Neira, Jejak Rempah dan Sunyi Pengasingan Para Pahlawan

Belajar dari Para Guru Bangsa, Menag Nasaruddin Umar Jelajahi 5 Situs Bersejarah

17 Januari 2026 05:32 17 Jan 2026 05:32

Thumbnail Banda Neira, Jejak Rempah dan Sunyi Pengasingan Para Pahlawan

Menteri Agama, Nasaruddin Umar mendapat sambutan hangat saat baru tiba di Banda Neira. (Foto: Kemenag RI)

KETIK, AMBON – Banda Neira bukan sekadar gugusan pulau di timur Indonesia. Pada masa lampau, wilayah kecil di Kepulauan Banda ini pernah menjadi pusat rempah dunia yang diperebutkan bangsa-bangsa Eropa. Tanahnya yang harum oleh pala dan fuli menyimpan kisah kejayaan perdagangan global, sekaligus luka kolonialisme yang panjang.

Banda Neira juga mencatat bab penting sejarah Indonesia sebagai tempat pembuangan para pahlawan nasional—ruang sunyi tempat Bung Hatta dan Sutan Syahrir merajut gagasan besar tentang kemerdekaan. Pesona sejarah itulah yang hingga kini tetap hidup dan terus mengundang siapa pun untuk menengok kembali masa lalu bangsa.

Jejak sejarah tersebut kembali disapa Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Jumat, 16 Januari 2026. Di bawah langit cerah dan laut Banda yang tenang, Nasaruddin menyusuri lima situs bersejarah yang merekam perjalanan bangsa: rumah pengasingan Bung Hatta, rumah budaya Banda Neira, rumah pengasingan Sutan Syahrir, Perigi Rante, dan Istana Mini Banda Neira. Kunjungan itu tidak sekadar agenda kenegaraan, melainkan perjalanan menyentuh ingatan kolektif bangsa yang tertanam kuat di tanah rempah ini.

Langkah pertama Nasaruddin berhenti di rumah pengasingan Bung Hatta. Bangunan sederhana bercat putih itu berdiri teduh di tengah permukiman warga. Di tempat inilah, salah satu pendiri bangsa menjalani masa pembuangan oleh pemerintah kolonial Belanda. Jauh dari hiruk-pikuk pergerakan nasional, Bung Hatta justru menata pemikiran tentang kemerdekaan, persatuan, dan masa depan Indonesia.

 

Foto Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat berada di ruangan yang pernah menjadi tempat Bung Hatta menghabiskan waktu masa pembuangan dengan membaca dan menulis. (Foto: Kemenag RI)Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat berada di ruangan yang pernah menjadi tempat Bung Hatta menghabiskan waktu masa pembuangan dengan melahap ribuan buku dan menulis. (Foto: Kemenag RI)

 

Di dalam rumah itu, ruang-ruang sempit menyimpan cerita tentang keteguhan prinsip. Meja kerja sederhana dan rak buku tua seolah masih menyimpan jejak perenungan. Bagi Nasaruddin, rumah pengasingan Bung Hatta menjadi pengingat bahwa perjuangan bangsa lahir dari perpaduan kecerdasan intelektual, keteguhan iman, dan komitmen kebangsaan yang tak tergoyahkan.

Dari rumah pengasingan Bung Hatta, perjalanan berlanjut ke rumah budaya Banda Neira. Di tempat ini, denyut kebudayaan lokal terasa hidup. Alat musik tradisional, kain tenun, serta dokumentasi sejarah masyarakat Banda tersimpan rapi, merawat ingatan kolektif tentang tradisi yang diwariskan lintas generasi.

 

Foto Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat melihat warisan teks-teks klasik Banda Neira yang masih tersimpan di Rumah Budaya Banda Neira. (Foto: Kemenag RI)Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat melihat warisan teks-teks klasik Banda Neira yang masih tersimpan di Rumah Budaya Banda Neira. (Foto: Kemenag RI)

 

Nasaruddin memandang rumah budaya sebagai ruang pewarisan nilai. Baginya, kebudayaan adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dan masa depan, sekaligus ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenali jati diri dan akar sejarah mereka.

"Kita bisa belajar banyak dari apa yang telah diperjuangkan Bung Hatta sebagai wapres pertama Indonesia, serta para pahlawan lain yang juga dulu pernah diasingkan dan berproses di Banda Neira," ujar Nasaruddin seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Agama.

Tak jauh dari sana, berdiri rumah pengasingan Sutan Syahrir. Bangunan sederhana itu pernah menjadi tempat tokoh pergerakan nasional tersebut menjalani hari-hari pembuangan. Di ruang-ruang kecil itulah, Syahrir dikenal banyak membaca dan menulis, melahirkan gagasan-gagasan kritis tentang kemerdekaan dan demokrasi.

Foto Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat ditunjukkan ruangan tempat Sjahrir, tokoh sosialis dan mantan Perdana Menteri Indonesia, menghabiskan waktu untuk membaca ribuan buku dan menulis artikel kritik ke pemerintah kolonial Hindia Belanda. (Foto: Kemenag RI)Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat ditunjukkan ruangan tempat Sjahrir, tokoh sosialis dan mantan Perdana Menteri Indonesia, menghabiskan waktu untuk membaca berbagai buku dan menulis artikel kritik ke pemerintah kolonial Hindia Belanda. (Foto: Kemenag RI)

Bagi Nasaruddin, rumah pengasingan Syahrir adalah simbol kekuatan ide dan keberanian berpikir. "Sejarah mencatat bahwa kemerdekaan Indonesia juga lahir dari keberanian bersikap dan keteguhan memegang prinsip di tengah tekanan," ujarnya mengagumi sosok pahlawan bangsa pendiri Partai Sosialis Indonesia tersebut. 

Perjalanan kemudian membawa Nasaruddin ke Perigi Rante. Sumur tua itu berada di tengah permukiman warga, dikelilingi pepohonan rindang. Dahulu, perigi ini menjadi sumber air utama sekaligus ruang perjumpaan sosial. Di sinilah warga Banda Neira saling bertemu, berbagi cerita, dan mempererat kebersamaan.

Di mata Nasaruddin, Perigi Rante bukan sekadar sumber air, melainkan simbol gotong royong dan kearifan lokal. Nilai-nilai kebersamaan yang tumbuh di sekitarnya dianggap sebagai fondasi penting dalam kehidupan bermasyarakat sejak masa lampau.

 

Foto Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat menyapa warga dari Istana Mini di Banda Neira. (Foto: Kemenag RI)Menteri Agama, Nasaruddin Umar saat menyapa warga dari Istana Mini di Banda Neira. (Foto: Kemenag RI)

 

Kunjungan sejarah Nasaruddin di Banda Neira ditutup di Istana Mini Banda Neira. Bangunan ini menyimpan berbagai artefak dan foto lama yang merekam perjumpaan berbagai budaya, suku, dan agama yang telah lama hidup berdampingan di Kepulauan Banda. Dari ruang ke ruang, sejarah Banda Neira terbentang sebagai mosaik keberagaman yang terawat.

Di tempat ini pula, Nasaruddin berdialog hangat dengan warga setempat. Cerita tentang kehidupan sehari-hari, tradisi yang masih dijaga, hingga harapan akan masa depan Banda Neira mengalir tanpa sekat. Suasana berlangsung akrab, diselingi senyum dan tawa.

Dalam pertemuan tersebut, Nasaruddin mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat situs-situs bersejarah sebagai warisan bangsa.

“Mari kita rawat benda-benda, rumah-rumah, dan tempat bersejarah ini, bukan hanya untuk anak-anak kita di Banda itu sendiri, tetapi warisan untuk anak-anak kita di seluruh Indonesia,” ajaknya.

Bagi Nasaruddin, Banda Neira adalah potret Indonesia dalam skala kecil. Di pulau ini, nilai keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan tumbuh berdampingan sejak masa lalu. Keberagaman bukan sekadar slogan, melainkan warisan sejarah yang hidup dalam keseharian masyarakatnya.

Dari timur Indonesia, Banda Neira seakan mengingatkan bahwa persatuan lahir dari ingatan yang dirawat, sejarah yang dipahami, dan nilai-nilai yang terus dihidupkan. Di balik pesona lautnya yang tenang, Banda Neira menyimpan pesan penting: kemerdekaan dan persatuan tumbuh dari masa lalu yang tidak dilupakan. (*)

Tombol Google News

Tags:

Banda Neira pembuangan pahlawan nasional Wisata Sejarah Menteri Agama Nasaruddin Umar sejarah